Back To The Future Day: Persib Bandung Versus PSMS Medan & Kisah Menarik Lainnya

Bertepatan dengan Back To The Future Day, kami mengajak pembaca mengenang sepakbola Indonesia tahun 1985. Apa saja kisah menarik yang terjadi?

Oleh Agung Harsya - Goal.com

Tanggal 21 Oktober 2015 merupakan tanggal yang istimewa bagi kalangan penggemar budaya populer, terutama fans trilogi film "Back To The Future". Dikisahkan dalam film yang dibintangi Michael J. Fox itu, seorang remaja bernama Marty McFly berkelana dengan mobil mesin waktu yang diberi nama DeLorean ke tahun 2015. Kapan persisnya? Tepat hari ini.

"Back To The Future" dirilis 1985. Film besutan Rob Zemeckis dan diproduseri Steven Spielberg itu berisi fantasi tentang suasana yang mungkin terjadi 30 tahun ke depan. Misalnya, dandanan busana ala futuristik, mobil terbang, hoverboard, film "Jaws 19", hingga sepatu keren yang talinya bisa mengikat sendiri. Banyak sekali scene ikonik yang dikenang hingga saat ini. 

Tak heran di berbagai negara hashtag #BackToTheFutureDay atau #BTTFD menjadi trending topic di media sosial. Tak terkecuali di Indonesia. Kami pun dilanda demam "Back To The Future". Buktinya? Kami mencoba menyajikan kilas balik apa yang terjadi dengan sepakbola Indonesia, 30 tahun silam.

Kejadian paling menyita perhatian di dunia sepakbola Indonesia tahun tersebut tentu saja adalah final Perserikatan antara Persib Bandung dan PSMS Medan. Laga puncak kompetisi tim amatir se-tanah air itu merupakan the dream final karena kedua tim tengah dalam periode keemasan. 

Saat itu Persib diperkuat antara lain Robby Darwis, Adeng Hudaya, Adjat Sudradjat, Boyke Adam, Suryamin, dan Sobur. Ini merupakan gabungan kekuatan pemain junior dan senior hasil polesan Marek Janota dan Risnandar. PSMS dikenal sebagai jago turnamen. Berbagai kejuaraan berhasil dijuarai oleh skuat yang berkekuatan M. Sidik, Musimin, Hadi Sakiman, Sunardi A, Sunardi B, dan Ponirin Meka.

Jangan ragukan pula besarnya dukungan kepada kedua tim. Siaran langsung TVRI tidak sanggup menyetop animo masyarakat. Final di Stadion Gelora Bung Karno Senayan dipenuhi hingga 150 ribu penonton! Pertandingan pun sampai ditunda sampai 20 menit karena penonton meluber hingga sentelban. Pertandingan itu pun dicatat AFC sebagai laga amatir yang paling banyak ditonton di dunia!

Gara-gara tingginya animo penonton, pertandingan harus ditunda 20 menit.

Dari penelusuran yang dilakukan Tabloid Bola, panitia menyatakan hanya mencetak 106 ribu lembar tiket dan keuntungan yang ditangguk PSSI mencapai Rp280 juta. Jumlah yang sangat besar waktu itu.

Banyak pendukung Persib dan PSMS yang rela datang jauh-jauh ke Jakarta untuk menyaksikan pertandingan final. Loket dibuka pukul 10 pagi, tapi antrean sudah mengular sejak pagi hari. Setiap orang hanya boleh membeli empat lembar tiket dengan kategori VIP Barat, VIP Timur, Kelas I, Kelas II, serta kategori Pelajar & Mahasiswa.

Laga puncak yang terjadi 23 Februari 1985 itu merupakan ulangan pertemuan kedua tim dua tahun sebelumnya. Hasil pertandingan sama saja. PSMS kembali memetik kemenangan melalui adu penalti. Kedua tim bermain sama kuat 2-2 sepanjang 90 menit plus perpanjangan waktu.

Gara-gara tingginya animo penonton, pertandingan harus ditunda 20 menit.

