Analisa

Apakah UEFA Nation League Membuat Jeda Internasional Lebih Menarik?

UEFA Nations League menjadi ajang resmi di tengah jeda internasional, tapi apakah kehadirannya menarik perhatian pecinta sepakbola?

We are part of The Trust Project What is it?

Guyonan ‘tak ada sepakbola di jeda internasional’ memang beredar luas dalam beberapa tahun terakhir ini. Mungkin sejak dulu guyonan ini sudah ada, namun mulai meroket lagi sejak sosial media menguasai layar gawai kita semua. Padahal, di jeda internasional pun, sepakbola masih berjalan seperti biasanya meski tak menumpuk semua di akhir pekan. Pekan lalu saja, ada laga Inggris vs Spanyol. Ya, Spanyol dan Inggris, dua tim nasional yang cukup terkenal pemain-pemainnya itu, lho.

Namun, animo jeda internasional memang tak ada wangi-wanginya; baik dari sisi penonton bahkan dari sisi klub. Manajer klub-klub besar seperti Jose Mourinho dan (sang mantan) Arsene Wenger di beberapa musim lalu saja pernah mengeluhkan masalah jeda internasional. Baru-baru ini, bahkan pemain sekelas Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo saja tak berpartisipasi di tim nasionalnya masing-masing. Okelah Messi dan Argentina hanya sekadar laga persahabatan melawan tim nasional antah berantah. Namun Ronaldo dan Portugal, ia seharusnya berpartisipasi di UEFA Nations League melawan Kroasia dan Italia kali ini. 

“Setelah berbicara dengan para pemain dan setelah ia hengkang ke Juventus, ia memerlukan proses adaptasi di tempat barunya tersebut, kami (timnas Portugal) memahami bahwa hal tersebut adalah hal yang terbaik untuk tidak hadir di beberapa pertandingan kali ini,” ungkap Fernando Santos, pelatih tim nasional Portugal.

Ronaldo yang tak bisa hadir di awal-awal pagelaran bertajuk UEFA Nations League ini, sebetulnya bisa ditafisrkan dalam makna bahwa event ini sebetulnya tak penting-penting amat. Namun juga bisa berubah tafsirnya seiring dengan perjalanan waktu yang kemungkinan besar terdongkrak gengsinya di masa yang akan mendatang. UEFA Nations League ini mempunyai potensi untuk mengubah paradigma tersebut.

Istilah ‘meaningless friendly’ atau laga persahabatan yang tak berfaedah ini sebetulnya yang digarap oleh UEFA agar menjadi lebih berfaedah. Sebelumnya, beberapa tim nasional kuat terkadang bertanding melawan tim nasional yang lebih lemah atau yang tak terkenal karena adanya undangan untuk hadir di kandang dari tim nasional yang tak terkenal tersebut. Fulus jelas menjadi motivasi beberapa federasi sepakbola negara saat timnasnya diundang ke negara lain. Bagi negara kecil, jelas menguntungkan, untuk negara besar dengan beberapa pemain besar, jelas tak tak terlalu berfaedah.

Namun kini, lihat saja bagaimana UEFA menghidupkan aura kompetisi dengan membagi empat divisi dan di divisi pertama dihuni dengan negara besar yang memiliki koefisien tinggi di rangking FIFA. Lewat pembagian ini saja, sudah jelas UEFA ingin mempertemukan negara-negara besar dalam satu wadah yang bisa menjual dan menarik hati para penonton yang jengah dengan jeda internasional. Kemasan dan ide yang bagus sebetulnya, namun juga UEFA membuat ini lebih rumit pada tahapan selanjutnya dalam penentuan play-off serta jatah untuk mereka yang akan lolos Piala Eropa tahun 2020 nanti.