Bagaimana Leicester City Memberikan Pelajaran Bagi Seluruh Dunia

Banyak, termasuk fans Leicester sendiri, yang masih tidak percaya bahwa tim mereka telah melakukan sesuatu yang mustahil dan John Duerden, penulis FourFourTwo, percaya bahwa ada beberapa pelajaran yang dapat dipelajari dari misi mustahil yang diraih oleh Foxes, julukan Leicester, ini... 

Anda boleh bertanya-tanya bagaimana perasaan Tony Fernandes. Pada tahun 2011, satu tahun setelah Vichai Srivaddhanaprabha mengambil alih Leicester City yang sedang berada di Championship, divisi kedua Liga Inggris, Fernandes menjadi pemilik saham terbesar Queens Park Rangers yang sedang berada di Premier League, divisi tertinggi Liga Inggris.

Saat QPR mengalami penurunan hingga ke papan tengah Champioship, orang Malaysia tersebut telah kehilangan uang dalam jumlah yang sangat besar.

Sementara itu, Foxes bisa lebih cerdik dengan menghabiskan uang yang lebih sedikit daripada tim asal London tersebut untuk meraih gelar Premier League, menjadi juara paling luar biasa yang mungkin Anda lihat seumur hidup Anda.

Ini bukan berarti Leicester beruntung. Keberuntungan mungkin tersenyum pada Leicester tapi mereka adalah sebuah contoh bagaimana klub yang dikelola dengan baik, baik di dalam maupun di luar lapangan, yang bekerja keras dan bergerak ke arah yang sama. Hal yang tidak sering dilakukan oleh QPR dalam beberapa tahun terakhir.

Ini bukan tentang Fernandes saja, seseorang yang jelas mempunyai gairah besar terhadap klubnya, tapi, berdasarkan pengakuannya sendiri, dia memang membuat sebuah kesalahan. Leicester dapat menunjukkan klub-klub lainnya beberapa pelajaran. Tetapi mereka berhasil memberikan lebih banyak pelajaran lagi bagi Asia Tenggara.

Peruntungan QPR tidak meningkat sejak Fernandes mengambil alih

Saat Thailand merayakan kesuksesan salah satu putra bangsanya, beberapa klub di Liga Premier Thailand harus mampu belajar dari bagaimana King Power membawa stabilitas dan kemudian membuat Leicester sukses.

Raksasa retail toko bebas bea (duty-free shop) ini membantu membawa Gary Stevens ke Tanah Seribu Senyuman, julukan kota Bangkok, untuk melatih Army United pada awal musim 2015. Mantan pemain timnas Inggris tersebut menggebrak awal musim dengan tiga kemenangan. Namun, lima kekalahan beruntun kemudian mengikutinya, begitu pula dengan pemecatan.

Tidak seperti pelatih asing kebanyakan, Stevens memilih tinggal di Thailand dan dia kemudian mendapatkan kesempatan keduanya saat mendapatkan pekerjaan di Port FC.

Klub tersebut saat itu sedang berjuang di zona degradasi dan Stevens akhirnya pergi setelah hanya melewati tujuh pertandingan. Hasilnya memang mengecewakan tapi mengingat dia adalah pelatih ketiga di klub tersebut pada musim itu, mungkin ada alasan lain atas penampilan buruk mereka.

Melihat seringnya pelatih keluar masuk di Thailand pada 2015 lalu, yang disebut-sebut sebagai liga terbaik di Asia Tenggara, adalah pengalaman yang memusingkan.

Port bukan satu-satunya tim yang menggunakan jasa lebih dari dua pelatih dalam satu musim. Selain mereka, tim-tim lain seperti BEC Tero Sasana, TOT, dan Navy juga mempunyai tiga pelatih berbeda hanya dalam waktu hanya beberapa bulan.

Keempat tim tersebut kemudian menduduki empat peringkat terbawah pada akhir musim. Bagi sebagian tim pergantian pelatih merupakan reaksi dari hasil-hasil buruk, tapi jika mereka lebih visioner dan memberikan kepercayaan lebih besar bagi para pelatih pilihan mereka, mungkin hasil yang diberikan akan lebih baik.

Jika ada satu pelajaran yang dapat dipelajari dari kesuksesan Leicester, itu adalah Anda harus melihat lebih jauh dan mendalam untuk mencari orang yang tepat untuk menjadi pelatih dan memberikannya waktu serta dukungan.

