Bagaimana Kemiskinan dan Perjuangan Membentuk Karakter Pesepakbola Top

Kemiskinan bukanlah halangan untuk meraih impian tergila seseorang - dan itu terbukti dari kisah-kisah para pesepakbola yang harus menjalani kehidupan miskin saat kecil...

Sepakbola telah berubah. Peralihan zaman tak lagi terbantahkan dan perubahan radikal terjadi hampir di semua aspek yang meliputi permainan tim; penerapan teknologi berujung kepada perkembangan pesat sepakbola dunia, terutama Eropa yang sudah dianggap sebagai kiblat sepakbola dunia.

Perkembangan itu pun memberi dampak langsung untuk generasi sepakbola muda di era modern ini. Bagi mereka yang baru akan melalui perjalanan di jalur akademi akan merasakan kemewahan fasilitas sekolah sepakbola beken dunia seperti yang ada di La Masia Barcelona, Manchester United, Southampton, Bayern Muenchen, Ajax Amsterdam, Monaco, La Fabrica Real Madrid, atau bahkan sekolah-sekolah sepakbola top di negara-negara tertentu.

Membayangkan fasilitas yang di sana saja sudah membuat Anda bermimpi untuk menyekolahkan anak Anda. Memang, biaya yang dikeluarkan juga besar jika bukan klub yang melirik talenta dan mengundangnya ke akademi, tapi semua itu sejajar dengan fasilitas dan pendidikan yang diberikan.

Perkembangan pesat yang terjadi itu tidak pernah dirasakan generasi 80 atau 90-an dan diungkapkan langsung oleh saksi mata peralihan era tersebut.

“Anda lihat sistem akademi sekarang dan pemain tidak diperbolehkan untuk membersihkan sepatu dan juga tribun penonton, toilet dan tempat mandi seperti yang pernah kami lakukan – tapi itu semua yang membentuk karakter Anda.”

Komentar di atas dijabarkan oleh mantan pemain timnas Inggris yang meniti karir dari bawah, dari klub non-liga hingga menjadi pesepakbola profesional di Premier League, Kevin Phillips. Ia salah satu contoh perjuangan hidup manusia yang ingin mengubah takdirnya melalui keringat dan darah perjuangan. Ia dibentuk dari tempaan akademi yang ‘keras’ dan membentuk karakternya yang sudah matang sejak di usia belia, hal yang belum tentu dimiliki pemain di generasi milenial.

Kemewahan yang dimiliki akademi sepakbola saat ini memang tak dirasakan oleh pemain di era sebelumnya, apalagi bagi pesepakbola top yang besar dan tumbuh di kondisi ekonomi yang sulit alias kemiskinan. Mereka yang memiliki latar belakang kelam itu menjadi besar dengan kerja keras dan perjuangan untuk mengubah takdir hingga mampu berada di puncak dunia.

Perjuangan hidup itu tak mudah, butuh mental baja untuk melalui kemiskinan. Salah satu petarung yang pantang menyerah keluar dari takdir kemiskinan adalah legenda Portugal, Eusebio da Silva Ferreira, yang berhenti bermain bola pada 1979 dan meninggal pada 5 Januari 2014 karena gagal jantung.

Sepakbola diselimuti duka mendalam saat itu dengan ribuan ucapan duka yang membanjiri Eusebio, termasuk ucapan dari figur beken seperti Franz Beckenbauer, Gary Lineker, Ruud Gullit, Cristiano Ronaldo, dan banyak lagi. Upacara pemakaman Eusebio pun berlangsung khidmat dan selama tiga hari Pemerintah Portugal mengadakan periode duka.

Segitu besar penghargaan dunia kepadanya, Eusebio pun pasti tak pernah membayangkan hal tersebut ketika ia bertarung melawan kemiskinan di masa kecilnya. Lahir pada 25 Januari 1942, Eusebio memiliki darah keturunan Afrika dari ayahnya yang berasal dari Angola dan ibunya yang berasal dari Mozambik. Ayahnya hanya pekerja kasar rel kereta api dan meninggal ketika Eusebio berusia delapan tahun, hingga ibunya menjadi single parent.

Eusebio kecil terbentuk di lingkungan yang kumuh, lingkungan yang tidak bagus untuk seorang anak untuk berkembang. Tapi justru kehidupan itu yang memotivasi mantan pemain Benfica untuk keluar dari kemiskinan, tak jarang ia melanggar peraturan dan bolos sekolah hanya untuk bermain satu-satunya hal yang dicintainya, sepakbola. Bermain tanpa alas kaki dengan lapangan ala kadarnya, di situ pula Eusebio mengembangkan kemampuannya dalam mengolah si kulit bundar.

Eusebio terus berjuang hingga dikontrak sebagai pesepakbola profesional oleh Benfica pada 1960 dan sejak saat itu, kariernya hanya menuju jalur yang sama, ke atas hingga menuju puncak dunia.

Pengalaman hidup yang penuh perjuangan Eusebio ini merupakan satu dari banyaknya cerita pesepakbola yang tidak terlahir kaya dan harus berjuang untuk meraih kesuksesan.