Dari penelusuran yang dilakukan Tabloid Bola, panitia menyatakan hanya mencetak 106 ribu lembar tiket dan keuntungan yang ditangguk PSSI mencapai Rp280 juta. Jumlah yang sangat besar waktu itu.

Banyak pendukung Persib dan PSMS yang rela datang jauh-jauh ke Jakarta untuk menyaksikan pertandingan final. Loket dibuka pukul 10 pagi, tapi antrean sudah mengular sejak pagi hari. Setiap orang hanya boleh membeli empat lembar tiket dengan kategori VIP Barat, VIP Timur, Kelas I, Kelas II, serta kategori Pelajar & Mahasiswa.

Laga puncak yang terjadi 23 Februari 1985 itu merupakan ulangan pertemuan kedua tim dua tahun sebelumnya. Hasil pertandingan sama saja. PSMS kembali memetik kemenangan melalui adu penalti. Kedua tim bermain sama kuat 2-2 sepanjang 90 menit plus perpanjangan waktu.

PSMS menang dramatis melalui adu penalti.

Selain itu, apa lagi yang terjadi pada 1985? Kompetisi Galatama hanya diikuti oleh delapan tim. Juara bertahan Yanita Utama bubar dan para pemainnya kemudian diambil klub baru bernama Krama Yudha Tiga Berlian. Klub yang bermarkas di Palembang itu mendominasi kompetisi dan berhasil menjadi juara baru. Gelar juara berhasil dipertahankan Krama Yudha musim berikutnya.

Bagaimana dengan level timnas? Tahun 1985 tercatat sebagai masa ketika Indonesia berada paling dekat dengan Piala Dunia! Ditangani pelatih Sinyo Aliandoe, Indonesia berjaya di babak kualifikasi pertama dengan menyingkirkan Thailand, Bangladesh, dan India. Di putaran kedua, Indonesia berhadapan dengan Korea Selatan.

Kalah 2-0 di Seoul tidak menghentikan optimisme publik tanah air karena leg kedua dimainkan di kandang sendiri. Sayangnya, semangat memburu defisit gol menjadi bumerang. Indonesia bermain terlalu terbuka sehingga Korea Selatan sudah unggul dua gol saat pertandingan baru berjalan sembilan menit.

Dua gol cepat itu meruntuhkan semangat bertanding Heri Kiswanto, Rully Nere, Marzuki Nyakmad, Zulkarnain Lubis, Eli Idris, dan kawan-kawan. Skor akhir 4-1 untuk Korea Selatan. Taeguk Warriors sukses berangkat ke Meksiko 1986 setelah mengalahkan Jepang di babak berikutnya.

Indonesia selangkah lebih dekat ke Piala Dunia dan bisa saja berhadapan dengan Diego Maradona.

Pencapaian positif di kualifikasi Piala Dunia tidak berlanjut. Partisipasi Indonesia di SEA Games Thailand pada tutup tahun 1985 berakhir mengenaskan. Meski mampu melangkah hingga semi-final, Indonesia tak pernah meraih kemenangan sepanjang turnamen. Setelah ditekuk Singapura 1-0 di laga pembuka, Indonesia bermain 1-1 menghadapi Brunei Darussalam. Indonesia lolos dari grup berkat keunggulan selisih gol atas Brunei.

Di semi-final, Indonesia dihajar tuan rumah Thailand, yang saat itu diperkuat penyerang emas Piyapong Pue-on, tujuh gol tanpa balas.  Harapan merebut medali perunggu pupus setelah ditaklukkan Malaysia 1-0.

Sungguh disayangkan sepakbola Indonesia tahun 1985 berakhir antiklimaks. Kembali ke tahun 2015, final Piala Presiden menyisakan banyak pertanyaan muram. Bagaimana menyudahi konflik kelembagaan dan memulai lagi kerja keras membangun sepakbola Indonesia? 

Seperti film "Back To The Future", mungkin kita perlu menumpang DeLorean untuk mengintip apakah sepakbola Indonesia akhirnya berjaya 30 tahun ke depan.

Sumber foto: Dokumentasi Bola