Alasan-Alasan Mengapa PSM Makassar Mungkin Bisa Menjuarai Liga 1 2017

Setelah menunjukkan tanda-tanda kebangkitan di ISC A 2016 lalu, PSM Makassar terlihat seperti terlahir kembali di Liga 1 2017 ini. Apakah prestasi tahun 2000 lalu akan terulang?

Foto utama: PSM Makassar

Sejak berdiri pada tahun 1915 silam, PSM Makassar sepertinya hanya mempunyai satu takdir dalam kehidupan mereka: menjadi salah satu klub terbesar di Indonesia. Benar saja. Selain saat ini sudah bertahan lebih dari satu abad lamanya, Juku Eja, julukan PSM Makassar, juga berhasil mengumpulkan sejumlah gelar bergengsi ke dalam lemari trofi mereka.

Dari tahun 1957 hingga tahun 1966, PSM adalah rajanya Liga Perserikatan. Dalam kurun waktu sekitar sembilan tahun itu, PSM berhasil menggondol empat gelar Perserikatan. Mengandalkan Ramang, jimat mereka, PSM terlalu sering membikin lawan-lawan mereka meringis kesakitan. 

Sejak saat itu, hegemoni PSM di Liga Perserikatan memang sempat dirusak oleh Persib Bandung, PSMS Medan, hingga PSIS Semarang pada tahun 70-an hingga akhir tahun 80-an. Namun pada tahun 1992 lalu saat, sekali lagi berhasil meraih gelar Perserikatan, PSM berhasil kembali lagi ke tempat di mana mereka seharusnya berdiri. Dan saat Liga Perserikatan dan Liga Galatama dilebur menjadi satu, menjadi Liga Indonesia pada tahun 1994 lalu, nama PSM Makassar sepertinya sudah terlalu sulit untuk disingkirkan dari daftar tim yang menjadi kandidat kuat juara liga di dalam setiap musimnya. Setidaknya hal ini bertahan hingga lebih dari satu dekade sejak awal berlangsungnya liga Indonesia.

PSM dan Persib bertemu di semifinal Perserikatan 1991/92. (Foto: Twitter @suporter_psm)

Dari tahun 1996 hingga tahun 2006 lalu, PSM Makassar selalu lolos ke babak 8 atau 10 besar liga Indonesia, dua kali menjadi semifinalis, empat kali menjadi runner-up, dan sekali meraih gelar juara liga. Gelar itu sendiri berhasil digenggam di Liga Indonesia musim 1999/2000. Saat itu, bersamaan dengan didiskualifikasinya Lance Armstrong dari kejuaraan balap sepeda dunia, Toure de France, PSM Makassar berhasil mengalahkan PKT Bontang 3-2 di pertandingan final liga yang menegangkan. Kurniawan, penyerang flamboyan PSM, berhasil mencetak dua gol pada pertandingan itu, sedangkan satu gol lainnya dipersembahkan oleh Rachman Usman.  

Sayangnya, setelah berhasil menembus babak delapan besar liga Indonesia tahun 2006 lalu, PSM Makassar sepertinya mulai menapaki jalan yang salah. Prestasi mereka merosot drastis, dari tim langganan papan atas menjadi tim pelengkap di papan tengah. Bahkan mereka sempat berjuang keras untuk lolos dari jeratan degradasi pada tahun 2010 lalu. Selain itu, mereka juga sempat "diasingkan" oleh tim-tim besar lainnya karena justru memilih berkompetisi di Liga Primer Indonesia pada tahun 2011 lalu. Sejak saat itu, PSM tak lagi disegani. Nama besar mereka mulai dilupakan. Mereka juga ditinggalkan oleh pemain-pemain bintang.

Meski begitu, karena takdir memang tidak menginginkan PSM Makassar eksis dengan cara seperti itu, kehidupan mengenaskan PSM tersebut tidak bertahan lama. Mereka berhasil kembali mencuri perhatian saat tampil ciamik di putaran kedua Indonesia Soccer Championship tahun 2016 lalu. Dan kini, mereka untuk sementara juga berhasil nangkring di peringkat pertama Liga 1, sebuah kompetisi paling bergengsi di negeri ini. Gelar juara Liga 1 pun bukan sesuatu yang mustahil untuk mereka raih. Lalu, apa rahasia di balik kebangkitan mereka saat ini?