Analisa

Apa Yang Terjadi Dengan Tim-Tim LPI Saat Ini?

Kompetisi yang sempat membuat heboh ini adalah salah satu titik sejarah penting dalam perjalanan sepakbola Indonesia menuju profesional. Lalu bagaimana nasib klub-klubnya saat ini?

We are part of The Trust Project What is it?

"Sepakbola tidak boleh menggunakan uang rakyat atau APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah)," begitu kata Arifin Panigoro, chairman Liga Primer Indonesia (LPI), pada tahun 2011 lalu.

Sejak Liga Indonesia bergulir pada tahun 1994 lalu, hampir semua klub memang mengandalkan APBD untuk mengarungi kompetisi. Semakin besar APBD yang didapatkan, semakin besar pula peluang klub mereka untuk menjadi juara. Kebiasaan itu tergolong unik, karena klub-klub tersebut berkompetisi di sebuah liga (yang katanya) profesional.

Dengan pendekatan seperti itu, sepakbola Indonesia tidak mampu lagi berprestasi. Masalahnya,  Klub-klub di Indonesia tidak bisa berjalan secara mandiri. Mereka hanya bisa berpangku tangan kepada pemerintah daerah masing-masing. Saat itu, profesionalisme hanyalah kedok.

Berdasarkan kebiasaan buruk tersebut, Arifin Panigoro, salah satu pengusaha Indonesia, kemudian mempunyai keinginan untuk membentuk sebuah liga yang bersifat independen. Dia berpendapat bahwa sepakbola seharusnya juga bisa menjadi lahan bisnis menguntungkan, sehingga mampu menarik minat perusahaan-perusahaan besar. Dan jika semuanya berjalan lancar, klub-klub tidak perlu lagi mengandalkan APBD untuk mengikuti kompetisi.

Keinginan Arifin Panigoro ini kemudian disampaikan dalam Kongres Sepakbola Nasional (KSN) di Malang, Jawa Timur, pada tahun 2010 lalu. Menariknya, banyak pemangku kepentingan sepakbola Indonesia menyetujui gagasannya. Seperti Arifin, mereka ingin sepakbola Indonesia berkembang dan kembali berprestasi. Liga Primer Indonesia (LPI) pun lahir dan mulai bergulir pada bulan Januari tahun 2011. LPI sendiri diikuti oleh 19 tim.

Sayangnya, karena LPI tidak berafiliasi dengan PSSI, masalah kemudian muncul. PSSI tidak mau mengakui keberadaan LPI. Mereka hanya mengakui keberadaan Liga Super Indonesia (LSI).  Otoritas tertinggi sepakbola Indonesia tersebut bahkan siap memberikan hukuman bagi anggotanya yang memilih untuk berkompetisi di LPI.

Menariknya, eksistensi LPI kemudian menyebabkan kisruh di PSSI. Ada silang pendapat yang terjadi di dalam tubuh mereka. FIFA, melalui Komite Normalisasi (KN) PSSI, terpaksa turun tangan. KN kemudian mengakui keberadaan LPI dengan sebuah catatan: LPI harus dihentikan untuk kemudian dilebur dengan LSI. Musim perdana LPI terpaksa dihentikan di tengah jalan. Beberapa klub LPI dan LSI kemudian dilebur menjadi satu untuk berkompetisi di Liga Prima Indonesia atau Indonesia Premier League (IPL).

Yang kemudian menjadi pertanyaan: Bagaimana nasib klub-klub peserta edisi perdana LPI sekarang ini?

Dari 19 perserta LPI, ada empat klub tradisional Indonesia: PSM Makassar, Persebaya 1927, Persibo Bojonegoro, dan Persema Malang. Keempat klub tersebut memilih berseberangan dengan PSSI karena berbagai macam alasan.

Menariknya, dari empat klub tradisional tersebut hanya Persibo Bojonegoro yang kesulitan untuk bersaing dengan kontestan-kontestan LPI lainnya. Ketika LPI dihentikan, Persebaya 1927, Persema Malang, dan PSM Makassar menjadi kekuatan utamanya. Dari 18 pertandingan, Persebaya 1927 dan Persema Malang berhasil mengumpulan 40 angka, berada di posisi pertama dan kedua, unggul enam angka dari PSM Makassar yang berada di peringkat ketiga. Saat itu, Persibo sendiri hanya mampu berada di peringkat kedelapan. 

Kemudian, dari empat klub tradisional yang membelot tersebut, hanya PSM Makassar yang berhasil lolos dari sanksi PSSI. Entah bagaimana prosesnya, yang jelas hingga saat ini PSM Makassar masih bisa berkompetisi di divisi teratas tanah air, Liga 1. Anak asuh Robert Rene Alberts tersebut bahkan sementara nangkring di papan atas Liga 1 setelah menjalani empat pertandingan. Bersama Arema FC, Persib Bandung, dan PS TNIJuku Eja, julukan PSM Makassar, sama sekali belum menyentuh kekalahan.

Sementara itu, Persema Malang, Persebaya 1927, dan Persibo Bojonegoro harus rela mendapatkan sanksi tegas dari PSSI. Pasca berakhirnya IPL pada tahun 2013 lalu, status mereka dibekukan oleh PSSI.

Lalu, karena adanya berbagai macam tuntutan dari banyak pihak, dalam sebuah kongres yang dilakukan PSSI Januari lalu, pembekuan status ketiga tim tersebut akhirnya berakhir. Persema Malang, Persebaya 1927 (yang kemudian menjadi Persebaya Surabaya), dan Persibo Bojonegoro kembali menjadi anggota PSSI.

Menariknya, setelah statusnya dipulihkan Persema Malang, Persibo Bojonegoro, dan Persebaya  mendapatkan perlakukan berbeda dari PSSI. Sementara Persebaya akan berkompetisi di Liga 2, Persibo dan Persema harus rela berkompetisi di Liga 3 atau Liga Nusantara. Meski begitu, Persema dan Persibo mengaku tetap bersyukur dengan keputusan PSSI tersebut.

"Begitu pun Alhamdulillah, mas. Kami bisa main lagi meski mainnya di Liga Nusantara. Kami anggap ini sebagai pemanasan menuju kasta profesional," kata Dito Arief, juru bicara Persema Malang, saat dihubungi wartawan Tempo pada Januari lalu.

Jika eksistensi empat klub tradisional yang menjadi peserta LPI edisi pertama masih bertahan hingga saat ini, 15 klub peserta LPI lainnya, seperti Tangerang Wolvers, Bandung FC, Real Mataram, hingga Bintang Medan. mempunyai nasib yang tidak jelas. Sebagian besar di antaranya bahkan sudah membubarkan diri. Hal ini terjadi karena klub-klub tersebut sengaja dibentuk hanya untuk mengikuti LPI, di mana mereka mendapatkan bantuan dana awal dari pengelola LPI untuk mengarungi kompetisi. 

Foto utama: BBC