Analisis Strategi Manchester United dan Liverpool Jelang North-West Derby

Akhir pekan ini kita akan menyaksikan North-West Derby, Manchester United vs Liverpool. Renalto Setiawan dari FourFourTwo mencoba menggambarkan bagaimana takti yang akan diterapkan kedua tim pada hari Minggu (15 Jan 2017) nanti...

Meski jarak antara kota Manchester dan Liverpool hanya sekitar 58 kilometer, di mana bisa ditempuh dalam waktu 53 menit dengan menggunakan mobil – melalui jalur M62, terutama menyangkut sepakbola, kedekatan wilayah seperti itu ternyata tak dapat membuat penduduk kedua kota tersebut saling akrab satu sama lain. Keduanya malahan cenderung bermusuhan.  

Kejadian seperti itu sebenarnya sudah menjadi kewajaran dalam sepakbola. Di negara Eropa lainnya atau di belahan dunia bagian lain bahkan ada yang lebih ekstrim daripada apa yang terjadi di antara kota Liverpool dan Manchester.

Di Italia, Lazio dan AS Roma mampu membelah penduduk kota Roma menjadi dua kubu yang berseberangan, begitu pula di kota Milan dengan Inter Milan dan AC Milan-nya. Sedangkan di Buenos Aires Argentina, Boca Juniors dan River Plate juga membuat penduduknya saling bermusuhan, yang jika dinalar kadar permusuhannya kadang terlihat melenceng dari akal sehat.

Gavin Gamilton, editor majalah World Soccer, bahkan menganggap pertandingan antara River Plate melawan Boca Juniors, yang terkenal dengan sebutan Super Clasico, merupakan pertandingan yang wajib untuk ditonton secara langsung sebelum kita mati karena rivalitas panasnya.

Jadi siapa yang akan lebih nyaring suaranya di Old Trafford? Fans United atau tim tamu?

Akhir pekan nanti rivalitas antara keduanya yang dimulai pada tahun 1894 silam akan memasuki edisi ke-198.

Namun demikian, ada hal yang membuat rivalitas antara kota Liverpool dan Manchester lebih istimewa daripada itu semua: Liverpool FC, klub terbaik asal Liverpool, dan Manchester United, klub kebanggaan warga Manchester, dimana kedua klub tersebut merupakan klub terbaik Inggris, sebuah negara yang membuat sepakbola populer di seluruh bagian dunia, sejauh ini.

Rivalitas antara keduanya bisa dikatakan lebih rumit daripada sekadar sikap saling benci. Kedua tim menaruh hormat satu sama lain. Dengan pendekatan tersebut, jika Liverpool kalah dari Manchester United atau sebaliknya, para pemain atau para penggemar Manchester United dan Liverpool akan menganggap itu menjadi musim terburuk bagi mereka. Lebih buruk daripada apa pun.

Di hari pertandingan para fans akan terus bernyanyi untuk membuktikan siapa yang menjadi pemain ke-12 terbaik. Nyanyian mereka memekakkan telinga, bahkan bisa membuat kata hati seseorang tidak bisa terdengar saat itu terjadi. Jika mereka tidak melakukan itu mungkin mereka akan menyesal saat berada di sebuah kursi goyang pada hari tuanya nanti.

Akhir pekan nanti rivalitas antara keduanya yang dimulai pada tahun 1894 silam akan memasuki edisi ke-198. Saat ini, keduanya sedang berada dalam kondisi bagus. Energi Jurgen Klopp, pelatih Liverpool, berhasil menguasai jiwa para pemain Liverpool dengan baik, sedangakan kecerdikan Jose Mourinho, pelatih Manchester United, mulai mengalir lancar ke dalam otak para pemainnya. Lalu apa bekal utama kedua tim untuk pertandingan akhir pekan nanti?

SELANJUTNYA: Serangan Liverpool yang tajam bisa membuat lini belakang United kacau

Tensi tinggi selalu menghiasi pertandingan dua tim ini

Pages