Apa Rahasia Kebangkitan Persipura di Bawah Asuhan Wanderley da Silva?

Tiba-tiba, Persipura Jayapura yang terseok-seok di awal musim, sudah berada di posisi tiga besar klasemen sementara Liga 1 2017. Apa rahasia kebangkitan mereka?

Sejak awal pegelaran kompetisi tak resmi musim lalu yang bertajuk Indonesia Soccer Championship (ISC) A musim 2016, kesebelasan raksasa asal timur Indonesia yaitu Persipura Jayapura, mengalami start yang lambat dan terdampar di papan tengah. Padahal dalam satu dekade terakhir, Persipura ini biasanya langsung masuk persaingan sedari awal-awal kompetisi bergulir.

Pada kompetisi ISC A musim 2016 lalu, Persipura awalnya ditangani oleh Jafri Sastra. Performa sang Mutiara Hitam bisa dibilang tak stabil dan mengakibatkan mereka tercecer di papan tengah. Kemudian, Alfredo Vera masuk menggantikan Jafri Sastra dan singkat cerita, Persipura mampu menyalip seluruh rivalnya dan berhasil menjadi kampiun ISC A musim 2016 lalu.

Keadaan seperti musim lalu bukan tak mungkin akan kembali terulang musim ini. Saat awal musim berjalan, Persipura bahkan secara mengejutkan mendepak Alfredo Vera sehari sebelum kompetisi bergulir dan mengangkat Liestiadi menjadi pelatih kepala mereka. Kabar lainnya juga menyebutkan bahwa Persipura kesulitan dalam masalah finansial dan sponsor karena PT. Freeport sudah tak lagi menyokong tim kebanggaan warga Papua tersebut.

Liestiadi nyata-nyatanya tak mampu memberikan dampak positif bagi Boaz Solossa cs. dan hanya bertahan selama sepuluh pekan di gelaran Liga 1 musim 2017 ini. Total hanya menelan lima kemenangan, sekali seri, dan empat kali kalah membuat jajaran direksi Persipura tak puas atas capaian Liestiadi. Ia didepak, dan pelatih asal Brasil. Wanderley Machado da Silva, resmi menangani sang Mutiara Hitam sedari pekan ke-12.

Tanpa persiapan yang banyak, Liestiadi tak mampu mengangkat posisi Persipura

Pergantian pelatih tersebut jelas membawa angin segar bagi skuat Persipura seperti apa yang mereka dapatkan di pertengahan kompetisi ISC A musim 2016 lalu. Skenarionya pun hampir mirip; mengganti pelatih lokal dengan pelatih asal Amerika Latin. Karena seperti yang kita telah mafhumi bersama, jejak romantisme Persipura dengan pelatih asal Amerika Latin memang cukup kental.

Debut Wanderley, bisa dibilang, sangat-amat mengesankan. Mitra Kukar yang diperkuat marquee player M. Sissoko pun dihajar enam gol tanpa balas di Stadion Mandala, Jayapura. Anak muda bernama Prisca Womsiwor melejit dengan mencetak trigol. Pemain lainnya pun bermain menggila setelah sebelumnya sempat kalah dari saingan papan atas lainnya, yaitu PSM dan Madura United.

“Jangan hanya dilihat skor 6-0. Jauh lebih penting dari itu adalah skuat tampil kompak dan bagus. Kami harus mempertahankannya,” ungkap Wanderley ketika itu.

“Saya buka kesempatan yang sama kepada setiap pemain buat menunjukkan aksi terbaik. Formasi starting XI memprioritaskan pemain yang betul-betul siap. Ini berlaku pula bagi pemain muda. Dan, saya senang. Misalnya Prisca Womsiwor bikin hattrick ke gawang Mitra Kukar. Ia sangat potensial. Juga Yan Pieter yang cetak satu gol, Osvaldo Haay, dan Martinus Manewar yang tengah bersama timnas U-22 Indonesia,” lanjut pelatih yang pernah menangani Perseman Manokwari ini.

Penunjukkan Wanderley memang merupakan keputusan yang cukup cerdik dari manajemen. Berlatarbelakang sebagai pesepakbola Brasil, pengalaman Wanderley bermain dan melatih klub Indonesia (meski hanya kasta kedua), sebelum kemudian melatih klub Malaysia dan Thailand, menjadi alasan manajemen mengontrak jasa Wanderley. Apalagi Wanderley sendiri pernah melatih tim Papua sebelumnya, yaitu Perseman Manokwari, sehingga ia tak harus mengalami culture shock ketika menghabiskan hari-harinya di Jayapura.

Kerangka skuat Persipura yang tak banyak berubah pun menjadi salah satu keuntungan. Munculnya banyak pemain muda hasil binaan daerah serta pemilihan pemain asing yang tepat bisa membantu Wanderley menjalankan taktik dan strateginya.