Bagaimana Ajax Amsterdam Bisa Kembali Menjadi Kekuatan Penting di Sepakbola Eropa

Ajax Amsterdam bangkit lagi musim ini di Eropa - meski ini hanya kasta kedua kompetisi Eropa. Bagaimana Peter Bosz membangun kembali kekuatan Ajax dengan pemain-pemain muda dan filosofi sepakbola menyerang yang terus dipertahankan?

Ketika undian semifinal Europa League diumumkan bulan lalu, pengamat sepakbola langsung menjagokan final ideal antara Olympique Lyonnais dengan Manchester United, tanpa mempertimbangkan adanya potensi kejutan dari Ajax Amsterdam dan Celta Vigo. Waktu berlalu, Man United menyingkirkan Celta dan Lyon? Hancur di tangan Si Anak-Anak Dewa – julukan Ajax.

Prediksi itu hanya 50 persen benar dan final ideal urung terjadi, tapi, benarkah laga antara Ajax kontra United di final Europa League musim ini, tidak ideal? Tidak juga. Ajax punya 1001 alasan untuk menjadi jawara baru di Eropa dan membangkitkan memori indah 22 tahun lalu, saat Ajax menjuarai Liga Champions.

Bahkan, jikapun Ajax tak menjadi juara, pencapaian final Europa League sudah cukup bagi penggemar sepakbola era 90-an untuk melihat kembali bayangan masa lalu kejayaan Ajax pada generasi baru arahan Peter Bozs. Idealisme Johan Cruyff yang sudah terpatri di dalam filosofi klub terus terjaga hingga saat ini.

Bermain ofensif, agresif, bebas dan memesona ala totaalvoetbal yang turun temurun dibentuk oleh Rinus Michels dan dikembangkan oleh Cruyff, kembali diperlihatkan anak-anak muda Ajax musim ini. Keberhasilan Ajax menaklukkan Lyon disebut Bosz sebagai kemenangan sepakbola, karena memang beginilah seharusnya sepakbola dimainkan: murni hiburan untuk para suporter.

Bermain ofensif, agresif, bebas dan memesona ala totaalvoetbal yang turun temurun dibentuk oleh Rinus Michels dan dikembangkan oleh Cruyff, kembali diperlihatkan anak-anak muda Ajax musim ini

Bosz berhasil menghidupkan kembali nama besar Ajax di kancah Eropa pada era sepakbola modern ini. Hebatnya, dia tidak memberikan perubahan radikal akan filosofi klub dalam mengorbitkan pemain muda akademi dan permainan tim, tidak terbawa arus ‘hasil adalah segalanya’. Totaalvoetball tetap dimainkan Ajax dengan sedikit bumbu detail taktik yang dikenalkan Bosz dan ia selalu memercayai permainan tersebut.

Mungkin saat ini Anda bertanya-tanya, siapa itu Bosz? Wajar jika Anda tidak terlalu tahu banyak tentangnya. Nama Bosz tidak sebesar Louis van Gaal, Guus Hiddink, Ronald Koeman, atau pendahulunya, Frank de Boer, tapi ia tahu persis bagaimana mengembalikan reputasi Ajax di kancah sepakbola Eropa.

Belajar dari Guardiola, Berguru dengan Cruyff

Bosz seorang diri takkan bisa membangkitkan kenangan indah Ajax akan talenta muda berbakat yang memainkan sepakbola ofensif seperti saat ini, dibutuhkan sistem yang sudah terorganisir rapih dari tingkat manajemen hingga staf kepelatihan. Penunjukkan De Boer sebagai pelatih pada 2010 bisa jadi titik balik itu, karena ia memberikan empat titel Eredivisie beruntun dalam kurun waktu 2010-2014.

Selama periode itu juga klub milik Hennie Henrichs ini memiliki visi yang hebat untuk menguatkan pondasi Ajax. Ia menginginkan adanya keterlibatan langsung mantan pemain Ajax di dalam direksi dan staf kepelatihan tim hingga nama-nama ikonik Belanda yang mungkin pernah Anda dengar, ada di Ajax seperti Marc Overmars (Direktur Teknik), Dennis Bergkamp (asisten manajer), Winston Bogarde (pelatih defensif tim), dan Edwin van der Sar (Direktur Marketing).

“Saya mendapat panggilan dari Johan Cruyff dan Dennis Bergkamp dua bulan setelah saya pensiun, hal ini sudah menjadi gagasan bagi klub untuk memasukkan mantan pemain ke direksi dan perlahan menjadi sosok penting,” ungkap Van der Sar.

Bosz seorang diri takkan bisa membangkitkan kenangan indah Ajax akan talenta muda berbakat yang memainkan sepakbola ofensif seperti saat ini, dibutuhkan sistem yang sudah terorganisir rapih dari tingkat manajemen hingga staf kepelatihan

Keberadaan para legenda sepakbola Negeri Kincir Angin mempermudah kinerja Bozs dalam membangun dinastinya di Ajax. Baru bergabung di awal musim ini, pria berusia 53 tahun sudah mengangkat performa Ajax dengan talenta muda yang minim pengalaman dan modal uang transfer yang pas-pasan.

Ajax memang gagal meraih titel Eredivisie musim ini dan kalah tipis dari segi perolehan poin dari rival bebuyutan, Feyenoord, namun, Bosz menyuntikkan enerji baru dalam permainan tim. Di era De Boer, Ajax bermain dengan penguasaan bola, namun lambat dalam pendekatannya untuk membongkar pertahanan lawan.

Nah, di masa kepelatihan Bosz, permainan Ajax lebih cepat mulai dari proses merebut bola dari penguasaan bola lawan (melakukan pressing), menyerang pertahanan lawan, hingga aliran bola yang fluent alias mengalir dari satu sisi ke sisi lainnya laiknya totaalvoebal modern yang pernah diperlihatkan Barcelona, dengan gaya bermain tiki-taka. Dalam waktu semusim, Ajax sudah lebih banyak menciptakan peluang dan lebih ofensif di era Bosz dibanding dua musim terakhir bersama De Boer.

“Barcelona punya peraturan tiga detik. Kami bukan Barcelona, jadi saya terapkan peraturan dua detik,” canda Bosz kala menjelaskan detail taktik yang diterapkannya di Ajax. “Peraturan lima detik itu seperti ketika Anda kehilangan bola, maka kurun waktu itu merupakan momen terbaik untuk merebut bola kembali. Lawan butuh lebih atau kurang dari lima detik untuk berada di posisi yang tepat. Kami harus segera merebut bola.”

Maksud dari peraturan lima detik itu adalah momen, ketika pressing mulai dilakukan Ajax saat bola direbut dan dikuasai lawan. Bozs sangat terperinci dengan gaya bermain yang diinginkannya, dan ini cukup mengingatkan kita akan sosok Pep Guardiola. Penuh detail, penguasaan bola tinggi, permainan yang cepat, ofensif, dan tidak ragu memajukan garis bertahan hingga ke lini kedua.

Wajar jika keduanya mirip, Bozs memang sudah lama mengagumi gaya bermain Guardiola dan mempelajarinya hingga saat ini. Tak hanya Guardiola, legenda Feyenoord itu juga memiliki catatan khusus metode kepelatihan Van Gaal dan sang idola, Cruyff.