Blog

Ancaman Utama Untuk Kans Juara Liverpool

Bukan Manchester City atau Manchester United, ancaman terbesar Liverpool menuju tangga juara justru berada dalam tubuh tim itu sendiri.

We are part of The Trust Project What is it?

Segenap fans Liverpool berpesta sekaligus bersukaria setelah senam jantung di Anfield, Sabtu (19/1) malam WIB, berakhir dengan kemenangan 4-3 atas Crystal Palace.

Betapa tidak, The Reds kalah 1-0 di paruh pertama, dan dua kali kehilangan keunggulan. Bahkan hingga menit 90+5, Virgil van Dijk dkk masih dibuat cenat-cenut karena serangan cepat The Eagles.

Untung saja, Mohamed Salah, Sadio Mane, dan Roberto Firmino tampil tajam. Mereka mampu mencetak gol di saat-saat krusial. Tiga poin akhirnya berhasil diraih dan posisi Liverpool masih aman di puncak, unggul empat poin atas Mancheseter City.

Meski begitu, laga akhir pekan lalu memberikan sinyal darurat yang memekakkan telinga.

Sektor Kanan yang Tak Lagi Aman

Trent Alexander-Arnold Liverpool 2018-19

Catatan pertama yang patut diberikan adalah bagaimana ketidakhadiran Trent Alexander-Arnold sangat berpengaruh terhadap performa tim. Sektor kanan yang biasanya kokoh dan mampu menyajikan umpan-umpan silang akurat, tiba-tiba tidak hadir di sana.

Sebaliknya, James Milner yang diplot untuk menggantikannya justru jadi kelemahan. Wilfried Zaha berulang kali memperdaya pemain Inggris itu, sampai memaksanya melakukan pelanggaran berujung kartu kuning kedua.

Bukan berarti Milner merupakan pemain jelek, namun terlepas dari energinya, dia tidak punya kapasitas unggul untuk bertahan dan kelincahan yang dibutuhkan. Menghadapi pemain licin seperti Zaha, sudah pasti dia jadi bulan-bulanan.

Momen tersebut sekaligus memicu pertanyaan atas keputusan Jurgen Klopp meminjamkan Nathaniel Clyne ke Bournemouth. Sektor kanan kini tak punya pelapis yang sepadan, bahkan saat Milner yang serbabisa harus absen karena kartu merah, Kloppo bakal pusing untuk mencari pelapisnya.

Joe Gomez? Top dalam bertahan, namun umpan silangnya kurang suportif, lebih pas dimainkan sebagai bek tengah. Fabinho? Kecepatannya kurang tepat untuk mengimbangi pemain-pemain licin.

Dobel Pivot Rawan Merosot

Jordan Henderson Liverpool 2018-19

Kloppo menduetkan Jordan Henderson dengan Fabinho pekan lalu. Keduanya mampu mempertahankan tempo dan dinamika serangan Liverpool ketika membawa bola. Adapun saat menghadapi serangan balik, salah satunya jadi titik lemah (dan tentu Anda tahu siapa yang dimaksud).

Selain Trent, absennya Georginio Wijnaldum pun memberikan dampak yang cukup signifikan. Tidak ada umpan-umpan ke depan atau gerak lari yang memancing lini belakang lawan untuk bergerak.

Fabinho dan Hendo sama-sama punya kecenderungan untuk bertahan. Memang ada Roberto Firmino yang sesekali menjemput bola, namun jarak yang tercipta antara lini tengah bertahan dan lini tengah menyerang kerap kali tampak lebar. Celah ini yang bisa dimanfaatkan untuk serangan balik oleh Palace dan dengan pemain cepat Eagles, Henderson (ya, beliau lagi) tak mampu bereaksi tepat waktu.

Milner yang dinamis sebenarnya bisa jadi solusi di tengah absennya Wijnaldum. Namun kebetulan yang tidak menyenangkan membuat sang pemain harus mengisi sektor bek kanan. Dua lini pun jadi pertaruhan untuk Klopp dan tampaknya dobel pivot dengan kecenderungan bertahan bukan solusi ideal untuk tim yang mengandalkan serangan balik.

Pertaruhan Musim Dingin Jurgen Klopp

Jurgen Klopp Prematch Liverpool vs Crystal Palace EPL 190119

Transfer di musim dingin mungkin jadi pertimbangan dan Michael Edwards bisa dipercaya untuk hal itu. Masalahnya, tidak semua pemain bisa langsung beradaptasi dengan tempo cepat permainan Kloppo.

Bagaimana dengan menunggu sembuhnya Trent? Pilihan tepat jika sang bek kanan hanya absen sepekan, tetapi dia harus menepi hingga empat pekan. Laga yang mungkin dia lewatkan adalah kontra Leicester City, West Ham United, Bournemouth, Bayern Munich, dan Manchester United.

Bisa dibayangkan bagaimana tim-tim dengan amunisi winger lincah itu akan mengeksploitasi sektor kanan Liverpool. Kebetulan, semuanya berada pada level yang lebih tinggi daripada Palace.

Marcus Rashford dan Anthony Martial akan jadi sosok menakutkan untuk laskar Anfield. Belum lagi Kingsley Coman, David Alaba, Joshua Kimmich, dan Serge Gnabry.

Klopp sekarang mau tak mau harus berjudi, antara memaksimalkan sumber daya yang ada (tapi tak cukup bagus di posisi bek kanan) atau mendatangkan pemain baru dengan kompetensi tepat (tapi belum tentu bisa beradaptasi dengan cepat).

Ancaman terbesar Liverpool untuk melangkah ke tangga juara bukanlah konsistensi Manchester City, melainkan potensi mismanajemen yang ada dalam tubuh tim. Krisis cedera sejatinya bisa diantisipasi dengan perencanaan matang. Situasi pelik semacam ini seharusnya bisa diantisipasi dengan mempertahankan Clyne, tetapi nasi sudah menjadi bubur.

Kini, Kloppo harus bertaruh di Januari atau berdoa agar Trent Alexander-Arnold secara ajaib kembali bermain pekan depan. Kalaupun taruhan tersebut malah berdampak buruk, yakni terpelesetnya Liverpool dari puncak, kejadian seperti itu sudah tercium baunya sejak Palace menjebol gawang Alisson tiga kali.