Nama Nigel Pearson mungkin bukan termasuk nama manajer terkenal, tapi kesuksesan Leicester tahun ini tidak akan pernah terjadi tanpa dirinya.

Nigel Pearson pantas mendapatkan pengakuan yang lebih besar

Jika dirinya tidak membawa Leicester promosi dan tetap mempertahankan mereka di Premier League dengan misi penyelamatan yang paling mustahil untuk dilakukan pada musim lalu, Leicester tidak akan pernah memenangkan gelar Premeir League musim ini.

Kebanyakan klub Inggris dan Thailand akan memecatnya sejak jauh-jauh hari sebelum berada tujuh poin di bawah zona aman dari degradasi dengan sembilan pertandingan tersisa seperti yang dialami Leicester musim lalu.

Itu akan menjadi keputusan yang paling mudah untuk diambil oleh para bos dan sebuah kredit tersendiri jika mereka tidak mengambil keputusan tersebut. Pada akhirnya, Pearson memang dipecat. Tetapi dirinya dipecat karena persoalan di luar lapangan, bukan di dalam lapangan.

Klub-klub Malaysia juga dapat belajar satu atau dua hal dari Leicester di era ketika pelatih terpaksa harus "beristirahat" sebelum kompetisi genap berlangsung selama dua bulan.

Dan juga fakta yang telah ditunjukkan oleh Leicester bahwa masih ada bakat-bakat hebat di seantero dunia yang dapat ditemukan tanpa harus mengeluarkan uang dalam jumlah besar. Klub-klub Asia Tenggara memang tidak belanja belanja di toko yang sama dengan klub-klub Inggris, tetapi masih ada banyak pemain-pemain bagus yang tersedia dengan harga yang terjangkau.

The Foxes menunjukkan tentang nilai penting pencarian bakat. Itu masih merupakan konsep asing bagi kebanyakan klub asal Asia Tenggara.

Ada alasan keuangan yang berkontribusi terhadap hal ini, tetapi perbaikan besar-besaran juga bisa dilakukan dalam cara perekrutan pemain. Pada saat ini, dalam banyak kasus, perekrutan pemain dilakukan secara sembarangan dan terbuka untuk disalahgunakan.

Tidak harus terus-menerus mendatangkan pemain dari Brasil akan menjadi awal yang bagus. Ada tempat-tempat yang lebih murah untuk mencari pemain. Pada awalnya memang membutuhkan banyak usaha dan membutuhkan lebih banyak uang, tetapi manfaat jangka panjangnya layak untuk dipertimbangkan.

Klub bisa bekerja sama jika diperlukan, mengumpulkan beberapa sumber daya untuk memperluas jangkauan mereka dan benar-benar mengetahui kualitas seorang pemain sebelum membuat keputusan untuk mengontraknya.

Pelajaran terbesar dari semua pemikiran itu menghasilkan satu kesimpulan yang jelas. Leicester bukanlah klub miskin tetapi mereka jelas tidak mempunyai sumber daya  keuangan yang besar untuk mendatangkan pemain-pemain bintang. Tim-tim seperti Chelsea dan Manchester City mungkin tampil di bawah performa terbaik mereka pada musim ini tetapi Leicester selalu siap untuk mengambil keuntungan dari setiap kesempatan yang diberikan.

Cara berpikir hampir semua orang yang meyakini bahwa kekuatan keuangan Buriram dan Johor Darul Ta'zim tidak dapat disaingi harus dihilangkan. Jika tidak, hal itu hanya akan membuat semakin sulit. Tetapi klub yang melakukan sesuatu yang berbeda, melakukan hal yang benar di luar lapangan, yang lebih mementingkan gairah daripada uang, dan mempunyai semangat tim yang melebihi segala sesuatu bisa meraih kesuksesan.

Jika pemilik asal Thailand mampu melakukan segalanya dengan benar di Premier League di mana mereka menghadapi pemilik-pemilik kaya dari berbagai penjuru dunia, tidak ada alasan bagi bos-bos klub asal Thailand dan Malaysia untuk tidak dapat melakukannya di rumah mereka sendiri.

Lebih banyak feature setiap harinya di FFT.com