Analisa

Apa Rahasia Kepelatihan Zidane yang Membuat Real Madrid Begitu Sukses dalam 2,5 Tahun Terakhir?

Zinedine Zidane

Enigma seorang Zizou membuat banyak orang bertanya-tanya. Menjelang usahanya untuk mencetak hattrick Liga Champions sebagai pelatih, Thore Haugstad mencari tahu bagaimana efek kehadiran Zidane bagi Real Madrid

We are part of The Trust Project What is it?

Ada ekspresi khusus di antara media olahraga Spanyol, terutama media-media Katalunya, yang berusaha menyibak rahasia kesuksesan seorang Zinedine Zidane. Itu bukanlah ambisi yang remeh: jika memang benar ada rahasia khusus, pastilah rahasia itu tersembunyi dengan sangat baik. Pada Sabtu malam nanti, lelaki Perancis ini bisa memenangkan trofi Liga Champions ketiganya dalam dua setengah tahun sebagai pelatih di level top. Meski begitu, setelah berbagai gelar dan kesuksesan tersebut, pertanyaan yang sama masih menggelayut di udara: bagaimana ia melakukannya?

Zidane tidak pernah bisa dimasukkan ke dalam kategori manajer yang konvensional. Ia bukanlah seorang visioner seperti Pep Guardiola, bukan seorang sinis seperti Jose Mourinho, dan bukan pula seorang ahli disiplin seperti Sir Alex Ferguson. Seringkali, timnya bahkan tidak bermain dengan baik. Namun di Eropa, mereka terus menang. Dan karenanya, tanpa kompetensi khusus yang bisa kita puji, muncullah teori yang menjelaskan segalanya: La flor de Zidane. Pada dasarnya: Zidane hanya beruntung.

Ia jelas beruntung. Real Madrid mendapatkan rute yang nyaman untuk menuju final 2016, yang mereka menangkan lewat adu penalti. Beruntung. Pada 2017, mereka mengambil keuntungan dari kartu merah yang kejam untuk Arturo Vidal, untuk mengalahkan Bayer Munich di perempat final. Beruntung. Tahun ini, mereka mendapatkan penalti di masa tambahan waktu melawan Juventus di perempat final, sebelum Marcelo menyentuh bola dengan tangan di dalam kotak penalti saat melawan Bayern Munich di semifinal. Wasit tidak melihatnya. Beruntung, beruntung, beruntung.

Tetapi benarkah hanya beruntung? Banyak manajer mengatakan Anda perlu keberuntungan untuk memenangkan Liga Champions, tetapi yang dimaksudkan adalah untuk memenangkannya satu kali. Bisa mencapai final tiga kali dalam tiga tahun, dan seorang manajer pastilah harus diberikan kredit atas kesuksesannya. Mungkin Zidane tidak banyak mendapatkan pujian yang seharusnya ia dapatkan karena kekuatannya adalah sesuatu yang natural. Keahlian akan taktik mungkin seharusnya mendapatkan pujian, tetapi rahasia Zidane bukanlah taktik. Tetapi kemampuannya bersosial.

Efek Zidane

Itu sudah terlihat sejak Zidane duduk di hadapan puluhan wartawan yang skeptis akan dirinya pada Januari 2016, ketika ia diperkenalkan sebagai pelatih baru Real Madrid. Pendahulunya, Rafa Benitez, adalah seorang yang berkebalikan: ia adalah ahli taktik yang tak punya kemampuan bersosial. Meski Zidane mungkin tidak bisa memperlihatkan keistimewaan apapun selama 18 bulan yang kurang menjanjikan bersama tim Castilla, ia jelas langsung menunjukkan satu kemampuannya: ia tahu bagaimana berbicara dengan baik.

Hari itu, isi pembicaraannya benar-benar mencerminkan nilai-nilai yang dimiliki klub sampai-sampai kelihatannya isi ucapannya ditulis langsung oleh Presiden Florentino Perez. Menurut Zidane, Madrid akan berjuang memperebutkan setiap gelar juara, mereka akan memainkan sepakbola yang menyerang, dan mereka akan memberikan hiburan. Pertanyaan-pertanyaan yang sulit atau menjebak ia lewati dengan senyumannya yang karismatik. Jika Zidane gagal dalam misinya kali ini, ia jelas bisa berkarier sebagai diplomat atau politisi.

Dalam lima bulan setelahnya, Madrid mencatatkan 12 kemenangan di liga secara beruntun dan menjuarai Liga Champions. Penampilan mereka mungkin tak terlalu konsisten, tetapi yang selalu konstan terasa adalah rasa tenang di sekeliling tim ini: seluruh pemain merasa gembira. Para pemain bintang memuji Zidane; bahkan mereka yang dicadangkan pun tidak mengeluh. Sebagian besar orang terkejut dengan dampak yang disebut pers Madrid sebagai “Efek Zidane”, kecuali mereka yang sudah mengenal Zidane dengan baik.

Orang itu adalah mantan pelatih Real Madrid sendiri, Carlo Ancelotti, yang pernah bekerja sama dengan Zidane, yang menjadi asisten pelatih tim utama, pada 2013/14. “Ia memiliki semua kualitas yang dibutuhkan untuk menjadi seorang manajer fantastis: karisma, kepribadian, dan pengalaman,” kata Ancelotti, dua bulan sebelum penunjukkan Zizou. Tidak ada keunggulan itu yang berhubungan dengan taktik. “Ketika Zidane berbicara, para pemain akan mendengarkan,” ujar Ancelotti.