Apa yang Terjadi Pada Negara-Negara Ini Setelah Sanksi FIFA Dicabut?

Apakah sanksi FIFA memberikan dampak positif bagi negara-negara yang mendapatkannya? Atau malah negatif? Nanda Febriana mencari tahu...

Menjelang satu tahun usia sanksi dijatuhkan oleh FIFA terhadap Indonesia, Kementerian Pemuda dan Olahraga akhirnya mencabut Surat Keputusan Pembekuan PSSI kemarin (10/5/2016). Sebuah langkah besar yang mungkin akan membuat sanksi FIFA bias dicabut segera. Lalu, berandai-andai sanksi FIFA benar-benar dicabut nanti, apa yang harus dilakukan sepakbola Indonesia untuk mengembalikan kondisi menjadi normal kembali? Terakhir yang kita dengar dari Menpora Imam Nahrawi sih, adalah rencananya merekrut Jose Mourinho untuk menjadi pelatih timnas Indonesia. Yang benar saja.

Indonesia mungkin perlu mencontoh bagaimana beberapa negara berikut akhirnya lepas dari sanksi FIFA yang dijatuhkan kepada mereka. Beberapa di antaranya tetap bisa berprestasi meski sepak bola mereka dibekukan dari aktivitas internasional selama periode tertentu, tanpa harus merekrut Mourinho. Upaya-upaya untuk membenahi sistem di dalam negeri memang seharusnya memberikan dampak positif di atas lapangan, bukan sebaliknya.

Dan inilah para 'kompatriot' Indonesia dalam kelompok korban sanksi FIFA dan bagaimana perkembangan sepak bola mereka setelah sanksi dicabut. Perlu dicatat: beberapa upaya mereka ternyata bisa memberikan hasil yang membanggakan.

1. Kuwait

Apa yang terjadi pada Kuwait hingga mereka mendapatkan sanksi pada 6 Oktober 2015 silam kurang lebih sama dengan yang terjadi di Indonesia. Kementerian Pemuda dan Olahraga Kuwait terus ikut campur dalam pemilihan petinggi baru federasi resmi sepak bola negara tersebut, KFA.

Ini bukan kali pertama Kuwait mendapatkan sanksi, sebelumnya tercatat dua kali sepak bola Kuwait mendapatkan hukuman dari FIFA. Dua periode tersebut terjadi pada 29 Oktober 2007 sampai 9 November 2007 dan 25 Oktober 2008 sampai 21 Desember 2008.

Sanksi tak membunuh nafas sepak bola Kuwait dan tak butuh waktu lama bagi negara tersebut untuk membuktikan kebangkitan mereka. Mungkin ini yang membuat mereka seperti kecanduan mendapatkan sanksi – mereka tak khawatir soal prestasi usai dipukul mundur. Pada awal tahun 2009, tepatnya dalam Turnamen Piala Teluk 2009 yang dihelat pada 4-17 Januari, Kuwait melangkah keluar dengan kepala tegak sebagai semifinalis. Dalam turnamen yang diikuti delapan negara ini, Kuwait adalah tim dengan peringkat FIFA terburuk kedua (127) setelah Yaman (145), sedangkan dua negara dengan peringkat FIFA terbaik adalah Arab Saudi (48) dan Irak (72).