Alasan Cesare Prandelli rugi jika tak membawa Totti ke Brasil pada musim panas ini

Richard Whittle menjelaskan mengapa sebaiknya pahlawan Roma ini tak ditinggal oleh timnas Italia ke Piala Dunia ...

Cesare Prandelli tak perlu memanggil Francesco Totti buat tes kebugaran pra-Piala Dunia timnas ITalia pada pekan ini. Pelatih Azzurri ini seharusnya sudah cukup melihat bahwa legenda Roma ini sangat siap buat bermain di Brasil pada musim panas tahun ini.

Dalam turnamen yang akan menentukan bagaimana orang akan mengenang karier Prandelli, dia tak bisa meninggalkan pemain paling berpengaruh dalam sepak bola Italia. Bahkan, dia seharusnya membangun tim dengan sang konduktor master sebagai porosnya seperti yang dilakukan Rudi Garcia di level klub pada musim ini.

Dengan memberikan Totti kebebasan bermain di baris depan atau naik lebih dalam buat membawa gelandang lebih aktif dalam permainan, itu bukan izin seenaknya bergerak tapi sebenarnya peran yang sudah disiapkan yang mengatur tempo permainan Roma. Sebuah gerakan yang diatur dengan seksama yang memastikan tim berfungsi dengan mulus yang dicontohkan dengan sempurna pada kemenangan spektakuler 3-1 atas Atalanta yang menjadikannya il settobello: kemenangan ketujuh berturut-turut dalam upaya mengejar Juventus di puncak klasemen.

Berpengaruh besar

Sang kapetn terlibat dalam setiap gol itu --pilihan sontekan sempurna ke area penalti buat Daniele De Rossi (yang juga menemukan performanya kembali tepat menjelang Piala Dunia)--  dalam membangun umpan buat Adem Ljajic yang menghasilkan gol kedua. Sebuah umpan terobosan ke Rodrigo Taddei jadi gol pertama, sebelum tendangan tumit khas Totti menemukan Ljajic yang mengantar Gervinho mencetak gol ketiga.

Kenapa harus berlari kian kemari selama 90 menit kalau bisa membaca permainan dua kali lebih cepat dari pemain lainnya? Dia memang tidak lagi berlaga di ajang internasional sejak Piala Dunia 2006 atau di Eropa sejak 2012, tapi jika Totti sedang bagus maka di ajang apapun dia tetap sulit ditandingi.

Di kampung halaman Joga Bonito, di mana estetika permainan juga diperhitungkan sama seperti hasilnya, kehadiran Er Pupone akan menaikkan peluang Italia sebagai salah satu tim yang layak tonton di turnamen itu. Tim Azzurri akan masuk ke grup berat bersama Inggris, Uruguay, dan Kosta Rika dan sadar bahwa laga pembuka melawan pasukan Roy Hodgson akan mempengaruhi rasa percaya diri mereka selanjutnya. Tapi bayangkan saja tim Italia di mana Andrea Pirlo memainkan “umpan buta” khasnya  kepada rekan satu timnya di Piala Dunia 2006, yang gerakan tumitnya memperdaya pertahanan sehingga Mario Balotelli atau Giuseppe Rossi bisa menyelesaikan pergerakan itu.

Tak memasukkan Totti ke skuad akan selalu menimbulkan pertanyaan apa yang akan terjadi jika dia ikut serta, tapi Pirlo akan ada di sana mengatur pergerakan bola di lapangan tengah dan juga pemain berusia kepala tiga lainnya dalam bentuk Gianluigi Buffon menjadi palang terakhir dalam barisan pertahanan yang semuanya dari Juventus.

Tumpul di ujung tombak

Masalah terkini Italia ada di ketiga penyerangnya. Sejak lolos babak kualifikasi, mereka cuma mencetak toga gol --dua ke gawang Nigeria dan satu ke jala Jerman, sebelum tak produktif dalam kekalahan 1-0 dari Spanyol dalam laga terakhirnya.

Sejak 1990-an, Italia selalu membawa setidaknya dua fantastisti ke turnamen besar, baik Roberto Baggio dan Gianfranco Zola pada 1994 atau Totti dan Alessandro Del Piero pada 2006. Pada kedua kesempatan itu, mereka sampai ke final: yang pertama menangis yang kedua berjaya.

 

Ketika Prandelli melihat siapa yang dipunyainya buat mengisi peran No.10, hanya ada sedikit yang bisa bikin lawan jantungan. Tapi pada Totti, dia punya pemain yang bisa mengubah arah pertandingan dalam sekejap, atau lebih penting lagi, memberi rasa percaya diri kepada timnya yang bisa mendatangkan keajaiban dalam babak selanjutnya. Marcelo Lippi tahu itu menjelang Piala Dunia 2006, saat dia menunggu hingga waktu terakhir buat melihat kebugaran Totti, lalu memanggilnya meski ada pelat besi di pergelangan kakinya yang remuk.

Meski dia tak bermain 90 menit dalam setiap pertandingan, dia masih jadi figur penting buat timnya dan penalti pada menit terakhir mengirim Italia ke perempat final dengan Australia menjadi korbannya. Secara tradisi, dalam situasi seperti itulah Azzurri jadi makin kuat --yang semakin menguatkan alasan membawa Totti.

.

Kali ini Prandelli disibukkan oleh Antonio Cassano yang penuh ketidakpastian bisa dibawa atau tidak namun menyombongkan lebih sedikit pelat besi dari Totti, karena dia nampak bugar setelah pulih dari cederanya. Alessandro Diamanti bermain di Cina dan Sebastian Giovinco menjaga bangku cadangan di Juventus. Kalau dia memainkan pola 4-3-3 seperti Roma, maka Totti masuk dengan sempurna buat peran trequartista di belakang Balotelli dan Giuseppe Rossi yang seperti menang dalam pertempuran melawan masalah kebugarannya.

Seperti di Roma di mana De Rossi berpadu baik dengan Miralem Pjanic dan Radja Nainggolan, yang mengambil posisi lowong yang ditinggalkan Kevin Strootman yang cedera, wakil kapten Roma ini akan membangun pergerakan bersama Pirlo dan Claudio Marchisio, Riccardo Montolivo, atau Andrea Candreva.

Memang ada banyak pemain berbakat yang tersedia di sektor gelandang, tapi yang dibutuhkan Italia adalah tambahan tipu daya yang hanya bisa diberikan oleh Totti. Sudah sejak lama dia emastikan tempat di jajaran pemain terbaik Italia, tapi baru-baru ini dia memecahkan banyak rekor yang membuat dia jadi pemain Italia paling berbakat pasca-Perang Dunia II. Statistik pribadinya saja sudah mencengangkan: pencetak gol terbanyak kedua di Serie A yakni 234 kali dan total 288 gol di berbagai kompetisi yang membuat di hanya tertinggal dari Del Piero sebagai pemain yang mencetak gol terbanyak buat satu klub. Semua itu dicapai dalam karier selama dua dekade yang dimulai sebagai pemain 16 tahun pada 1993.

Mantan manajer Roma, Zdenek Zeman, pernah ditanya siapa tiga pemain Italia terbaik menurut dia yang dijawabnya: “Totti, Totti, dan Totti.” Itu masih berlaku hingga kini dan inilah alasan Prandelli akan rugi kalau tidak membawanya.