Analisa

Antiklimaks Perjalanan Mengesankan PSM Makassar

Menjadi tim yang paling konsisten sepanjang gelaran Liga 1 Indonesia 2018 ternyata tak berujung manis bagi PSM. Impian juara mereka kandas di pekan-pekan terakhir kompetisi.

We are part of The Trust Project What is it?

Senin awal Desember pekan lalu, kurang lebih beberapa menit jelang pertandingan melawan Bhayangkara FC usai, para pemain PSM Makassar mulai terlihat lesu. Pergerakan mereka sudah tak lagi efektif. Saat menyerang, mereka seringkali bergerak secara membabibuta dan seakan tanpa rencana. Sementara saat bertahan, para pemain tampak mulai kehilangan konsentrasi yang bahkan pada beberapa kesempatan mampu ditembus dengan mudah oleh tim lawan. Beruntung, tak ada satu pun yang bisa dimanfaatkan menjadi gol.

Ada banyak alasan mengapa PSM terlihat kelabakan ketika memasuki pengujung pertandingan tersebut. Salah satunya adalah kemenangan yang didapat pesaing terberat mereka dalam perebutan gelar juara Liga 1 2018, Persija Jakarta, dari Bali United di Stadion I Wayan Dipta, sehari sebelumnya. Hasil itu membawa Persija ke urutan teratas klasemen sementara, menggeser PSM yang selama tiga pekan terakhir mendudukinya. 

Dengan sisa dua pertandingan, mau tak mau PSM harus terus meraih kemenangan agar posisi teratas bisa kembali direbut, termasuk kala bertandang ke markas Bhayangkara tadi. Namun, kita tahu hal itu gagal didapat. Selama 90 menit pertandingan, PSM tak mampu mencetak satu gol pun, meski mereka sempat tampil sangat baik pada awal-awal babak pertama. Bhayangkara, sementara itu, juga gagal mencetak gol sehingga laga pun harus berakhir tanpa adanya pemenang.

Kendati demikian, pelatih Robert Rene Albert masih yakin bahwa PSM bisa menjadi juara. Dengan catatan, mereka harus mengalahkan PSMS Medan pada laga terakhir, sementara Persija Jakarta tak mampu meraih kemenangan saat menjamu Mitra Kukar. “Saya masih sangat optimis juara,” katanya.

Sayangnya, skenario tersebut tidak terjadi. PSM memang mampu mengandaskan PSMS, bahkan dengan skor yang sangat telak. Namun, kemenangan itu tak berarti banyak sebab Persija juga berhasil mengalahkan lawannya.

Calon Juara yang Paling Stabil

Munafri Arifuddin, CEO PSM Makassar, sudah sejak awal memberi target tinggi kepada timnya di Liga 1 2018. “PSM harus juara tahun ini,” katanya.

PSM tentu bukan satu-satunya tim yang mengincar gelar juara. Namun, sejak awal hingga akhir musim, bisa dibilang mereka adalah yang penampilannya paling stabil dan menjanjikan. Hasilnya, mereka pun selalu konsisten di papan atas. Bandingkan dengan misalnya kandidat juara lain macam Persib Bandung dan Sriwijaya FC. 

Pada awal-awal kompetisi, performa Persib sangat buruk. Dalam dua pertandingan mereka hanya mampu meraih satu poin, yakni kala menjamu PS Tira di Stadion Gelora Bandung Lautan Api. Mereka baru mampu bangkit dan menerobos papan atas setelah melewati pekan kelima. Sriwijaya FC, sementara itu, lebih buruk lagi. Kendati sempat cukup lama berada di papan atas, performa mereka tiba-tiba turun drastis jelang memasuki paruh kedua. Penyebabnya adalah masalah finansial yang membuat pembayaran gaji sering terhambat. 

Pada putaran kedua, masalah gaji tersebut mulai teratasi. Namun, itu tak cukup untuk membuat Sriwijaya kembali bersaing di papan atas, sebab sejumlah pemain utama telah memutuskan hengkang ke tim lain dan para penggantinya tak cukup berkualitas. Ditambah, mereka melakukan tiga kali pergantian pelatih. Sriwijaya pun kemudian terkatung-katung di papan bawah dan pada akhirnya terdegradasi.

Selain Persib dan Sriwijaya, kandidat juara lain seperti Bali United dan Madura United juga tak bisa dibilang stabil. Begitu pula dengan juara Liga 1 musim ini, Persija Jakarta, yang bahkan pernah menduduki zona degradasi selama beberapa pekan pada awal musim.  Hal seperti ini tak pernah dialami PSM.