Kisah

Bagaimana Nasib Para Pemain Indonesia yang Tampil di Final Piala AFF 2010 di Bukit Jalil?

Tak terasa, sudah lebih dari tujuh tahun berlalu sejak malam menyakitkan di Bukit Jalil terjadi. Masih ingatkah Anda dengan para pemain yang tampil di malam yang merusak impian Indonesia untuk menjuarai Piala AFF untuk pertama kalinya itu?

We are part of The Trust Project What is it?

Sir Alex Ferguson, salah satu pelatih legendaris asal Britania Raya itu, pernah bilang bahwa ia sering merasa tahu segalanya tentang sepak bola. Namun, pada kenyataannya dia ternyata tidak tahu apa-apa. Dan bagi para pelatih lainnya, para pelaku, hingga para penggemar sepak bola di jagad ini, hal tersebut ternyata juga berlaku. Sepak bola seperti misteri, bukan seperti teka-teki silang yang sesulit apa pun itu selalu mempunyai jawaban pasti.

Stadion Bukit Jalil Malaysia, 26 Desember 2010. Timnas Indonesia bertamu ke markas timnas Malaysia dengan keyakinan tinggi. Sebagai salah satu kandidat kuat peraih gelar Piala AFF 2010, mereka belum sekali pun terkalahkan dari pertandingan babak penyisihan grup hingga pertandingan semifinal. Bahkan dalam lima pertandingan yang sudah dilaluinya, Indonesia selalu menang, termasuk menghancurkan sang calon lawan di laga final, Malaysia, 5-1 di pertandingan pembuka Piala AFF 2010.

Lalu, para penggemar sepak bola Indonesia mulai berpikir bahwa akal sehat tidak bisa digunakan jika Indonesia sampai kalah di pertandingan final leg pertama di Bukit Jalil itu. Namun pada kenyataannya, logika memang tak berguna pada pertandingan itu. Malaysia tidak hanya menang, tetapi menang besar. Mereka bahkan hanya membutuhkan waktu 12 menit untuk mencetak tiga gol kemenangan. Safee Sali, penyerang andalan mereka, berhasil mencetak gol di menit 61 dan 73. Sementara satu gol lainnya dicetak oleh Mohamad Ashari pada menit ke-68. 

Tidak hanya para penggemar Indonesia, semua pemain Indonesia bahkan terkejut dengan hasil yang sukar dipercaya itu. Dari Hamka Hamzah, M. Nasuha, hingga Ahmad Bustomi, motor permainan Indonesia. Di sepanjang laga, meski agak terlihat tegang, mereka sudah berusaha untuk bermain seperti biasanya. Cara bermain yang membuat mereka melangkah hingga ke babak final dan sebuah cara bermain yang pernah membenamkan Malaysia. Namun, begitulah kenyataannya. Mereka kalah telak seperti seorang petinju yang tak sadarkan diri karena baru saja menerima hantaman telak yang tak terduga dari lawan tanding.

Lalu, bagaimana nasib para pemain Indonesia yang turut serta menjadi bagian dari tragedi di Bukit Jalil tersebut sekarang ini?

Markus Horison

Posisi Markus Horison sebagai penjaga gawang utama timnas Indonesia nyaris tak tersentuh selama gelaran Piala AFF 2010, tetapi dalam laga di Bukit Jalil itu, ia sama sekali tak bisa menyentuh bola ketika Safee Sali dan Mohamad Ashari membuat para penggemar Malaysia berteriak kegirangan. Saat itu Markus hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kinerja buruk rekan-rekannya di lini pertahanan Indonesia.

Gelaran Piala AFF 2010 sendiri bisa dibilang merupakan puncak penampilan Markus bersama timnas Indonesia. Sejak saat itu, kariernya terus menukik. Ia tak lagi menjadi kiper andalan Indonesia. Selain itu, ia juga bukan lagi menjadi pilihan pertama bagi tim-tim terbaik di Indonesia. Pada tahun 2016 lalu, tepatnya dalam gelaran Indonesia Soccer Championship (ISC), Markus hanya membela PPSM Magelang, salah satu kontestan ISC B. Dan di tengah ingar bingar Liga 1 awal tahun 2017 lalu, Markus yang saat ini sudah berusia 35 tahun diam-diam memperkuat Assalam FC, salah satu klub asal Timor Leste.

Hamka Hamzah

Hamka Hamzah menjadi salah satu alasan kuat mengapa gawang Indonesia hanya kebobolan dua kali di sepanjang babak penyisihan grup Piala AFF 2010. Ia juga merupakan pemain penting di balik dua kali clean sheet yang dicatatkan Indonesia saat mengalahkan Filipina di babak seminfinal. Namun, kekalahan dari Malaysia di Bukit Jalil justru bermula dari kesalahannya.

Di sisi kiri pertahanan Indonesia, Hamka berada dalam posisi menguntungkan untuk mendapatkan bola daripada salah seorang pemain Malaysia. Mengira bahwa pemain Malaysia tersebut tak akan mampu menjangkau bola, Hamka justru bermaksud membiarkan bola keluar lapangan. Namun, pemain Malaysia tersebut ternyata berhasil menjangkau bola. Ia lalu menusuk ke kotak penalti dan mengirimkan umpan cutback ke arah Safee Sali: Malaysia 1-0 Indonesia.

Hingga saat ini, Hamka Hamzah masih aktif bermain di kancah tertinggi sepak bola Indonesia. Setelah sempat membela PSM Makassar di ISC A 2016 lalu dan Liga 1 tahun 2017 lalu, Hamka baru saja diresmikan menjadi salah satu pemain Sriwijaya FC yang akan berkompetisi di Liga 1 tahun 2018 ini.

Maman Abdurrahman

Seperti Hamka, Maman, yang hampir selalu tampil bagus hingga menjelang laga final, juga tampil mengecewakan di Bukit Jalil waktu itu. Ia kerepotan mengawal pergerakan Safee Sali di sepanjang laga. Selain kalah cepat dan kalah bertenaga, Maman juga terlihat kalah percaya diri dibandingkan dengan penyerang andalan Malaysia tersebut. Hasilnya: sementara Maman hanya bisa tertunduk setelah laga, Safee berhasil mencetak dua dari tiga gol kemenangan timnya.

Setelah penampilannya di Bukit Jalil itu, Maman tidak lagi menjadi andalan timnas Indonesia. Dan beberapa tahun setelahnya itu, ia mulai tampak rentan. Persib, klubnya sejak tahun 2008 lalu, melepasnya pada tahun 2013 lalu. Ia kemudian berpetualang ke Sriwijaya FC dan Persita Tangerang dengan penampilan tidak meyakinkan. Menariknya, Maman yang saat ini sudah 35 tahun justru mampu bangkit saat membela Persija dalam gelaran Liga 1 tahun 2017. Ia menjadi andalan, dan menjadi salah satu alasan mengapa Persija menjadi tim yang paling sulit dibobol gawangnya di antara kontestan-kontestan Liga 1 lalinnya.

Pages