Apa yang Terjadi Kepada Pemain Muda Paling Berbakat Chelsea, Gael Kakuta?

Gael Kakuta

Pemain muda yang membahayakan Chelsea karena hampir mendapatkan sanksi FIFA dan UEFA, kini nasibnya tidak jelas...

Pararel-nya cukup banyak dan menyakitkan untuk Gael Kakuta di musim panas ini.

Dengan masalah kontrak membuat pemain 26 tahun ini absen di laga pembuka Amiens melawan PSG, masalah yang sama juga membuat Neymar - yang tujuh tahun lebih muda, sama-sama dipuja saat masih remaja, sekarang harganya lebih mahal darinya- harus duduk di bangku penonton. Tidak perlu hadiah untuk menebak siapa yang menjadi sorotan media karena absen.

Kakuta tetap menjadi salah satu bakat paling menjanjikan, namun tidak pernah bisa menjadi superhero yang diharapkan.

Saat kembalinya Kakuta ke sepakbola Eropa nyaris tidak diperhatikan siapapun, masa depan mantan rekannya di tim muda Perancis pada masa silam, Antoine Griezmann dan Alexandre Lacazette terus menarik perhatian dan menghabiskan uang tim-tim besar yang ingin mendapatkan jasanya.

Di bulan Mei, Marco Asensio - pemenang pemain terbaik Piala Eropa U19 tahun 2015, penghargaan yang diraih Kakuta lima tahun sebelumnya- menciptakan gol di Final Liga Champions dan membawa Real Madrid juara, dan kini ia bergerak cepat ke puncak kariernya.

Rekan-rekannya di angkatan elit ini sudah mulai menapaki level teratas. Kakuta tetap menjadi salah satu bakat paling menjanjikan, namun tidak pernah bisa menjadi superhero yang diharapkan.

Jenius yang Menarik Perhatian

Apapun kelemahan yang ia miliki sebagai seorang pemain, semuanya tersembunyi nyaris satu dekade silam saat ia dengan luar biasa menghancurkan lini belakang lawan dengan usia yang berada di atasnya. Dengan mengenakan jersey yang kebesaran, Kakuta membuat lawan yang lebih rapih menjadi berantakan, meninggalkan mereka di belakang dengan kecepatan hebat yang ia punya.

Gael Kakuta Chelsea

Kakuta di 2008, bermain bagi Chelsea di FA Youth Cup

Ia punya lebih banyak trik daripada seorang Tony Hawk, tapi tidak hanya itu, ia juga punya visi tersendiri; kemampuan untuk melepaskan bola ke rekannya yang tak terjaga di ruang terbuka saat para bek lawan fokus ke dirinya. Sang gelandang menyerang ini punya rasa lapar dan antusiasme ala Labrador; meminta bola dari rekannya; mengejar siapapun yang berani mengambil bola darinya.

Segalanya tampak seperti perpaduan sempurna antara skill dan sensibilitas di lapangan -dan tentu saja, saat Kakuta melepaskan crossing yang diselesaikan Lacazette untuk membawa Perancis meraih juara di Piala Eropa U19 tahun 2010, ia sudah mulai menunjukkan apa yang bisa ia berikan untuk tim utama Chelsea.

Kakuta satu-satunya pemain yang tampil mengesankan

- Carlo Ancelotti

Setelah menyelesaikan musim pertamanya sebagai top skorer tim muda dan pemain terbaik di Chelsea, bekerja sama dengan baik bersama Fabio Borini dan Daniel Sturridge di tim pelapis, Kakuta menjalani debut Liga Champions nya pada bulan Desember 2009. Pertandingan tersebut berakhir dengan hasil mengecewakan 2-2 melawan Apoel Nicosia, namun bos Chelsea, Carlo Ancelotti, menegaskan bahwa pemain yang saat itu baru berusia 18 tahun ini adalah "satu satunya pemain yang tampil mengesankan"

Musim selanjutnya, di 2010/11, Kakuta adalah satu dari sedikit hal positif dalam upaya mempertahankan gelar yang gagal total ala Chelsea. Ia tampil 12 kali di paruh pertama musim, dengan Ancelotti sampai merasa bersalah karena penampilan berantakan timnya membuat dirinya tidak bisa mengembangkan talenta hebat yang dimiliki oleh klub ini.

Pages