Andri Faisal Amru: Top Skorer PON 2016 yang Bermimpi Membela Merah Putih

Andri yang satu ini mulai mencuri perhatian tahun 2016 lalu setelah menjadi top skorer PON 2016 dan membawa PON Sulsel ke final. Mari berkenalan dengannya...

Cerita 60 detik

Nama Andri Faisal Amru mulai terdengar pecinta sepakbola nasional ketika pelatih Robert Rene Alberts memberikannya debut di laga melawan Madura United pada ajang Indonesia Soccer Championship (ISC) A tahun 2016 lalu. Pemain 24 tahun tersebut diturunkan sebagai pemain pengganti dalam pertemuan yang digelar di Stadion Gelora Bangkalan pada Rabu, 20 Juli 2016 tersebut.

Setelah itu, nama Andri tak terlihat lagi di skuat yang dibawa oleh pelatih asal Belanda. Hal itu terjadi karena pemuda asli Masamba, Luwu Utara itu membela tim PON Sulawesi Selatan di perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX Jawa Barat.

Bersama dengan tiga rekannya yang juga membela Juku Eja; Wasyiat Hasbullah, Ivan Wahyudi dan Mohammad Syaiful, Andri sukses mengantarkan timnya tersebut ke partai final yang bertempat di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kab. Bandung. Namun, di babak terakhir mereka dipaksa menyerah dari tim PON Jawa Barat lewat drama adu penalti yang berakhir 5-4 untuk kemenangan Jabar. Meski begitu, kekecewaan Andri sedikit terobati setelah ia dinanugerahi gelar top skorer PON dengan koleksi lima gol.

Andri sukses menjadi top skorer di cabang sepakbola PON 2016 (Foto: Tempo)

Bersama dengan tiga rekannya yang juga membela Juku Eja; Wasyiat Hasbullah, Ivan Wahyudi dan Mohammad Syaiful, Andri sukses mengantarkan tim PON Sulsel ke partai final

Sejak itulah ia perlahan mendapatkan tempat di skuat PSM, di mana dalam beberapa laga Robert mencoba menurunkan sang pemain. Andri memang belum mencetak gol sejak kali pertama ia dimainkan bersama tim utama, namun perannya di lini serang jawara Liga Indonesia 2000 itu cukup memberikan dampak positif.

Tak salah jika di Liga 1 2017 mendatang, namanya masih menjadi pilihan bagi tim pelatih PSM Makassar.

Mengapa Anda harus mengenalnya

Kisah perjalanan pemuda 22 tahun ini mungkin kalah menarik apabila dibandingkan dengan pemain-pemain lain seperti Ryuji Utomo, Manahati Lestusen dan masih banyak lagi. Perlu diketahui, Andri bahkan tidak pernah mencicipi sekolah sepakbola sama sekali. Kesulitan ekonomi memaksa Andri lebih sering membantu kedua orang tuanya mengelola sawah di kampung halaman, Masamba, Luwu Utara.

Praktis, ia hanya bermain bola biasa bersama teman-temannya di lapangan dekat rumah. Hal tersebut ia lakukan sejak usia delapan tahun.

Perlu diketahui, Andri bahkan tidak pernah mencicipi sekolah sepakbola sama sekali. Kesulitan ekonomi memaksa Andri lebih sering membantu kedua orang tuanya mengelola sawah di kampung halaman, Masamba, Luwu Utara

Tapi, berkat kecintaannya yang besar terhadap sepakbola dan cita-citanya menjadi pesepakbola profesional ia jadi mampu mendobrak batasan-batasan tersebut. Setelah hanya bermain sepakbola di lingkungan kampungnya selama kurang lebih 11 tahun, ia akhirnya memberanikan diri mengikuti seleksi PSM U-21 pada 2013 silam.

Sayangnya, pada perjuangan pertamanya itu ia gagal lolos seleksi. Dari situ Andri terus berusaha dengan berlatih giat. “Saya tetap berusaha dan berlatih keras. Karena main bola bukan sekedar hobi, tapi ini cita-cita,” aku Andri kepada FourFourTwo Indonesia.

Andri saat berduel di PON (Foto: Republika)

Tiga tahun berselang, anak pertama dari tiga bersaudara ini bergabung dengan tim Bosowa Semen FC dan berpartisipasi di sebuah kompetisi U-21 bernama Sulsel Super League 2016. Hebatnya, Bosowa Semen FC (klub yang dibela Andri) menjadi juara kompetisi yang digelar oleh Forum Besar Wartawan Makassar itu pasca menundukkan perlawanan Mesran Pertamina di babak final dengan skor 2-0.

Nama Andri pun menjadi catatan yang masuk ke dalam rekomendasi scout pihak PSM Makassar yang memang hadir sejak kompetisi dimulai dari babak grup. Tak perlu waktu lama, pihak manajemen PSM pun langsung memanggil Andri dan juga beberapa nama lain dari kompetisi U-21 tersebut untuk mengikuti seleksi persiapan ISC A. Pada akhirnya Andri dinyatakan lolos dan resmi membela klub yang bermarkas di Stadion Mattoangin tersebut.

Kelebihan

Sebagai pemain yang berposisi sebagai striker, Andri dianugerahi kecepatan dan kontrol bola yang baik. Salah satu aksi tak terlupakannya tahun lalu adalah saat ia membantu PSM menang atas Madura United dalam lanjutan ISC A 2016.

Akselerasinya sukses membuat pertahanan Laskar Sapi Kerab kocar-kacir dan membuat Willem Jan Pluim mencetak gol kemenangan jelang pertandingan berakhir. Pengalamannya di ajang PON XIX Jabar dan sejumlah laga di ISC A 2016 kemarin tentu banyak membantunya berkembang.

Bola hasil sepakan Andri yang ditepis berhasil dimanfaatkan Willem Jan Pluim

Kelemahan

Bermain di level tertinggi membuat Andri seperti menerima tekanan besar. Ia masih belum bisa mengopi permainan baiknya di level junior ke level senior. Itulah yang menjadi pekerjaan rumah yang besar untuk Andri sendiri.

Mungkin lebih banyak waktu bermain bisa membantu membentuk mental dan daya juang sang pemain.

Apa kata mereka

“Andri telah bekerja dengan bagus sejauh ini. Makanya dia layak mendapatkan kesempatan bermain.” – Robert Rene Albert.

Selanjutnya

Setelah mimpinya menjadi pemain sepakbola profesional tercapai, Andri menegaskan bahwa target ia selanjutnya adalah bisa menjadi bagian dari tim nasional Indonesia di masa depan. “Saya sih ingin masuk timnas. Itu target saya,” tegas Andri.

Temukan feature baru setiap harinya di FourFourTwo.com/ID