Kisah

Arseto Solo: Klub Legendaris yang Terus Dirindukan

Walau hanya berumur pendek, Arseto Solo mampu meraih status sebagai salah satu klub legendaris di sepakbola Indonesia...

We are part of The Trust Project What is it?

Dalam sebuah pertandingan persahabatan antara Kitchee SC melawan AC Milan pada tahun 2004 lalu, Rochy Putiray berhasil menjadi pusat perhatian. Memulai pertandingan dari bangku cadangan, penyerang asal Indonesia yang sempat diduga berasal dari Kosta Rika oleh komentator pertandingan tersebut berhasil mencetak dua gol penentu kemenangan bagi Kitchee SC. Kehebatan yang ditunjukkan Rocky saat itu memang tak biasa. Ia berhasil memperdaya barisan pertahanan kokoh Milan yang dikawal oleh Paolo Maldini dan Alessandro Costacurta. Bagaimana bisa seorang penyerang yang sempat tak diketahui asal usulnya bisa mengalahkan dua bek tangguh yang dikenal di seantero jagad?

Pada tahun yang sama saat Rochy membuat kehebohan di Hongkong, timnas Indonesia berlaga di Piala Asia 2004. Meski akhirnya gagal di turnamen paling bergengsi di daratan Asia tersebut, timnas setidaknya berhasil memberikan sedikit kejutan; dalam pertandingan pembuka timnas Indonesia berhasil mengalahkan Qatar 2-1. Dan saat Philippe Troussier, pelatih Qatar pada saat itu, mengatakan bahwa kekalahan itu merupakan kekalahan yang kejam bagi timnya, mungkin tidak ada orang yang lebih berbahagia daripada Agung Setyabudi. Saat itu, sebagai kapten timnas, Agung adalah orang yang paling bertanggung jawab  di atas lapangan.

Lima tahun sebelumnya, tepatnya dalam pertandingan semifinal Liga Indonesia antara PSIS Semarang dan Persija Jakarta, I Komang Putra, kiper PSIS, bermain sangat luar biasa. Terus digempur barisan penyerang hebat Persija, ia beberapa kali melakukan penyelamatan gemilang. Pada akhirnya, PSIS berhasil memenangkan pertandingan. Dan beberapa hari setelahnya, dengan performa yang tak jauh berbeda, I Komang Putra juga berhasil menjadi salah satu bintang kemenangan PSIS saat mengalahkan Persebaya di partai final. Saat itu, namanya berdiri sejajar dengan Ali Sunan dan Tugiyo, dua bintang kemenangan PSIS Semarang lainnya.

Bagi Rochy, Agung, dan Komang, momen-momen di atas tentu saja tak akan pernah mereka lupakan. Momen-momen tersebut adalah titik tertinggi mereka sebagai pesepakbola.  Dengan senang hati, mereka mungkin akan menceritakan kehebatan mereka itu bagi siapa saja yang ingin mendengarkannya.

Pages