Wawancara

Alfred Riedl: "Target Saya Sendiri Adalah Lolos Hingga Final Piala AFF"

Indonesia akhirnya memiliki pelatih terbaru setelah FIFA melepaskan sanksinya. Nama dan wajahnya tidak asing lagi bagi kita karena sudah pernah menukangi timnas senior Indonesia sebelumnya. Kontributor FFT kami, John Duerden berkesempatan berbincang-bincang santai dengan dirinya...

We are part of The Trust Project What is it?

Mudah uuntuk mengagumi semangat Leicester City dan kesuksesan mereka meraih gelar Premier League Inggris 2016 hanya satu tahun setelah mereka nyaris terdegradasi. Tetapi jika ada negara yang pantas bangkit dari keterpurukan untuk meraih sesuatu yang spesial, negara itu pastilah Indonesia.

Rangkaian masalah dan ketidakberuntungan yang dirasakan oleh fans negara ini, yang tak pernah berhenti bergairah akan sepakbola, akan membuat pengalaman nyaris degradasi The Foxes terlihat bukan masalah besar.

Daftarnya memang panjang: ketua PSSI masuk penjara karena korupsi, perselisihan politik yang mungkin tak terbayangkan oleh orang-orang Eropa, liga tandingan, timnas tandingan, dan PSSI tandingan, hingga para pemain asing sakit atau bahkan meninggal karena gaji yang tak dibayar.

Tidak hanya itu, pada Mei 2015, FIFA menjatuhkan sanksi larangan berpartisipasi di sepakbola internasional karena intervensi yang terjadi di sepakbola Indonesia. Hal ini membuat klub-klub ditendang dari kompetisi Piala AFC dan tim nasional dicoret dari kualifikasi Piala Dunia 2018 dan Piala Asia 2019.

Sanksi itu baru dicabut pada Mei lalu dan sekarang adalah waktunya untuk bekerja keras. Konsekuensinya, bukan kejutan jika PSSI kemudian berpaling pada pelatih Alfred Riedl. Pelatih asal Austria ini memimpin untuk ketiga kalinya sebagai pelatih tim nasional, pekerjaan yang tidak pernah mudah – bahkan lebih berat daripada pekerjaannya sebelumnya.

Tim Merah Putih belum pernah memainkan pertandingan sejak Maret 2015. Masukkan faktor ketiadaan kompetisi selama nyaris setahun dan tantangan Indonesia saat berpartisipasi di AFF Suzuki Cup November nanti akan sangat besar.

PSSI tidak memberikan saya target, target saya sendiri adalah lolos hingga final Piala AFF.

“PSSI tidak memberikan saya target,” kata Riedl kepada FourFourTwo. “Target saya sendiri adalah lolos hingga final Piala AFF.”

Indonesia tak pernah memenangkan trofi ini. Kebanyakan orang akan memilih Thailand, Singapura, Vietnam, dan bahkan Filipina sebagai tim-tim yang lebih berpeluang.

Leicester punya peluang 5.000-1,” kata Riedl. “Kami bisa saja mencapainya meski saya belum punya gambaran seperti apa skuat kami nanti. Ketika kami bisa memiliki kemauan yang kuat dan disiplin, maka kami bisa menjadi tim seperti Leicester.”

“Para bintang mereka baru terlihat ketika musim berjalan. Mereka tak punya bintang di awal musim, tetapi Anda bisa melihat bagaimana para pemain terus mengalami peningkatan performa dan menjadi bintang. Itulah yang harus kami lakukan.”

Karier pertama Riedl di Indonesia berakhir di tengah-tengah kekisruhan politik pada Juli 2011 setelah hanya setahun lebih sedikit. Ia kembali pada Desember 2013 dan bertahan selama 12 bulan.”

“Saya sangat gembira dan cukup bangga mereka memilih saya lagi. Federasi pasti percaya pada saya. Mereka berpikir saya seorang professional dan berpengalaman dan tahu situasi di sini. Saya dua kali di sini dan pernah dengan klub juga.”

Lebih banyak feature setiap harinya di FFT.com

Alfred Riedl Tonton Gresik United Kontra PSMS Medan