Bagaimana Rasanya Menjadi Seorang Fan Leicester City Musim Ini

Setahun yang lalu mereka nyaris terdegradasi. Tujuh tahun yang lalu mereka bermain di League One. Sekarang, setelah Leicester City membuat salah satu kejutan terbesar dalam sejarah Inggris, penulis FourFourTwo yang juga seorang warga Leicester, Joe Brewin, berusaha mengenang kembali perjalanan gila ini…

Saya hampir tak ingat apapun soal pertandingan Leicester City pada 4 Mei 2008, selain bahwa segalanya tak mungkin bisa lebih buruk lagi. Lawannya adalah Stoke City, kejadiannya di Britannia Stadium, dan tim saya baru saja terdegradasi ke divisi ketiga sepakbola Inggris untuk pertama kalinya.

Secara luar biasa, kami melakukannya dengan pertahanan terbaik kedua di Championship; anomaly yang aneh yang pas untuk melengkapi musim yang buruk di mana bahkan Gary Megson tak mau menjadi manajer kami lebih dari 41 hari. Hari itu, kami melihat dengan iri ketika fans Stoke menginvasi lapangan untuk merayakan promosi otomatis mereka; sementara Bristol City lolos ke play-off dan Hull memenangkannya; sementara Playmouth finis di posisi yang lebih tinggi dari yang bisa kami lakukan sejak terdegradasi dari Premier League pada 2004, setelah merebut manajer mereka (dan Barr Hayles yang tersayang) berbulan-bulan sebelumnya.

22 Agustus: start yang tidak mencurigakan

Karena itu, maaf kan kami untuk merasa begitu tak berdaya.

Ketidakberdayaan itu sebetulnya merupakan ketidakpercayaan kami; mencoba menjelaskan sesuatu yang tak mungkin, tentang bagaimana tim Leicester ini, delapan tahun kemudian, melakukan sesuatu yang mungkin merupakan salah satu pencapaian terbesar di dunia sepakbola di sepanjang masa.

Fuchs, Huth, Morgan, Mahrez, Vardy

Tulang punggung tim juara: Fuchs, Huth, Morgan, Mahrez, Vardy

Jangan sebut ini sebuah dongeng. Jika frase itu telah terbukti klise selama enam bulan terakhir, sekarang istilah itu jelas tidak benar. Kamus Collins Dictionary mendefinisikan ‘dongeng’ (fairy tale) sebagai “sesuatu yang hampir pasti tidak mungkin” – tetapi kesuksesan ini terjadi. Ini sangat nyata.

Kante bersinar di awal musim

Masa-masa sulit dan malam-malam yang panjang

Sebelum musim promosi di 2013/14, ada sedikit hal yang bisa dinikmati selama satu decade sebelumnya. League One ternyata menyenangkan, karena mengingatkan perasaan juara yang hilang selama enam tahun, tetapi dua kekalahan di semifinal play-off Championship setelahnya tidak begitu menyenangkan.

Tanyakan pada fan Leicester manapun untuk menyebut hal-hal yang mereka ingat antara tahun 2003-2013 dan mereka akan kesulitan untuk menyebutkan beberapa pertandingan di luar musim kami di divisi ketiga tersebut. Hanya sedikit hal yang menonjol. Dalam 10 tahun. (Sekadar informasi: kebangkitan di babak ketiga Piala FA pada 2006 atas Tottenham dari ketertinggalan dua gol; dua musim kemudian, kemenangan 3-2 di Piala Liga atas Nottingham Forest di mana kiper Paul Smith kebobolan satu dari kick-off; gol kemenangan Anthony Knockaert di play-off di stadion yang sama enam setengah tahun kemudian.)

“Sejarah membentuk diri kita,” tulis sebuah pesan di King Power Stadium Kop sebelum kick-off melawan Swansea. Jika Leicester tidak yakin sepenuhnya siapa diri mereka beberapa pekan yang lalu, mereka jelas sudah yakin sekarang: mereka adalah Champions of England (Juara Inggris).

Pujian pertama untuk Ranieri, pada awal September

Hal ini jelas tidak akan pernah terjadi lagi – jelas tidak bagi sebuah tim yang begitu menyedihkan pada musim lalu sebelum bangkit di akhir musim, dan melewati bukan satu atau dua tetapi enam raksasa sepakbola dan seterusnya untuk menulsi cerita paling sensasional. Di bawah manajer yang seharusnya tidak ditunjuk, orang-orang bilang, Leicester akan terdegradasi. Menurut rumah-rumah judi, peluangnya hanya 5.000/1.

Lima ribu. Pada Agustus lalu, Anda bisa mendapatkan peluang 2.500/1 untuk kategori taruhan David Cameron menggantikan Tim Sherwood sebagai bos Aston Villa, dan 1.000/1 untuk taruhan band Queen bisa berada di nomor 1 di tangga lagu Natal.