Bagaimana Arsenal Bisa Belajar Dari Leonardo DiCaprio

Anda tidak salah baca: Arsenal memang seharusnya belajar dari Leonardo DiCaprio. Ranaditya Alief menjelaskannya....

Foto utama: http://livewatchplay.com/

Media sosial bersuka cita usai pagelaran Academy Awards ke-88 minggu lalu. Setelah 23 tahun berakting dan 6 kali masuk nominasi Best Actor, akhirnya Leonardo DiCaprio berhasil menggondol Oscar. Beragam meme yang menglorifikasi perjuangan Leo pun harus dipensiunkan. Status quo telah dipecahkan.

Sayangnya, hal sebaliknya berlaku pada perjuangan Arsenal selama satu dekade lebih untuk menjuarai Liga Inggris. Dengan hanya 12 poin dari 9 pertandingan sejak pergantian tahun, serta 2 kali kalah berturut-turut melawan Manchester United dan Swansea City yang tak ubahnya menurunkan skuat cadangan mereka, nampaknya status quo Arsenal sebagai eternal title pretender akan aman terjaga musim ini.

Karena itulah, terinspirasi keberhasilan DiCaprio mendobrak status quo, FourFourTwo meninjau tiga faktor kesuksesannya mengakhiri paceklik Oscar. Siapa tahu bisa berfaedah untuk Arsenal.

Menunjukkan Rasa Lapar

Menurut Alexis Sanchez, Arsenal kini bermain tanpa rasa 'lapar' untuk menjadi juara. Sanchez merujuk pada penampilan timnya melawan United di awal musim sebagai contoh rasa lapar tersebut. Saat itu, Arsenal langung tancap gas dan mencetak tiga gol dalam 20 menit pertama.

Lantas bagaimana caranya bisa kembali lapar?

Diet mayo? Tidak! Arsenal justru bisa mengambil motivasi dari laparnya tokoh Hugh Glass yang dimainkan DiCaprio di The Revenant.

Ditinggal sendirian oleh rekan-rekannya di belantara minus 30 derajat celsius memaksa Hugh Glass memakan apapun untuk bertahan hidup. Terkait dengan itu, demi menghayati perannya, Leonardo DiCaprio yang notabene vegetarian sampai beneran melahap ati bison mentah.  

Pemain-pemain Arsenal bisa mensimulasikan lapar yang dialami Hugh Glass dengan image training: membayangkan lapangan stadion membeku tiap kali kick-off, dan menyamakan trofi Premier League dengan liver seekor bison yang tidak dimasak. Yah, biar lebih niat mainnya.

Tidak Menyepelekan Sesuatu

Bila di musim-musim sebelumnya Arsenal kerap dipecundangi tim besar, musim ini Arsenal malah keok melawan tim papan tengah. Statistik yang dikumpulkan Jonathan Wilson menunjukkan bahwa Arsenal hanyalah tim terbaik ke-13 saat menghadapi tim di sepertiga tengah klasemen Liga Inggris. Mengesampingkan faktor taktik, dari segi pemain seharusnya Arsenal punya amunisi yang cukup untuk memenangkan partai-partai tersebut. Tapi hasil yang diperoleh mengindikasikan bahwa Arsenal cenderung menyepelekan lawan yang semenjana.

Di sinilah Mesut Ozil dkk bisa belajar dari Leonardo DiCaprio. Pada akhir pidato kemenangannya, Leo berseru, "I do not take tonight for granted."

Memang benar, DiCaprio tidak pernah menganggap sepele segala sesuatu yang dilakukannya. Jangankan di The Revenant, di film katro seperti J. Edgar dan The Great Gatsby pun DiCaprio berakting total. 

Foto: http://www.telegraph.co.uk/

Begitu pula dalam aktivismenya seputar perubahan iklim. Leo tidak hanya menyumbang lebih dari $30 juta melalui badan amalnya, tetapi juga aktif turun ke jalan. The Guardian bahkan melaporkan bahwa Leo terus meningkatkan pengetahuannya soal perubahan iklim dengan tutorial langsung dari pakar-pakar global warming terbaik dunia.

Totalitas tanpa pandang bulu Leo inilah yang semestinya diemulasikan oleh Arsenal. Dalam konteks mengumpulkan poin demi menjadi juara, pertandingan melawan Manchester City dan Stoke City memiliki nilai yang sama. Alhasil, persiapannya juga harus sama.

Ganti Sutradara

Faktor yang terakhir berhubungan dengan nasib jangka panjang Arsenal seusai akhir musim.

Faktanya sederhana: setelah 5 kali bermain di film arahan Martin Scorsese, Leonardo DiCaprio hanya butuh 1 kali berkolaborasi dengan Alejandro Gonzalez Innaritu untuk meraih Oscar Best Actor-nya yang pertama. Tanpa mengecilkan kapasitas Scorsese, barangkali DiCaprio memang butuh lingkungan baru untuk pecah telor.

Foto: EPA/PAUL BUCK

Sama halnya dengan Arsenal dan Arsene Wenger. The Professor sama sekali bukanlah pelatih yang buruk. Namun setelah lebih dari 1 dekade gagal menjuarai Liga Inggris, dan selalu absen masuk top 2, sangat wajar bagi fans Arsenal untuk mengharapkan pelatih baru.

Wenger sendiri pernah berkata ingin meninggalkan Arsenal dalam kondisi yang lebih baik dari saat kedatangannya. Mungkin itulah kenapa peringkat 4 selalu dirayakannya, karena semusim sebelum Wenger diangkat pada tahun 1996, Arsenal finis di peringkat 5.

Tapi jika menjuarai Premier League ibarat menang Oscar, finis peringkat 4 ibarat menang Golden Globe. Siapa yang peduli pada Golden Globe?