Apakah Jose Mourinho Sudah Tidak Sehebat 10 Tahun Lalu?

Jumlah trofi menurun, dan performanya bersama klub baru tidak sebagus harapan... apakah Jose Mourinho sudah tidak sehebat satu dekade lalu? Renalto Setiawan melihat kembali perjalanan karier Mourinho dan mencari tahu benarkah hal itu terjadi...

"Akulah sang istimewa," dengan penuh percaya diri, Jose Mourinho memperkenalkan dirinya kepada publik sepakbola Inggris dalam jumpa pers pertamanya sebagai manajer Chelsea pada tahun 2004 lalu.

Publik sepakbola Inggris sedikit menggerutu karena perkenalan fenomenal tersebut. Bahkan Sir Alex Ferguson, manajer Manchester United, sempat mengatakan bahwa Mourinho sangat sombong pada saat itu. Namun saat pernyataan tersebut pada akhirnya sering dikutip banyak orang, layaknya pernyataan-pernyataan Mark Twain – "Kamu tidak akan pernah salah saat melakukan sesuatu yang benar" misalnya –, pada akhirnya, semua orang mengakui bahwa Mourinho memang seorang pelatih yang benar-benar istimewa.

"Dia sangat pintar. Dia adalah murid terbaik saya sejauh ini," kata Carlos Queiroz, mantan mentor Mourinho, kepada Sir Alex Ferguson.  

Sebelum dipercaya oleh Roman Abramovic untuk mengotaki timnya, Mourinho berhasil membuat geger di Portugal dan di Eropa. Setelah sukses membuat U.D. Leira, sebuah klub medioker, menjadi buah bibir di Portugal, Mourinho dikontrak oleh FC Porto, salah satu klub terbaik di Liga Portugal yang saat itu terlihat seperti seekor naga yang sedang tertidur. Di kancah domestik, Porto sudah tidak memenangi liga selama tiga musim berturut-turut. Di Eropa, baik di Liga Champions maupun di Piala UEFA (saat ini menjadi Europa League), Porto hanya menjadi kucing-kucingan tim-tim hebat Eropa lainnya. Seperti bola ping-pong, mereka terus dipukuli dari satu sisi ke sisi lainnya. Lalu semuanya tiba-tiba berubah setelah Mourinho menancapkan tombak kekuasaannya di Dragao: selama dua setengah tahun, tidak hanya berhasil tampil hebat di kancah domestik, di mana Porto memenangi dua gelar Liga Portugal (musim 2002/03 dan 2003/04) dan satu Piala Portugal (2002/03), Porto juga berhasil memenangkan Liga Champions Eropa setelah terakhir kali melakukannya pada tahun 1987 lalu.

Porto menjadi loncatan pertama Mourinho menuju karier yang akan dikenang selamanya

Salah satu kunci sukses Porto pada waktu itu adalah metode pelatihan baru yang diterapkan oleh Mourinho. Sebuah metode pelatihan yang tidak biasa dilakukan di Portugal. Untuk memastikan tidak ada energi dan tidak ada waktu yang dibuang sia-sia oleh para pemainnya, Mourinho menggunakan pendekatan secara ilmiah di setiap sesi latihan. Apa yang dilakukan pemainnya diukur dan diarahkan untuk tujuan tertentu. Hal ini terjadi karena Mourinho sangat peduli terhadap detail. Dia ingin pemain-pemainnya mampu menerapkan keinginannya tanpa sedikit pun melakukan kesalahan. Menurutnya, tim yang akan memenangkan sebuah pertandingan adalah tim yang paling sedikit melakukan kesalahan. Dengan pendekatan seperti itu, Mourinho kemudian tidak peduli dengan filosofi permainan tertentu. Dia bisa menghadapi satu pertandingan dengan dua hingga lima game-plan berbeda. Baginya, kemenangan adalah segalanya. Tak peduli jika kemenangan itu diraih dengan skor 1-0 berkali-kali.

Mourinho selalu mempelajari permainan jauh hari sebelum pertandingan, melihat cara tim lain bermain, dan hal baiknya apa yang kami lakukan di waktu latihan benar-benar terjadi di dalam pertandingan..

- Deco

"Mourinho selalu mempelajari permainan jauh hari sebelum pertandingan, melihat cara tim lain bermain, dan hal baiknya apa yang kami lakukan di waktu latihan benar-benar terjadi di dalam pertandingan... Bila Anda sudah siap untuk menghadapi segala sesuatu yang bisa terjadi di dalam pertandingan, itu artinya tim Anda lebih siap daripada tim lawan yang akan Anda hadapi," ungkap Deco, mantan gelandang Porto.   

Meski sempat mendapatkan cibiran dari pelatih-pelatih tradisional di Portugal, pendekatan yang dilakukan Mourinho terbukti sukses. Porto menjadi tim yang sangat sulit untuk dikalahkan. Saat menjadi juara Liga Portugal pada musim 2002/03, Porto berhasil meraih 86 angka, tertinggi dalam sejarah liga Portugal. Dan dalam dua musim terakhirnya bersama Mourinho, Porto hanya mengalami empat kali kekalahan dari enam puluh delapan pertandingan liga.

Deco menjadi saksi kejenisuan Mourinho ketika di Porto

Selain pendekatannya terhadap masalah teknis, karakter yang dimiliki Mourinho juga memberikan dampak yang signifikan terhadap kesuksesan Porto. Mourinho adalah tipe orang yang mampu menghadapi gelombang harapan dengan rasa percaya diri yang luar biasa. Ambisi dan ego yang dimilikinya mungkin juga lebih besar daripada lapangan bola. Selain itu, dia juga ingin selalu menjadi pusat perhatian. Dan saat hal-hal yang dinginkannya tidak berjalan dengan lancar, dia bisa menyalahkan apa saja dan siapa saja – meski kadang Mourinho sering menertawakan dirinya sendiri karena kelakuan konyolnya tersebut.

"Mourinho membawa sesuatu yang berbeda (ke Porto); Dia membawa ambisi... Dia juga memberikan kepercayaan diri kepada kami," kenang Deco lagi.