Analisa

Apa yang Harus Dilakukan Terhadap Kehadiran N'Golo Kante di Lini Tengah Chelsea?

N'Golo Kante Chelsea

Kedatangan Jorginho telah mendorong pemain serba bisa itu untuk keluar dari posisi yang melambungkan namanya – tetapi apa risikonya? Maurizio Sarri menolak untuk menuruti kata semua orang, tulis Daniel Storey

We are part of The Trust Project What is it?

Eden Hazard selalu bisa diandalkan untuk menjadi bintang tim Chelsea, tetapi N'Golo Kante setidaknya bias mengklaim dirinya sebagai pemain paling penting di klubnya.

Setelah direkrut dari Leicester, Kante diminta Antonio Conte untuk meneruskan perannya dan melakukannya dengan sangat baik. Selama tiga musim dia adalah gelandang bertahan terbaik Premier League. Setelah tidak mendapatkan PFA Player of the Year pada tahun 2016, kesalahan yang sama tidak terjadi setahun kemudian. Kante adalah batu pijakan dari dua tim pemenang gelar yang berbeda dalam dua musim berturut-turut. Itu bukan sebuah kebetulan.

Chelsea memiliki musim yang buruk di tahun 2017/18, tetapi Kante dibebaskan dari semua kesalahan. Mungkin tampak aneh bagi tim enam besar memiliki jumlah tekel dan intersepsi tertinggi di liga, tetapi itulah kekuatan Kante. Dia berada peringkat ketiga untuk tekel dan pertama untuk intersep di Premier League.  Gabungkan kedua statistik itu - Indeks Kante, jika Anda mau - dia memimpin dengan 198 poin.

Filosofi Baru

Musim ini, setelah kedatangan Maurizio Sarri, peran Kante dalam tim Chelsea telah berubah secara dramatis. Sarri lebih memilih 4-3-3 dibandingkan Conte yang memilih formasi 3-4-3, dan sejak lama lebih memilih seorang pemain bertipe playmaker untuk beroperasi di garis dasar lini tengahnya.

Jorginho, yang nyaris bergabung dengan Manchester City, akhirnya bergabung kembali dengan mantan pelatih Napoli-nya di Stamford Bridge. Dengan pemain teknis seperti itu di peran lini tengah terdalam, Kante harus bisa menempatkan diri sebagai gelandang box-to-box demi Jorginho.

Perbedaan dalam permainan Kante sangat mencengangkan. Setelah berhasil hanya melakukan 19 sentuhan di area penalti lawan di sepanjang musim lalu, pemain Prancis ini telah melakukan 25 sentuhan pada 2018/19. Setelah menduduki peringkat ketiga untuk tekel, pertama untuk intersepsi dan pertama untuk keduanya jika dikombinasikan di musim 2017/18, dia saat ini menduduki peringkat ke-40, 44, dan 40 dengan tahap yang sama sejauh musim ini.

Ini bukan hanya kasus bahwa Kante berbagi beban atau meneruskannya ke rekan satu tim. Jika dia telah berubah, begitu juga Chelsea. Musim lalu, pemain Prancis itu merupakan penekel mereka yang paling reguler (setiap 26,5 menit) dan interseptor kedua mereka yang paling reguler (setiap 35,3 menit). Musim ini, pemain reguler Chelsea, Cesar Azpilicueta telah melakukan tekel paling sering tetapi hanya melakukannya setiap 39,7 menit. Kante masih peringkat pertama untuk intersepsi, tetapi setiap 70,4 menit sekali.

Itu bukanlah jadi masalah baginya; itu hanya bukti filosofi Sarri yang berbeda dengan Conte daripada bahwa dia memiliki maslaah serius karena gaya permainannya sendiri. Chelsea tidak diharapkan untuk bersaing meraih gelar musim ini dan metode Sarri diprediksi akan membutuhkan waktu untuk bisa diterapkan – manajer itu sendiri mengatakannya sesering mungkin. Chelsea baru kalah dua kali dalam pertandingan liga.

Lihatlah statistik Chelsea untuk rincian perubahan permainan mereka. Kesuksesannya didasarkan lebih kepada umpan-umpan dan tekanan tinggi di atas lapangan daripada mengundang tim ke area permainan mereka, memenangi bola – biasanya melalui Kante – dan kemudian menyerang balik. Chelsea berada peringkat kelima di liga untuk akurasi umpan musim lalu, tetapi hampir terus berkejar-kejaran dengan Manchester City di 2018/19 untuk aspek itu.

Permainan Canggung

Tapi itu membuat Kante dalam posisi yang canggung, tidak bisa bermain di posisi yang melejitkan namanya, dan harus beradaptasi dengan tuntutan manajernya.

Satu hal yang pasti: Sarri tidak akan menyerah untuk mengakomodasi Kante dalam peran yang lebih dia sukai. Pelatih Italia itu telah sangat tegas tentang hal itu. Jika itu tampak seperti taktik yang kaku, melalui sistem inilah Sarri berjaya terutama di Napoli, dan menbuat Chelsea tampil di luar dugaan. Ubah gaya itu sekarang, dan Anda kehilangan apa yang diyakini Sarri membuatnya hebat.

Ini tidak dimaksukan untuk menyesali kejatuhan Kante sebagai pemain hebat. Dia tetap menjadi salah satu gelandang yang paling mumpuni di Eropa, tetapi juga salah satu yang paling menyenangkan untuk dilatih. Jika ada pemain yang bisa menerima situasi, peran, dan statusnya yang baru, pasrah, dan membuatnya berfungsi, itu adalah dirinya. Sosok yang memiliki stamina bak kelinci Duracell dan sikapnya yang bersedia melakukan apa pun bisa membuatnya segalanya menjadi mungkin. Kisahnya yang menceritakan ia melakukan joging yang lama setelah sesi latihan karena ia memiliki kelebihan energi menjadi legendaris karena suatu alasan.

Tapi Kante tidak lagi dijamin berada di starting XI di Chelsea, jika dia terbukti tidak mampu menjadi pemain kesayangan Sarri dengan cara yang sama seperti yang terjadi saat ia bermain untuk pelatih Italia lainnya, Claudio Ranieri dan Conte. Jika itu tampak agak menggelikan mengingat performanya selama tiga tahun terakhir, di situlah letak risiko dari bergabung dengan klub yang hanya memiliki komitmen jangka pendek dengan para manajernya. Setiap pelatih Chelsea datang dengan ide-ide mereka sendiri dan daftar transfer mereka sendiri.

Menjadi pemain terbaik di bawah rezim sebelumnya tidak berarti apa-apa, bahkan ketika Anda telah memenangi gelar liga, Piala Dunia, penghargaan individu, dan daftar panjang pujian. Sarri sangat berharap agar Kante bisa beradaptasi di posisi barunya, tetapi ia lebih ingin melihat Chelsea untuk berhasil di bawah kepemimpinannya. Dalam kondisi seperti ini, kerusakan hubungan keduanya mungkin tidak dapat dihindarkan.

Temukan feature baru setiap harinya di FourFourTwo.com