Kisah

Bagaimana Nasib Para Pemain Indonesia yang Tampil di Final Piala AFF 2010 di Bukit Jalil?

We are part of The Trust Project What is it?

Arif Suyono 

Setelah Indonesia tertinggal dua gol dari Malaysia, Alfred Riedl, pelatih Indonesia saat itu, menyiapkan senjata rahasianya di pinggir lapangan. Ya, Arif Suyono, yang sudah mencetak dua gol dalam gelaran Piala AFF 2010 setelah dibangkitkan dari bangku cadangan, diharapkan mampu mengubah peruntungan. Sayangnya, sang supersub saat itu gagal gagal menunjukkan kualitasnya. Alih-alih mengejar ketertinggalan, Indonesia justru kembali kebobolan lagi di menit ke-73.

Meski saat itu gagal, baik di level klub maupun bersama timnas, Arif masih sering menjalani perannya itu. Terakhir, sekitar tujuh tahun setelah gelaran Piala AFF 2010, ia masih memainkan peran tersebut bersama Arema FC di Liga 1 lalu. Dan jangan heran, jika ia akan tetap melakukan peran tersebut saat membela Mitra Kukar, klub barunya, di Liga 1 tahun 2018 ini.

Firman Utina

Sebagai seorang playmaker, Firman Utina sering dilabeli orang-orang dengan sebutan playmaker yang paling sering melakukan umpan-umpan panjang. Meski begitu, saat ia menemui hari baik, umpan-umpan panjangnya sering kali menjadi sumber dari kreativitas timnya. Sayangya, di Bukit Jalil waktu itu ia tidak sedang menemui hari baik. Sebaliknya, itu merupakan salah satu hari terburuk di sepanjang karier sepak bolanya. Bagaimana tidak, umpan-umpan lambungnya jarang sekali menemui target dengan benar.

Berbeda dengan jebolan Piala AFF 2010 lainnya, Firman Utina saat ini sudah gantung sepatu. Hebatnya, menjelang akhir kariernya, Firman ternyata masih bisa berbuat sesuatu. Di Liga 1 lalu, meski tak memiliki banyak menit bermain, ia masih mampu memberikan peran signifikan saat Bhayangkara FC, klubnya saat itu, berhasil menjadi juara Liga 1.

Oktovianus Maniani

Okto masih berusia 20 tahun saat membela timnas Indonesia dalam gelaran Piala AFF 2010. Namun, saat para penggemar Indonesia yang sebelumnya tak begitu mengenalnya mendapati Okto mengenakan nomor punggung 10, ia tentu bukan pemain biasa saja. Benar saja, selama gelaran Piala AFF 2010 Okto ternyata benar-benar tampil menjanjikan, kecuali dalam laga final di Bukit Jalil itu: ledakan-ledakan aksi individu Okto berhasil diredam oleh bagusnya organisasi permainan Malaysia.

Sejak saat itu Okto semakin populer. Meski begitu, ia juga tidak beruntung. Lalu, saat kedua hal tersebut terus bersinggungan, Okto sering membuat penggemar sepak bola Indonesia garuk-garuk kepala. Bagaimana tidak, selepas memperkuat Sriwijaya FC pada tahun 2011 lalu, Okto ternyata sempat bermain bersama Persak Kebumen pada tahun 2015 lalu. Setelah itu, ia sempat membela Persemar Mamberano, salah satu konstestan Liga 3 pada Maret 2017 lalu. Dan baru-baru ini, ia gagal menjadi bagian dari Persib Bandung dan kini masih tanpa klub.

Yongki Aribowo

Yongki dipilih menjadi rekan Cristian Gonzales di lini depan timnas Indonesia oleh Alfred Rield di Bukit Jalil. Alasannya: dibandingkan dengan Irfan Bachdim dan Bambang Pamungkas, Yongki mempunyai kecepatan yang akan sangat berguna untuk membongkar pertahanan Malaysia. Sayangnya, keputusan tidak populer Riedl tersebut gagal. Pengalaman bek-bek Malaysia berhasil meredam kecepatan Yongki.

Saat ini Yongki masih aktif bermain. Meski begitu, ia belum dapat dipastikan akan membela klub mana di kompetisi tahun ini. Pemain yang di Liga 1 membela Barito Putera tersebut baru saja dicoret oleh PSMS Medan karena dianggap tak mengalami perkembangan selama berlatih di PSMS.