Ada Apa dengan Persib Bandung?

Inilah masalah utama Persib Bandung di lima laga awal ISC A 2016...

“Saya tidak tahu mengapa peluang tersebut gagal menjadi gol…saya tidak tahu.”

“Padahal kami menambah latihan penyelesaian akhir dan semua berjalan normal. Saya minta maaf, saya bingung.”

Dua kutipan tersebut diucapkan oleh pelatih Persib Bandung, Dejan Antonic, menyusul hasil imbang keempat mereka di Indonesia Soccer Championship (ISC) A 2016 dari lima pekan yang sudah dilalui. Sekali lagi Persib gagal menang meski di kandang sendiri, dan sekali lagi Dejan dipertanyakan oleh Bobotoh mengenai hasil buruk yang diraih oleh Maung Bandung.

Frase “saya tidak tahu” dan “saya bingung” sejatinya haram diucapkan oleh seorang pelatih kepada publik. Ucapan itu seolah menunjukkan bahwa ia lempar handuk pada kondisi Persib dan merasa ide yang dimiliki sudah dikeluarkan sampai tak ada lagi solusi lain yang bisa disampaikan.

Ini tentu merupakan sebuah masalah besar. Apalagi bagi seorang pelatih untuk klub sebesar Persib bisa kehabisan ide ketika timnya bermain buruk setelah hanya lima pertandingan di kompetisi yang baru dimulai

Ini tentu merupakan sebuah masalah besar. Apalagi bagi seorang pelatih untuk klub sebesar Persib bisa kehabisan ide ketika timnya bermain buruk setelah hanya lima pertandingan di kompetisi yang baru dimulai.

Toh masalah terbesar Persib sebetulnya bukan di penyelesaian akhir. Masalahnya adalah ketidakmampuan mereka untuk membangun serangan dengan baik. Dan masalah ini sudah muncul sejak pekan pertama melawan Sriwijaya FC, ketika mereka hanya bisa imbang 1-1 di Si Jalak Harupat (itu pun diselamatkan gol Tantan di menit ke-92).

Sejak laga tersebut, masalah aliran serangan yang tidak benar-benar mengalir sudah terlihat. Masalahnya tetap sama: Robertino Pugliara tak mendapatkan suplai bola yang cukup untuk mengkreasikan serangan di sepertiga lapangan akhir, sementara serangan dari sayap pun macet baik karena gagal menembus pertahanan lawan atau berakhir sia-sia karena umpan silang yang buruk.

Robertino Pugliara

Aliran bola ke Robertino Pugliara terhambat dan membuat sang bintang tak bisa berbuat banyak

Betul, Persib memang beberapa kali membuat peluang bagus yang nyaris berbuah gol – peluang Tantan yang melebar dan aksi individu David Laly yang masih bisa ditepis adalah dua yang terbaik – tetapi jika ditelaah lagi, ternyata Persib hanya mencatatkan enam tendangan, lebih sedikit daripada Madura United yang mencatatkan delapan peluang.

Mengingat Persib sebetulnya tampil lebih dominan di laga ini, sedikitnya peluang yang diciptakan sang tuan rumah tentu mengindikasikan adanya kekurangan mereka dalam penciptaan peluang.

Lalu apa yang harus dilakukan Persib?

Dejan tentu semestinya tahu: masih ada masalah dalam aliran serangan mereka, dan inilah yang harus diperbaiki. Hubungan antara Kim Kurniawan, yang bermain lebih dalam, dengan Robertino Pugliara, yang bermain di belakang striker, harus diperbaiki. Robertino memang tipikal pemain yang harus mendapatkan suplai bola menjelang sepertiga akhir lapangan untuk bisa membuat peluang, dan bahwa ia masih sering kesulitan dan bahkan turun agak dalam untuk menjemput bola membuatnya tidak leluasa untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya.

Dejan Antonic

"Saya bingung..."

Artinya, aliran bola dari belakang harus diperbaiki. Satu nama yang menjadi sorotan Bobotoh saat ini adalah Kim Kurniawan, dan bahkan muncul anggapan bahwa Kim sudah menjadi ‘anak emas Dejan’ sehingga membuatnya terus dimainkan. Faktanya, dari lima pertandingan pertama ISC A 2016, Kim memang selalu bermain, bersama Hariono dan Robertino membentuk segitiga lini tengah Persib. Dan satu kemenangan serta empat hasil imbang tentu bukan hasil yang bagus dan memperlihatkan belum efektifnya pilihan Dejan ini.

Mencoba menggunakan alternatif lain selain Kim bisa menjadi pilihan, misalnya dengan Taufiq atau malah Tony Sucipto, yang bisa bermain di berbagai posisi. Dejan sendiri saat ini memang bisa dikatakan kekurangan pemain tengah yang handal selepas perginya Firman Utina ke Sriwijaya FC.

Selain itu, Dejan juga mungkin bisa mengembalikan kekuatan permainan sayap Persib yang sebelumnya menjadi andalan Maung Bandung. Mengurangi penggunaan umpan silang bisa jadi langkah pertama mengingat tidak efektifnya cara tersebut. Kekuatan pemain-pemain sayap Persib adalah kengototan mereka menembus pertahanan lawan dengan aksi individu, dan pemain-pemain seperti David Laly yang sempat memperlihatkan aksi menawan di laga melawan Madura United bisa dimaksimalkan.

Kehadiran Sergio van Dijk di lini depan Persib, meski belum terasa efeknya, semestinya bisa meningkatkan efisiensi Maung Bandung di depan gawang lawan. Penyelesaian akhir pun sebetulnya sudah diasah oleh Persib, sesuai pengakuan Dejan sendiri, ditambah dengan suntikan moral dari kemenangan telak 12-0 mereka atas Alexis FC di laga ujicoba.

Sergio van Dijk

Harapan Bobotoh agar Persib tak lagi seret gol: Sergio van Dijk

Pertandingan melawan Bhayangkara SU pada Sabtu (11/6/2016) nanti akan krusial: apakah Dejan bisa mencari jawaban atas kurang bagusnya aliran serangan Persib (dan mau mengutak-atik komposisi pemainnya) atau memang sudah benar-benar kehabisan ide untuk melakukan sesuatu. Jika Persib harus gagal menang lagi dan Persib tak bermain meyakinkan lagi (dan Dejan membicarakan wasit lagi), jangan heran jika teriakan “Dejan ganti!” akan terdengar lagi.

Lebih banyak feature setiap harinya di FFT.com

Foto: Dokumentasi PT. GTS