Bagaimana Nasib Para Pelatih yang Pernah Memimpin Indonesia di Piala AFF?

Indonesia sudah dipimpin berbagai pelatih di ajang Piala AFF. Dari pelatih lokal hingga nama-nama asing, semuanya sudah dicoba demi mencapai satu tujuan: meraih gelar juara. Namun semuanya masih gagal mewujudkannya hingga hari ini. Gerry Putra mencari tahu bagaimana kabar mereka...

Danurwindo – Piala Tiger 1996

Danurwindo merupakan pelatih modern Indonesia. Pelatih cerdas yang sangat menguasai taktik dan strategi sepak bola Eropa, terutama Italia. Mantan pemain Persija Jakarta ini, pantang bermain asal dengan mengandalkan bola lambung dari belakang ke depan. Om Danur (sapaan akrab penulis kepada Danurwindo) lebih menyukai permainan dari kaki ke kaki dengan fokus untuk memperkuat lini belakang. Sangat Italia.

Tapi Danur juga dijuluki pelatih bertangan panas. Kenapa? Hampir setiap tim dan klub yang dipegangnya, selalu gagal. Timnas Indonesia yang ia pegang di Piala Tiger 1996 menjadi tim juara tanpa mahkota. Favorit juara, tapi malah kalah dari Vietnam di semifinal. Pun juga begitu saat Om Danur memegang timnas Indonesia di Piala Asia 1997. Di level klub, Persija bisa menjadi contoh. Pada Indonesia Super League 2008, Macan Kemayoran garang di awal kompetisi, tapi ompong di akhir musim.

Kini, om Danur lebih banyak aktif menjadi komentator Indonesia Soccer Championship A 2016 di salah satuh televisi swasta. Pengalamannnya membuat komentar pertandingan ISC A lebih berwarna dengan gaya bicaranya dan pengetahuannya yang luas terhadap penguasaan taktik permainan. Selain itu, om Danur masih aktif membina sepak bola usia muda di Jakarta, di beberapa SSB di Jakarta.

Rusdy Bahalwan – Piala Tiger 1998

Mendiang Rusdy Bahalwan merupakan pemain dan pelatih paling sukses di Persebaya Surabaya. Pemain asli Surabaya ini pernah meraih gelar juara sebagai pemain pada tahun 1978. Sedangkan sebagai pelatih, dirinya membawa The Green Force juara Liga Indonesia III tahun 1996/97.

Prestasi itulah yang membuat namanya terpilih menjadi pelatih timnas Indonesia untuk ajang Piala Tiger 1998. Sebagai pelatih yang diwajibkan membawa gelar juara, Rusdy tak mau berjudi dengan mengadakan pelatnas jangka panjang. Ia memilih untuk menggunakan banyak pemain Persebaya yang sudah mengenal gaya permainannya. Hal itu membuat Rudy dicap Persebaya-sentris.

Sayangnya, nama Rusdy tercoreng akibat sepak bola gajah yang terjadi saat melawan Thailand. Meski membawa Indonesia menempati posisi ketiga Piala Tiger, Rusdy tak lepas dari sanksi AFC. Pria yang besar di klub Assyabab Surabaya itu pun terkena larangan melatih timnas di sepanjang karirnya.

Kini, Cak Rusdy sudah tenang beristirahat. Dirinya berpulang pada 8 Agustus 2011 setelah hampir seluruh masa tuanya dihiasi perjuangan melawan stroke. Meski ia gagal bersama timnas Indonesia, namun nama Rusdy tetap melegenda bagi Persebaya Surabaya.

Pages