Kisah

Alessandro Lucarelli: Kesetiaan Kapten dan Legenda Sejati Parma Calcio

Perjalanan penuh perjuangan Parma Calcio untuk kembali ke Serie A tidak mudah. Tapi semuanya terwujud di bawah kendali sang kapten Alessandro Lucarelli. Berikut kisah perjalanan karier Alessandro di dunia sepakbola Italia...

We are part of The Trust Project What is it?

Awan gelap menyelimuti langit kota Parma sesaat pengadilan Italia membacakan keputusan berdurasi 10 menit yang menyatakan klub kebanggaan kota di utara Italia tersebut telah bangkrut. Tepatnya tanggal 19 Maret 2015, Parma FC dinyatakan bangkrut dan diberikan dua opsi agar bisa terus berkompetisi. Opsi pertama, mereka harus mendapatkan pemilik baru sekaligus membayar hutang atau opsi kedua, didegradasi ke Serie D dan mengganti nama klub.

Dan dengan berat hati, Parma memilih opsi kedua.

Kejayaan Parma di dekade 90an dalam sekejap terlupakan. Klub yang sempat menjadi anggota grup elit klub Serie A bertajuk Il Sette Magnifico (The Magnificent Seven) harus menelan pil pahit setelah diwajibkan memulai musim 2015/16 di Serie D, divisi yang bahkan masuk ke dalam kategori non-profesional dalam struktur sepakbola Italia. 

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya tim di Serie A dinyatakan bangkrut dan terpaksa terdegradasi. Sebelumnya ada Fiorentina (2002), Napoli (2004), dan Siena (2014). 

Mengetahui Parma harus terdegradasi, banyak pemain yang memilih pindah seperti Mattia Cassani, Gabriel Paletta, Jose Mauri, dan Antonio Cassano yang terlebih dahulu meninggalkan klub yang siap karam itu pada bursa transfer Januari 2015. Tidak salah jika para pemain tersebut memutuskan pindah kalau mengingat gaji mereka belum dibayar sejak awal musim. 

Namun dari banyak pemain, ada satu pemain yang dengan segenap hati mengucapkan janji bahwa dirinya akan membawa mereka kembali ke divisi yang paling pantas untuk tim penuh sejarah seperti Parma. Dia adalah Alessandro Lucarelli, pemain bertahan sekaligus kapten Parma.

Bocah dari Kota Komunis

Alessandro Lucarelli lahir pada 22 Juli 1977 di sebuah kota pelabuhan bernama Livorno, kota yang terkenal dengan bangunan gereja tua, benteng tua dan paham komunisme. Ya, komunisme di Italia memang lahir di kota ini. Termasuk partai Komunis Italia yang didirikan pada 1921.

Menjalani masa kecil bersama sang kakak, Cristiano Lucarelli, hidupnya dipenuhi dengan bermain sepakbola dan tinggal di kawasan kelas pekerja. 

"Saya menghabiskan masa kecil di jalanan bersama adik saya, Alessandro, sambil bermain sepakbola dari pagi hingga malam. Kami selalu pulang ke rumah dengan kecapekan dan baju serta sepatu kami rusak semua," jelas Cristiano tentang masa kecilnya. 

Sebagai anak asli Livorno, Cristiano memandang paham komunisme sebagai pedoman hidup. Secara terang-terangan ia mempresentasikan komunisme di luar lapangan dan juga di dalam lapangan. Nama Cristiano menjadi terkenal sejak berkarier di Livorno pada 2003 silam. Selama kariernya di sana, ia sempat terpilih masuk ke dalam tim nasional dan menjadi topskorer Serie A musim 2004/05. 

Namun tidak dengan Alessandro. Ia memilih jalan yang berbeda dari saudara kandungnya. Alessandro memulai karier profesionalnya di Piacenza pada 1996. Sempat dipinjamkan ke Leffe, ia merasakan naik turun divisi dari Serie B ke Serie A dan kembali lagi ke Serie B selama enam musim di sana. 

Setelah menjalani 100 penampilan bersama Piacenza, Alessandro pindah ke Palermo di Serie B pada 2002. Dan dalam enam musim selanjutnya, ia berpindah-pindah klub sebanyak lima kali. Dari Brescia, Fiorentina, Livorno, Reggina hingga Genoa. Kemudian pada pertengahan 2008 datanglah tawaran dari Parma yang masih bergelut di Serie B. Dan di sanalah perjalanan Alessandro Lucarelli menjadi legenda dimulai.