Adu Penalti ABBA: Aturan Baru FA yang Justru Membuat Adu Penalti Tidak menarik

FA mulai menguji coba aturan baru adu penalti pada Community Shield lalu. Arief Hadi berharap aturan ini tidak akan diberlakukan secara permanen di sepakbola. Ini penyebabnya...

Dunia selalu berkembang, dan begitu juga sepakbola. Perkembangan itu bisa kita lihat dari berbagai aspek; ekonomi klub, teknologi yang mulai banyak diaplikasikan, penggunaan statistik, hingga, tentunya, penerapan regulasi-regulasi anyar untuk membuat sepakbola semakin menarik dan mengurangi masalah-masalah kontroversial di dalamnya.

Salah satu contohnya adalah seringnya pemain melakukan diving untuk memberi keuntungan kepada timnya, yang membuat wasit sering tertipu dengan aksi nakal pemain, sebelum ia menyesali keputusannya pasca melihat tayangan ulang. FA (Football Association) di Inggris mengkaji masalah itu dan memberlakukan kebijakan hukuman dua larangan bertanding bagi pemain yang melakukan diving, berlaku mulai musim ini.

Itu baru contoh satu regulasi yang ingin diubah ke depannya. Saat ini, penerapan teknologi juga berperan aktif dalam membantu wasit menjalankan pertandingan, misalnya spray yang digunakan saat situasi bola mati langsung di muka gawang lawan, penerapan tayangan ulang video (VAR) yang tengah diuji saat ini, hingga teknologi garis gawang.

Kini, memasuki musim 2017/18, ada penerapan regulasi unik yang diuji FA di ajang Community Shield pada laga Chelsea kontra Arsenal. Peraturan itu dikenal dengan nama ABBA – tentu ini bukan merujuk pada grup pop legendaris asal Swedia. ABBA bukan singkatan, melainkan urutan penendang di drama adu penalti.

Jika sebelumnya di drama adu penalti penendang masing-masing tim bergantian mengeksekusi bola dengan format penendang A (tim 1), diikuti penendang B (tim 2), lalu penendang A, dan seterusnya, maka di Community Shield akhir pekan lalu, diterapkan aturan adu penalti ABBA, di mana penendang tim A akan memulai adu penalti, dan kemudian dilanjutkan dengan penendang dari tim B, lalu sekali lagi penendang dari tim B namun dengan eksekutor yang berbeda, kemudian baru dua penendang berbeda dari tim A, dan seterusnya.

Aturan itu pun sudah diuji di Community Shield 2017, karena (kebetulan) laga Chelsea kontra Arsenal di Stadion Wembley berakhir imbang 1-1 di waktu normal. Tak ada babak tambahan, laga pun berlanjut ke drama adu penalti. Pertama, Gary Cahill menjadi eksekutor pertama Chelsea dan sukses menjebol gawang Petr Cech, sebelum Theo Walcott menyamakannya dengan skor 1-1. Nah, di sinilah perubahan ini mulai terlihat, ketika bek Arsenal, Nacho Monreal, maju menjadi eksekutor ketiga (atau kedua dari timnya) dan menambah keunggulan Arsenal menjadi 2-1.

Thibaut Courtois sudah merasakan dampak adu penalti ABBA akhir pekan kemarin

Pasca Monreal mengeksekusi penalti, giliran dua pemain Chelsea berikutnya yang mengambil penalti. Sayang, Thibaut Courtois dan Alvaro Morata gagal mengoyak gawang Cech. Kegagalan keduanya pun dimanfaatkan baik Alex Oxlade-Chamberlain dan Olivier Giroud yang mengamankan kemenangan 4-1. Arsenal mengukir sejarah sebagai tim pertama yang memenangi Community Shield dengan adu penalti ABBA, persis seperti lagu ABBA “The Winner Takes It All.”

Dampak Peraturan ABBA

FA tentu punya alasan ingin mencoba aturan adu penalti yang baru ini. IFAB, badan yang bertanggung jawab membuat perubahan pada Laws of the Game, sudah membahasnya dalam rapat besar tahunan mereka pada Maret lalu. Salah satu anggota IFAB, Stewart Regan yang juga merupakan ketua asosiasi sepakbola Skotlandia, menjelaskan mengapa perubahan sistem adu penalti diperlukan sepakbola, “Statistik saat ini menunjukkan bahwa 60 persen adu penalti dimenangkan oleh tim yang mengeksekusi penalti pertama. Kami meyakini bahwa pendekatan ABBA akan menghilangkan bias statistik ini.”