Tips & Trik

Apa yang Saya Pelajari dari Paul Scholes, Patrick Vieira, dan Roy Keane

Mantan gelandang Manchester United yang kini membela Stoke City, Darren Fletcher, berbicara soal atlet-atlet terbaik di sepakbola, bagaimana meningkatkan kebugaran tubuh sebagai gelandang box-to-box, dan pentingnya otak sepakbola yang tajam

We are part of The Trust Project What is it?

FFT: Kemampuanmu untuk berlari dari kotak penalti ke kotak penalti adalah salah satu kekuatan sepakbolamu selama ini – apakah itu merupakan bakat alami atau hasil dari kerja keras?

Fletcher: Kombinasi dari keduanya. Ketika saya kecil, ayah saya dan pelatih-pelatih saya selalu mengatakan bahwa kemampuan saya dalam berlari adalah salah satu aset terbesar saya.

Sekarang, Anda akan menemukan banyak gelandang modern yang bermain sebagai gelandang bertahan atau sebagai pemain No. 10, tetapi saya tumbuh sebagai gelandang box-to-box klasik yang bisa melakukan segalanya.

Kerja keras jelas ikut ambil bagian. Saya sering berlari dan secara genetik, saya mungkin memang memiliki ketahanan tubuh yang baik dan bisa berlari ke sudut lapangan manapun. Saya tinggi, kurus, dan atletis, yang mana merupakan kombinasi yang bagus – jika dikombinasikan dengan kerja keras, ini bisa menjadi atribut yang bagus.

Apakah kamu punya latihan berlari khusus untuk meningkatkan kebugaran tubuhmu?

Saya sering melakukan triple box-to-box runs, di mana saya akan berlari dari kotak penalti satu ke kotak penalti lainnya seperti yang akan saya lakukan di pertandingan. Saya juga sering berlari dari kotak penalti ke garis tengah lapangan lalu kembali lagi dan melakukan semua itu sebanyak masing-masing tiga kali.

Saya selalu senang untuk melakukannya di lapangan langsung, untuk meniru apa yang saya lakukan di pertandingan.

Kamu pernah bermain bersama dan melawan beberapa atlet sepakbola terhebat – siapa yang paling membuatmu terkesan?

James McClean membuat saya terpukau di sesi latihan. Bahkan di puncak kebugaran saya, saat saya masih muda, akan sangat sulit untuk bisa mengimbanginya. Pemain-pemain top seperti Frank Lampard, Steven Gerrard, Patrick Vieira, Roy Keane – mereka semua juga atlet box-to-box yang hebat.

Saya sering menyaksikan Keane saat saya remaja dan bermain bersamanya juga – saya banyak belajar darinya.

Bagaimana pemain-pemain seperti Paul Scholes bisa tampil solid di lapangan meski secara fisik cukup kecil?

Scholes adalah contoh sempurna dari seorang pemain yang bermain dengan kepalanya. Kewaspadaannya di lapangan sebelum pemain lain mendekatinya adalah hal yang brilian. Ia akan memainkan bola dengan satu sentuhan dan tidak akan membiarkanmu mendekatinya, dan jika kamu berdiri terlalu jauh darinya, ia bisa memberikan bola ke manapun.

Sentuhan pertamanya pada bola begitu bagus hingga ia bisa memanipulasi atau menggerakkan bola ke area di mana kamu tidak akan bisa menyentuhnya.

Ia juga kuat dan tidak takut untuk ditendang lawan. Ukuran tubuh adalah hal yang relevan – yang terpenting adalah bagaimana Anda menggunakannya. Jika Anda secara teknis cukup bagus, pemain-pemain lawan tidak akan bisa mendekatimu.

Saya pernah merasakan pengalaman langsung soal itu. Scholes, Xavi, Andres Iniesta – sentuhan mereka pada bola dan intelejensia mereka membuat Anda tidak bisa menyentuh mereka.

Pernahkah kamu harus mengubah gaya permainanmu saat menghadapi lawan yang kamu kenal sangat kuat atau cepat?

Ya, selalu. Jika mereka kuat atau cepat, Anda harus beradaptasi pada mereka. Terkadang Anda bisa berlari ke arah mereka dan bersikap agresif, tetapi jika seseorang begitu cepat, Anda tidak boleh menekel mereka dengan menjatuhkan tubuh karena mereka bisa dengan mudah menghindarimu.

Jika mereka sangat kuat, Anda harus memiliki kekuatan mental untuk menghadapi mereka. Semuanya soal kecerdasanmu dalam memilih momenmu (untuk menghentikan mereka).

Apakah menurutmu kamu bisa menjadi seorang gelandang elit tanpa harus menjadi atlet yang bagus?

Ya. Scholes adalah contoh sempurnanya. Di gym, Anda mungkin akan berpikir bahwa hal itu tidak mungkin, tetapi secara teknis ia terlalu bagus untuk pemain lain. Ia begitu jauh di depan pemain lainya di area-area yang hampir tidak mungkin diukur – hal-hal seperti reaksi dan bagaimana mengantisipasi ke mana bola akan pergi. Ia sebetulnya bisa saja masih bermain hingga saat ini. Saya yakin ia masih bisa menggunakan sepatunya dan bermain hingga tiga tahun lagi.

Saya merasakannya sendiri di pertandingan amal untuk UNICEF bersama David Beckham. Saya masih bermain reguler setiap pekan, dan Scholes adalah pemain terbaik di lapangan itu.