Kisah

Bagaimana Nasib Para Pemain Indonesia yang Tampil di Final Piala AFF 2010 di Bukit Jalil?

We are part of The Trust Project What is it?

Muhammad Ridwan

Peran M. Ridwan terlihat aneh dalam gelaran Piala AFF 2010: ia bermain sebagai sayap kanan, tapi tidak terlihat seperti sayap konvensional karena jarang melakukan umpan silang. Namun, ketika ia rajin melakukan pergerakan diagonal ke arah kotak penalti lawan, ia juga bukan inverted winger mengingat kaki kanan merupakan kaki terbaiknya. Meski begitu, peran aneh Ridwan tersebut sangat berguna untuk merusak organisasi permainan lawan.

Sayangnya, kemampuan Ridwan dalam mengacaukan organisasi permainan lawan tersebut tak terlihat di Bukit Jalil. Pemain-pemain Malaysia, yang sangat terorganisir malam itu, begitu disiplin dalam menjaga daerahnya. Karena tidak mampu memberikan dampak yang cukup signifikan, ia pun kemudian diganti pada menit ke-66.

Sama seperti Firman Utina, M. Ridwan saat ini sudah gantung sepatu. Pemain yang sempat membela PSIS Semarang di Liga 2 2017 lalu kini menjabat sebagai pelatih kepala PSIS U-19.

Cristian Gonzales

Mungkin ada satu pesan khusus pelatih Rajagopal kepada para pemain bertahan Malaysia di Bukit Jalil: "Jaga ketat Cristian Gonzales. Jangan sampai dia berbuat macam-macam!" Pemain-pemain bertahan Malaysia kemudian tak memberikan kesempatan kepada bomber terbaik Indonesia dalam gelaran AFF 2010 itu untuk menerima bola di area berbahaya. Kemudian, Gonzales benar-benar tak bisa berbuat macam-macam dalam pertandingan itu.

Setelah malam yang tidak mengenakkan di Bukit Jalil itu, Gonzales masih sering bermain bersama timnas Indonesia. Secara keseluruhan, ia tampil sebanyak 25 kali bersama timnas Indonesia dan berhasil mencetak 11 gol. Saat ini, meski sudah berusia 41 tahun, Gonzales sendiri masih aktif bermain. Selepas membela Arema FC di Liga 1 musim lalu, ia akan berseragam Madura United di Liga 1 tahun ini.

Irfan Bachdim

Di Bukit Jalil, Irfan memulai pertandingan dari bangku cadangan. Ia dimasukkan pada menit ke-66 untuk menggantikan M. Ridwan. Itu artinya: ia akan bermain sebagai sayap kanan Indonesia. Meski terlihat aneh, pertimbangan Alfred Riedl saat itu tergolong masuk akal. Indonesia membutuhkan gol. Riedl harus memasukkan seorang pemain dengan karakter menyerang yang bisa menambah daya gedor timnya. Menyoal posisi, mengingat kecerdasan yang dimiliki Bachdim, itu seharusnya tidak menjadi sebuah masalah.

Menariknya, meski Bachdim gagal memberikan dampak pada pertandingan tersebut, ia akhir-akhir ini justru mampu tampil memukau bersama Bali United saat bermain di sisi kanan wilayah serang. Selain beberapa kali mencetak gol penting untuk timnya, ia berhasil menjadi kreator serangan utama Bali United dari posisi tersebut. Di Liga 1 tahun ini, Bachdim masih bermain bersama Bali United. Dan saat Widodo Cahyono Putro, pelatih Bali United, tetap memainkan Bachdim di posisi tersebut, tim-tim lawan seharusnya mempunyai pendekatan khusus untuk menghentikannya. Jika tidak, Bachdim sepertinya akan selalu menciptakan huru-hara di daerah pertahanan lawan-lawan Bali United. 

Temukan feature baru setiap harinya di FourFourTwo.com