Analisis: Apa yang Membuat AS Monaco Begitu Kuat Musim Ini

Kejutan besar dibuat AS Monaco di Ligue 1 dan Liga Champions musim ini dengan performa luar biasa mereka. Tapi apa yang sebenarnya membuat mereka begitu kuat musim ini?

Satu dekade lalu, empat tiket semifinal Liga Champons diisi oleh klub-klub yang, dengan kekuatan tim mereka saat itu dan bagaimana tren performa mereka dalam beberapa tahun sebelumnya, tidak akan membuat semua orang terkejut dengan prestasi mereka. AC Milan, yang kemudian keluar menjadi juara edisi 2006/07 adalah juara edisi 2003 dan finalis 2005, Chelsea menginjakkan kaki di semifinal ketiga mereka setelah 2004 dan 2005, Manchester United berada di ambang juara Premier League, sementara Liverpool yang dikalahkan Milan di partai final adalah juara musim 2004/05. Empat tiket semifinal bisa dikatakan diraih oleh tim-tim yang difavoritkan banyak orang.

Saat itu, mengalahkan atau menyingkirkan tim-tim bernama Manchester City dan Borussia Dortmund mungkin tidak akan dianggap sebagai sebuah prestasi luar biasa. Faktanya, ketika itu kedua tim bahkan tidak berkompetisi di kompetisi terelit antar klub Eropa; Dortmund hanyalah tim yang finis di posisi 9 Bundesliga Jerman, sementara Manchester City hanya duduk di posisi 14 Premier League. Tim Jerman itu baru berjaya kembali di musim 2010/11 saat mereka menjadi juara Bundesliga, sedangkan City menjadi juara Premier League semusim setelahnya. Betapa besar perubahan telah terjadi dalam satu dekade terakhir.

Ya, peta kekuatan Eropa sudah banyak berubah sejak abad ini memasuki dekade kedua. La Liga tak melulu bicara soal Real Madrid dan Barcelona, ada Atletico Madrid yang akhirnya menggoyahkan dominasi dua raksasa dengan meraih gelar juara liga ke-10 pada musim 2013/14 dan menembus final Liga Champions sebanyak dua kali (2013/14 dan 2015/16), City kembali meraih juara Premier League edisi 2013/14 dan melangkah ke semifinal Liga Champions untuk pertama kalinya pada musim lalu. Sementara Dortmund mempertahankan gelar juara Bundesliga mereka pada musim 2011/12 serta menjadi finalis kompetisi Kuping Besar setahun berselang. 

Lalu, kini ada AS Monaco. Klub Ligue 1 ini mengejutkan banyak orang dengan kesuksesan mereka menembus partai semifinal setelah menyingkirkan Manchester City dan Borussia Dortmund di babak-babak sebelumnya. Performa impresif mereka tunjukkan sejak fase grup, dengan memuncakinya dan mengoleksi 11 poin, terus berlanjut di fase gugur. Pun halnya di Ligue 1, mereka kini berada di puncak klasemen dengan 83 poin, unggul tiga angka dari PSG, namun masih menyimpan satu laga di tangan. Produktivitas mereka begitu luar biasa dengan mencetak 95 gol dan kebobolan 29 gol, membuat mereka kian dekat dengan gelar liga pertama mereka sejak musim 1999/2000. 

Melejitnya Monaco musim ini tidak terjadi begitu saja, dan nyaris tak akan ada yang menganggap Monaco sebagai sensasi satu musim semata seperti halnya Leicester jika benar-benar mengetahui apa yang sudah diupayakan mereka selama ini untuk bisa berkibar di Eropa dan Prancis.  

Era Kepemilikan Dmitry Rybolovlev

Sosok yang berada di kursi presiden klub atau pemilik klub kerap menjadi titik balik perubahan nasib sebuah klub. Lihat bagaimana Silvio Berlusconi yang berkuasa selama tiga dekade sukses membawa AC Milan ke era tersukses mereka di akhir 80an hingga awal 90an dan pertengahan 2000an. Atau bagaimana Chelsea yang mendapatkan suntikan uang Roman Abramovich akhirnya menjadi juara baru Liga Champions di musim 2011/12 dan meraih empat gelar Premier League sejak ia datang pada musim panas 2003. 

Perubahan nasib AS Monaco pun diawali dengan keputusan Dmitry Rybolovlev untuk membeli sebagian besar saham kepemilikan klub pada Desember 2011, saat tim tersebut masih berkutat di Ligue 2. Butuh satu setengah musim di era kepemilikan Rybolovlev untuk membawa Monaco kembali ke Ligue 1 di bawah kepelatihan Claudio Ranieri. Dan, pemilik asal Rusia itu tidak setengah-setengah untuk memperkuat skuat agar bisa bersaing di papan atas Ligue 1, di musim panas 2013, ia total menghabiskan dana €130 juta dan €50 juta di antaranya dikerahkan untuk memboyong Radamel Falcao dari Atletico Madrid. Dia juga memboyong dua pemain bintang lainnya, Joao Moutinho dan James Rodriguez. 

Mulai diterapkannya aturan Financial Fair Play secara ketat membuat petinggi klub sadar bahwa mereka tak bisa terus menghamburkan terlalu banyak uang untuk membangun skuat. Selain itu, kapasitas stadion Monaco yang kecil, hanya 16.500 bangku, dan rata-rata jumlah penonton yang tak sampai 10.000 orang per laga, membuat Monaco mulai memikirkan cara baru untuk mempertahankan daya saing mereka sembari menyeimbangkan keuangan klub.