Kisah

Aksi Mata-Mata dan Kegilaan lain Marcelo Bielsa

Di antara semak-semak sekitar kamp latihan Derby County, Moor Farm, dua orang pria tengah melancarkan aksi mencurigakan. Salah seorang di antaranya menenteng sebuah tang, seorang lagi memegang teropong. Tang mereka gunakan untuk memotong pagar pembatas, sedangkan teropong, well, untuk meneropong.

We are part of The Trust Project What is it?

Namun, aksi dua orang tersebut tak berlangsung begitu lama lantaran pihak kepolisian Derbyshire menciduk mereka. Usut punya usut, dua orang itu ternyata merupakan staf kepelatihan Leeds United. Saat itu mereka tengah ditugasi untuk melakukan mata-mata terhadap detail latihan Derby County, tim yang memang menjadi lawan Leeds dua hari setelahnya.

Siapa yang memberi tugas? Marcelo Bielsa, pelatih Leeds.

Kecuali memotong pagar pembatas, sebetulnya tak ada yang bisa disebut sebagai pelanggaran hukum, termasuk aksi mata-mata tadi. Karena itulah kepolisian Derbyshire langsung melepaskan mereka. Frank Lampard juga sepakat soal ini. Ia mengakui bahwa tak ada hukum yang dilanggar. Namun, di sisi lain ia merasa sangat dirugikan. Pelatih Derby County itu marah dan mengecam keras tindakan Bielsa.

“Pada level sportivitas, itu hal buruk. Bila kita berbicara soal budaya dan mengatakan bahwa saya melakukan hal demikian di tempat lain dan itu baik-baik saja, saya tidak akan memercayainya,” tutur Lampard merespons pengakuan Bielsa yang mengatakan bahwa ia biasa melakukan aksi mata-mata serupa di Argentina.

“Itu mengganggu persiapan kami dalam pertandingan. Orang-orang mungkin akan menyebut saya mencari-cari alasan, tetapi saya akan tetap berbicara seperti ini. Entah kami menang, seri, atau kalah,” katanya lagi.

Laga yang mempertemukan dua pelatih beda generasi ini sendiri pada akhirnya dimenangkan pasukan Bielsa dengan skor 2-0. Seiring dengan itu, kecaman kepadanya terus berdatangan. Kali ini tak hanya dari Lampard, tetapi juga dari banyak pihak lain, termasuk FA yang kabarnya membentuk tim khusus untuk melakukan investigasi.

Bielsa sendiri, sementara itu, sudah menyampaikan permohonan maaf sekaligus mengakui bahwa yang ia lakukan tak etis melalui sesi press conference. Meski begitu, ia menolak untuk menyebut bahwa apa yang ia lakukan adalah hal yang salah. Ia bahkan justru memaparkan metode mata-matanya secara rinci dan menyebut itu sebagai salah satu bagian persiapan taktiknya selama ini.

“Mengenai apa yang saya lakukan, hal itu tidak ilegal. Itu tidak diatur dan tidak dikekang,” kata mantan pelatih Marseille ini. “Kita bisa membahasnya. Itu tidak dilihat sebagai hal yang baik, tetapi itu juga bukan hal yang melanggar apapun. Dari setiap lawan, kami memang selalu menyaksikan pertandingan mereka pada musim 2018-19 ini. Kami juga menyaksikan 51 pertandingan Derby County. Analisis pada setiap laganya membutuhkan waktu hingga empat jam kerja.”