Musim Pertama: Bagaimana Thierry Henry Memulai Kariernya di Arsenal dan Menjadi Legenda (Arsenal, 1999/2000)

Thierry Henry

Adaptasinya yang lambat di Highbury sudah menjadi rahasia umum, tapi yang tak banyak diketahui adalah pemuda berusia 22 tahun itu nyaris saja menyerah. Saat musim itu berakhir, yang menyerah justru para bek-bek lawan.

Thierry Henry, Arsene Wenger

Thierry Henry tahu bahwa sesuatu harus berubah. Dia sudah membuat keputusan - pagi itu dia akan pergi ke ruangan Arsene Wenger di London Colney dan mengatakan kepada manajernya bahwa dia tak mau menjadi striker lagi. 
 
Toh, tidak akan ada yang keberatan, tidak dengan para suporter yang telah kecewa dengan awal karier pemuda 22 tahun itu di Arsenal, dan setidaknya Henry sendiri, yang kepercayaan dirinya jeblok setelah beberapa bulan yang sulit di awal-awal kariernya di London Utara. Patrick Vieira bercanda bahwa Henry adalah pemain yang dibeli dengan sia-sia dan itu terasa menyakitkan. 
 
Selain itu: dia seorang pemain sayap, kan? Muda, elegan, dan gaya bermainnya langsung cocok dengan gaya yang dia miliki saat itu. Itu adalah posisi yang dia tempati di Monaco dengan hasil yang sukses, juga saat dia bermain bersama Perancis di Piala Dunia 1998 - saat ia menjadi pencetak gol terbanyak negaranya - dan juga di Juventus. Itulah yang diketahui orang-orang tentang dirinya, dan bagaimana dia mengenali dirinya sendiri. 

Tapi, Henry tidak jadi menemui Wenger hari itu, dan tidak pernah memberitahukan pelatih asal Perancis tersebut, bahwa dia tak ingin menjadi striker lagi. Saat itu, ia sampai di lapangan untuk menjalani latihan dan mengubah niatnya. Ayo coba sekali lagi, pikirnya. 

Kesabaran Berbuah Kesempurnaan

Arsene selalu tahu apa yang terbaik. Ketika dia mendatangkan Henry dari Juventus dan mencetak rekor pembelian termahal klub dengan nilai £11 juta pada Agustus 1999, ia memang berniat memainkan Henry sebagai ujung tombak.

Kamu menyia-nyiakan waktumu di posisi sayap, kamu adalah seorang pemain nomor 9

- Arsene Wenger

Wenger telah mengatakan kepada Henry bahwa dia ingin merekrutnya saat dalam penerbangan dari Italia ke Paris beberapa bulan sebelumnya, sebuah pertemuan yang kebetulan terjadi di antara keduanya, ketika manajer The Gunners yang berkacamata tersebut mengingatkan sang pemain: "Kamu menyia-nyiakan waktumu di posisi sayap, kamu adalah seorang pemain nomor 9 (striker)."
 
Dia benar-benar ingin memiliki Henry sebelum dia bergabung dengan Juventus, tapi klub Italia itu memiliki tawaran yang lebih besar. Sang pemain berbicara dengan Wenger selama 30 menit sebelum menandatangani kontrak dengan raksasa Italia tersebut, dan itu sudah terlambat bagi Wenger untuk mencegah hal itu terjadi.

Thierry Henry, Monaco

Henry yang berusia 19 tahun saat itu sukses membawa Monaco lolos ke semifinal Piala UEFA 1997

Mantan manajernya di Monaco itu selalu menjadi orang yang memahami potensi Henry, di mana Wenger memberikan debut di tim senior pada Henry yang saat itu baru berusia 17 tahun, walaupun 17 hari kemudian, Wenger dipecat karena timnya mengawali musim dengan buruk pada musim 1994/95.
 
Henry telah menjadi striker produktif di level junior, di mana gol datang dengan mudah pada saat, seperti penuturannya sendiri, dia merasa seperti  seorang 'striker sejati'. Tapi dia masih dianggap terlalu mentah untuk memberikan kontribusi yang sama di tim utama. Monaco saat itu juga memiliki Sonny Anderson dari Brasil yang sangat mematikan di kotak penalti, untuk memimpin lini depan mereka saat itu, jadi Henry menghabiskan masa-masa awal bermainnya di sayap kiri di mana kemampuan terbaiknya bisa dimanfaatkan. Secara bertahap, posisi aslinya menjadi tidak alami lagi. 
 

SELANJUTNYA: Pemain Arsenal secara tidak sengaja berkontribusi bagi transfer Henry

Pages