Analisis: 3 Hal yang Harus Dilakukan Indonesia di Leg Kedua Final Piala AFF 2016

Kelahiran, kematian, dan pajak merupakan kepastian yang ada di dunia ini. Namun sepanjang gelaran AFF Suzuki Cup 2016, ada satu hal lain yang juga dapat dipastikan: saat mempunyai kesempatan untuk melakukan serangan, timnas Indonesia bisa menyakiti siapa pun – termasuk Thailand, tim paling fenomenal di Asia Tenggara.

Pada malam yang basah di Stadion Pakansari, Bogor, tepatnya dalam pertandingan leg pertama final AFF Suzuki Cup 2016, Thailand benar-benar menunjukkan kelasnya sebagai tim terbaik di Asia Tenggara. Sepanjang babak pertama hingga menit-menit awal babak kedua, anak asuh Kiatisuk Senamuang tersebut terlihat fasih mengajarkan pemain-pemain Indonesia bagaimana caranya bermain bola dengan benar.

Umpan-umpan segitiga pemain-pemain Thailand terus mengalir di setiap jengkal lapangan, dan otak para pemain Thailand mampu bekerja lebih cepat daripada otak pemain-pemain Indonesia.

“Saat bermain sepakbola, Anda tidak perlu terlalu sering belari. Anda hanya perlu berada di posisi yang tepat dalam momen yang tepat. Tak boleh terlalu cepat atau terlalu lambat,” begitu kata mendiang Johan Cryuff pada suatu waktu, dan pemain-pemain Thailand mampu melakukannya dengan sangat baik.

Berbagai cara digunakan Indonesia untuk menghambat laju Thailand tersebut. Sesekali, Indonesia bertahan mendalam layaknya Inggris saat dibombardir oleh pasukan udara Jerman pada Perang Dunia Kedua. Di kesempatan lainnya, pemain-pemain Indonesia, layaknya pasukan Sparta, melakukan pressing secara intens. Tetapi cara tersebut ternyata tidak cukup manjur: Thailand bahkan mampu unggul lebih dulu melalui sundulan Teerasil Dangda, kapten sekaligus jimat Thailand, pada menit ke-33.

Berada di atas angin, Thailand tampak semakin mendominasi jalannya pertandingan. Umpan-umpan Sarach Yooyen, gelandang bertahan Thailand, semakin susah diprediksi. Pergerakan Chanathip Songkrasingsukar dikendalikan oleh gelandang-gelandang Indonesia. Dan Thailand seperti tinggal menunggu waktu untuk membunuh jalannya pertandingan.

Lalu di tengah rasa percaya diri yang membumbung tinggi, tiba-tiba Theeraton Bunmathan, full-back kiri Thailand, melakukan kesalahan umpan. Bola yang dilambungkannya ke tengah lapangan justru mengarah ke Rizky Pora, sayap kiri Indonesia.

Pemain Barito Putera tersebut kemudian melaju dengan cepat, melewati terjangan tekel Sarach Yooyen. Mendapatkan ruang tembak yang cukup menguntungkan, Rizky kemudian melakukan tembakan jarak jauh. Bola menghantam Tristan Do, berbelok arah. Kawin Thammasatchanan, kiper Thailand, yang sebetulnya sudah berada di posisi yang tepat bila bola tak terdefleksi, tak bisa berbuat apa-apa ketika bola masuk ke dalam gawang yang dijaganya.

Satu-satunya serangan berbahaya dan satu-satunya tembakan tepat sasaran yang dilakukan Indonesia hingga menit ke-65 berhasil menjadi gol penyeimbang. Selain berhasil meruntuhkan kepercayaan diri para pemain Thailand, gol tersebut juga berhasil mengubah arah angin kemenangan.

Bagaimana tidak, lima menit setelah gol tersebut, saat pemain-pemain Thailand masih sibuk meratapi nasib buruk mereka, Indonesia berhasil membalikkan keadaan melalui sundulan Hansamu Yama Pranata, bek tengah Indonesia, memanfaatkan tendangan sudut yang dilakukan Rizky Pora. Indonesia berhasil mencetak dua gol melalui dua tembakan tepat sasaran yang mereka lakukan hingga menit ke-70 – dua gol tersebut kemudian benar-benar menghantam jantung para pemain pemain Thailand.

Thailand memang masih mampu menguasai jalannya pertandingan setelah dua gol tersebut, tetapi itu merupakan dominasi semu. Mereka sebenarnya sudah kehilangan arah setelah selebrasi yang dilakukan oleh Hansamu Yama bersama para penggemar Indonesia, baik yang berada di Pakansari maupun yang berada di depan layar kaca.

Saat wasit asal Jepang, Lida Jumpei, kemudian meniup peluit panjang sebagai tanda pertandingan telah bubar, Gajah Perang, julukan Thailand, kalah perang untuk pertama kalinya dalam gelaran Piala AFF 2016.

Yang kemudian menjadi pertanyaan: apa yang harus dilakukan Indonesia agar bisa tetap mempertahankan keunggulan di Bangkok nanti?

Mempertahankan efektivitas serangan

Selain kinerja lini belakang yang terus membaik, Indonesia juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan menyoal penyelesaian akhir. Bagi tim paling berbahaya di Piala AFF 2016 sejauh ini, itu merupakan sebuah pencapaian yang melegakan.

Pada putaran grup, Indonesia berhasil melakukan 21 tembakan yang mengarah tepat sasaran di mana enam di antara berbuah menjadi gol. Itu berarti, Indonesia setidaknya membutuhkan lebih dari tiga kali tembakan tepat sasaran untuk mencetak satu gol. Tentu saja itu merupakan sebuah pencapaian yang tidak mengecewakan.

Menariknya, dalam tiga pertandingan terakhir, dua pertandingan semifinal dan satu pertandingan final, Indonesia justru semakin efektif dalam memanfaatkan setiap peluang yang dimilikinya. Dalam tiga pertandingan tersebut, Indonesia hanya membutuhkan 11 kali tembakan tepat sasaran untuk mencetak enam gol. Itu berarti, tak sampai 2 tembakan tepat sasaran yang dilakukan pemain-pemain Indonesia berhasil menjadi gol.

Mengingat Indonesia akan banyak bertahan di Bangkok nanti, kemampauan Indonesia dalam mengonversi setiap peluang yang dimilikinya tentu saja akan menjadi modal yang sangat berharga.