Apakah Wasit Asing Adalah Jawaban Permasalahan Akut di Sepakbola Indonesia?

Pada sore hari anak-anak di kampung-kampung Pulau Jawa sering kali menghabiskan waktu dengan bermain sepakbola bebas. Mereka akan bermain di lahan kosong, entah itu lapangan sepakbola sungguhan atau bukan, tanpa berdasarkan aturan sepakbola semestinya.

Setiap tim yang bermain belum tentu terdiri dari 11 orang, bisa lebih bisa kurang. Sepatu bola bukan sebuah kewajiban. Permainan ini juga tidak mengandalkan kepemimpinan wasit. Asalkan ada gawang yang biasanya ditandai dengan tumpukan sandal, permainan dapat berlangsung dengan lancar.

Menariknya, meski berlangsung dengan cara seperti itu, ada sebuah keputusan absolut dalam permainan tersebut: saat ada azan magrib berkumandang, permainan harus berakhir. Sebesar apa pun hasrat Anda untuk menjadi Alfredo Di Stefano dan sekuat apa pun keinginan Anda untuk membalas tekel keras dari lawan dalam permainan tersebut, azan magrib akan mengakhirinya tanpa boleh didebat.

Sebagaimana azan magrib dalam sepakbola bebas di kampung, wasit juga mempunyai kekuasaan absolut dalam sepakbola sesungguhnya. Segala keputusannya seharusnya tidak bisa dan tidak boleh untuk dibantah. Meski begitu, ada perbedaan yang cukup mendasar antara kekuasaan azan magrib dalam sepakbola bebas di kampung denga kekuasaan wasit di dalam sepakbola sesungguhnya: azan magrib berkumandang pada waktu yang sudah ditentukan, sedangkan keputusan wasit biasanya berdasarkan dari sebuah pengamatan.

Dengan begitu, sebesar apa pun pengaruh buku pertandingan sepakbola – terutama Law of The Games FIFA – di dalam kepala seorang wasit, ia bisa saja luput dalam memberikan vonis. Dan segalanya bisa bertambah rumit apabila seorang wasit yang memimpin jalannya pertandingan ternyata bukan seorang wasit yang kompeten.

Wasit asing bukan jawaban permasalahan

Karena keluhan dari berbagai pihak mengenai kepemimpinan wasit, saat Liga 1 baru berjalan selama enam pekan, PT LIB kabarnya terpaksa memberikan sanksi kepada 8 wasit dan 10 asisten wasit. Mereka dilarang bertugas untuk sementara dan akan dievaluasi.

Namun, sanksi tersebut ternyata tak banyak mengubah keadaan. Hingga Liga 1 berlangsung selama setengah musim, keputusan-keputusan janggal dari wasit masih sering menghiasi jalannya pertandingan. Dan untuk mengatasi masalah tersebut, PT LIB kemudian memilih untuk mengambil soluisi jangka pendek: memperkerjakan sejumlah wasit asing yang memiliki lisensi FIFA.

Penggunaan wasit asing di Liga 1 sendiri rencananya akan dilakukan dalam tiga periode, 2 Agustus- 15 Agustus 2017, 16 Agustus-28 Agustus 2017, dan 29 Agustus 2017-11 September 2017. Dalam periode pertama, Liga 1 akan menggunakan enam wasit asing, tiga dari Australia dan tiga dari Kirgistan. Dan dalam periode setelahnya, munurut sekjen PSSI, Ratu Tisha, Liga 1 akan menggunakan wasit dari negara yang berbeda.

Saat Liga 1 baru berjalan selama enam pekan, PT LIB kabarnya terpaksa memberikan sanksi kepada 8 wasit dan 10 asisten wasit. Mereka dilarang bertugas untuk sementara dan akan dievaluasi

Yang kemudian menjadi pertanyaan: apakah wasit-wasit asing tersebut bisa membuat Liga 1 menjadi lebih baik?

Di Liga 1, tidak semua wasit lokal yang bertugas mempunyai linsensi FIFA. Kebanyakan dari mereka hanya berlisensi C1. Meski lisensi tersebut sudah cukup untuk memimpin pertandingan tertinggi di tingkat nasional, kualitas yang mereka miliki tentu saja masih kalah jika dibandingkan dengan wasit berlisensi FIFA.

George Cumming, mantan direktur wasit FIFA, pernah mengatakan bahwa wasit-wasit di Indonesia saat ini kesulitan untuk mendapatkan lisensi FIFA. Kendalanya seragam: sebagian besar dari mereka tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik. Dengan pendekatan seperti itu, selain kesulitan untuk mendapatkan lisensi FIFA, wasit-wasit tersebut juga akan kesulitan untuk mendapatkan perkembangan informasi terbaru yang biasanya menggunakan bahasa Inggris.