Bagaimana Pep Guardiola Mematahkan Mitos di Inggris dan Merevolusi Premier League

Manajer Manchester City ini secara dramatis menjawab semua kritikan dan membuktikan bahwa sepakbola dengan mengandalkan penguasaan bola juga bisa sukses di Inggris, tulis Thore Haugstad 

Ada statistik yang menunjukkan bahwa Manchester City tak akan sukses sebelum musim ini dimulai. Dalam delapan tahun terakhir, juara Premier League bukanlah tim dengan penguasaan bola tertinggi di liga.

Sekarang, Guardiola telah mengubah tren yang menjadi karakteristik liga ini selama bertahun-tahun

Setidaknya sejak tahun 2009, tim yang paling sibuk mengumpan tidak pernah mengangkat trofi. Sementara Spanyol dan Jerman didmoniasi oleh tim-tim yang menguasai penguasaan bola, Premier League adalah milik tim-tim dengan lini pertahanan yang tangguh, lini tengah yang bertenaga, dan memiliki serangan balik yang mematikan.

Karenanya, bukan hal mengherankan jika kedatangan Pep Guardiola disambut dengan skeptis tahun lalu. Siapapun yang Anda ajak bicara saat itu akan menyebutkan bahwa gaya sepakbolanya tidak cocok dengan tuntutan sepakbola di Inggris, baik dilihat dari statistik maupun dari anggapan pandit-pandit veteran atau manajer muda seperti Villas-Boas.

Hanya 18 bulan yang lalu, penguasaan bola bukanlah sesuatu yang terlalu bernilai di Inggris. Dan sekarang, Guardiola telah mengubah tren yang menjadi karakteristik liga ini selama bertahun-tahun.

Guardiola mengubah tren di Inggris dengan kekeraskepalaannya

Peringatan dari AVB

Jangan remehkan teori yang diyakini banyak orang, bahwa Barcelona akan kesulitan jika mereka bermain di Premier League. Banyak yang meyakini hal itu – dan dalam waktu yang lama, kelihatannya memang seperti itu.

Di satu sisi, ada alasan untuk bersikap skeptis yang senada dengan argument Andy Gray, bahwa Lionel Messi akan kesulitan bermain di malam yang basah dan berangin di Stoke. Seperti Messi, Barca – atau siapapun yang berusaha meniru gaya mereka – akan terlihat terlalu rapuh di Inggris. Tekel-tekel keras ala Inggris akan membuat para playmaker yang penuh gaya ketakutan. Umpan-umpan jauh akan sulit dihadapi oleh bek-bek tengah Eropa daratan yang lebih banyak mengandalkan bola kaki ke kaki. Pertahanan tangguh akan mampu menghalau serangan yang dibangun dengan sabar dan umpan-umpan pendek – lalu mereka akan memanfaatkan bola yang direbut untuk melakukan serangan balik.

Sukses besar di Spanyol, tetapi banyak yang beranggapan Guardiola akan harus mengubah metodenya di Inggris

Tak hanya Gray dan mereka yang punya anggapan serupa yang mempercayainya. Eks manajer Chelsea, Andre Villas-Boas, yang sejatinya merupakan murid sepakbola menyerang nan atraktif seperti Guardiola, pernah mengatakan pada tahun 2011 lalu bahwa sistem 4-3-3 ala Barca tidak akan berhasil di Inggris “karena risiko besar ketika kehilangan bola”.

Teori itu awalnya terlihat benar. Manchester City hanya berada di posisi ketiga di tahun pertama mereka di bawah Guardiola, dan mereka memang sering kebobolan setelah kehilangan bola di area-area yang berbahaya. Mereka mendominasi pertandingan tanpa bisa mencetak gol yang bisa menentukan hasil akhir. Di laga-laga tandang yang dingin di Desember dan Januari, mereka dibantai 4-2 oleh Leicester dan 4-0 oleh Everton, dua tim reaktif yang banyak bertahan dalam dan mengandalkan serangan balik dengan umpan-umpan panjang.

Semua itu senada dengan tren yang sukses di Inggris dalam tahun-tahun sebelumnya. Jika Guardiola menganggap sejarah penting untuk dipelajari, ia tentu akan mengubah gaya sepakbola timnya.