Kisah

Asian Games, Usaha Terakhir Son Heung-min untuk Bebas dari Wajib Militer

Rumit betul situasi yang dihadapi Son Heung-min. Di tengah kariernya yang sedang melangit bersama Tottenham Hotspurs, ia mesti menjalani wajib militer. Tak tanggung-tanggung, kewajiban itu mesti ia ikuti selama kurang lebih dua tahun. Artinya, Son terpaksa rehat terlebih dahulu dari sepakbola selama kurun tersebut.

We are part of The Trust Project What is it?

Tentu ini menjadi kerugian bagi dirinya sendiri. Ia sedang bagus-bagusnya. Dalam dua musim terakhir di Premier League, Son selalu menjadi pilihan utama Spurs. Statistiknya pun tak main-main. Ia total mencetak 26 gol dari 71 laga. Ini belum ditambah dengan catatan-catatan lain, seperti statistik dribel, umpan kunci, atau asis.

Dan dengan absen selama dua tahun, besar kemungkinan segala capaiannya itu kelak akan menurun sebab kemampuannya mungkin berkurang atau setidaknya membutuhkan waktu yang tak sebentar untuk mengembalikan performa terbaik. Atau bahkan kemungkinan yang lebih buruk: performanya malah benar-benar flop.

Son tentu tak menginginkan ini. Begitu pula dengan Spurs selaku tim yang memiliki tanda tangannya. Namun, apa boleh bikin. Peraturan di Korea Selatan mengharuskan semua warga negara mereka yang berjenis kelamin laki-laki untuk mengikuti wajib militer sebelum berusia 28 tahun. Artinya, Son yang seorang laki-laki, berkewarganegaraan Korea Selatan, dan kini berusia 26 tahun tak bisa menghindar begitu saja.

Jika pun coba menghindar, maka ia akan bernasib sama seperti seorang rapper bernama Mong yang dihukum enam bulan penjara lantaran dengan sengaja menanggalkan giginya demi mangkir dari wajib militer, atau penyanyi bernama Yoo Seung Jun yang mengubah status kewarganegaraan menjadi Amerika Serikat sehingga diasingkan oleh negara asalnya.

“Setelah dua setengah tahun, umur saya akan hampir 30. Saya juga harus mempertimbangkan kehidupan seorang penyanyi yang cukup singkat,” kata Seung Jun soal keputusannya itu, 2002 lalu.

Tapi kita tahu bahwa banyak jalan menuju Roma. Dan dalam kasus Son, ada beberapa cara legal yang bisa ia tempuh. Pertama adalah mengikuti jejak seniornya, Park Chu-young yang mengajukan izin tinggal selama beberapa tahun di luar negeri (saat ia bermain untuk AS Monaco) sehingga memungkinkan Park untuk menunda wajib militer sampai masa izin tinggal di luar negerinya itu habis. Sayangnya, kendati legal, langkah ini tetap akan membuat namanya buruk dan Son rasanya tak menginginkan itu.

Maka, satu-satunya langkah yang paling memungkinkan untuk ia tempuh adalah mendapat prestasi atas nama negaranya. Sebagai seorang atlet, Son mendapat kesempatan untuk tidak mengikuti wajib militer selama dua tahun jika ia mampu meraih prestasi atas nama Korea Selatan di ajang tertentu. Dan sebab ia seorang pesepakbola, serta merujuk usianya saat ini, maka kesempatan itu ada pada ajang yang digelar tahun ini: Piala Dunia dan Asian Games.

Di Piala Dunia, target yang dipatok negaranya adalah semifinal, sedangkan Asian Games adalah medali emas. Sayangnya, kesempatan Son untuk bebas dari wamil lebih cepat lewat Piala Dunia tidak membuahkan hasil. Ia memang mampu membawa Korea Selatan menaklukkan juara bertahan Jerman di laga terakhir, namun itu tak cukup untuk membuat negaranya lolos dari babak grup sebab hanya mampu finis di urutan ketiga klasemen, di bawah Swedia dan Meksiko yang  lebih dulu mengalahkan mereka di dua laga sebelumnya. Dengan begini, emas Asian Games adalah jalan terakhir.