Bagaimana Timnas Jerman Bisa Beregenerasi Tanpa Henti

Jerman seolah tak pernah berhenti menghasilkan pemain-pemain muda yang luar biasa untuk mendominasi dunia. Apa rahasianya?

Deutschland, Deutschland uber alles, uber alles in der welt. Jerman di atas segalanya, segala yang ada di dunia.

Hampir semua tulisan long-form tentang kesuksesan tim sepakbola Jerman di era kontemporer yang saya temukan di media massa menyertakan kutipan di atas. Itu bisa diwajarkan. Sebab, kutipan itu merupakan ungkapan yang saya rasa paling pas untuk menggambarkan Jerman dan nasib mereka yang selalu baik nyaris dalam semua bidang.

Kutipan itu dulunya merupakan baris pertama dan kedua dalam bait pembuka lagu kebangsaan Jerman. Lantaran mengingatkan masyarakat Jerman akan kekejaman Adolf Hitler, dua baris itu kemudian dihilangkan. Meski tetap saja, keinginan untuk selalu berada ‘di atas segalanya’ terpatri dalam tiap orang Jerman, termasuk dalam sepakbola.

Benar bahwa tim nasional Jerman tampil luar biasa di hampir setiap turnamen merupakan andil dari karakteristik mereka sendiri, karakteristik orang Jerman: orang-orang yang ingin selalu berada di atas segala sesuatu. Hingga kemudian, jawaban yang dianggap paling tepat dari pertanyaan semacam ‘mengapa Jerman selalu mencapai setidaknya semifinal dalam beberapa turnamen terakhir?’ adalah ‘karena mereka Jerman’.

Teranyar, Jerman berhasil menggondol predikat juara Piala Konfederasi 2017 di Rusia bersaman dengan juara Piala Eropa U-21. Karena mereka Jerman? Bisa jadi.

"Karena mereka Jerman..."

Tapi, menyebut kesuksesan Jerman, terutama sejak era milenium, jawaban hanya ‘karena mereka Jerman’ tentu tak begitu tepat. Ada aspek lain yang lebih besar dan turut membangun kesuksesan sepakbola mereka hingga sekarang. Salah satu yang paling utama adalah regenerasi yang seolah tak putus semenjak sekitar 2003.

Regenerasi yang Tak Pernah Berhenti

Saat skuat Jerman diumumkan, publik beramai-ramai menganggap Loew tidak serius menghadapi Piala Konfederasi 2017. Penyebabnya adalah ia tidak menyertakan nama-nama beken peraih gelar juara dunia 2014 semacam Toni Kroos, Mesut Ozil, Manuel Neuer, Thomas Muller, Jerome Boateng, Matt Hummels, dan beberapa pemain lain. Tercatat hanya ada Shkodran Mustafi, Julian Draxler, dan Mattias Ginter yang terlibat dalam capaian bersejarah itu.

Loew berani mempercayakan pemain-pemain minim pengalaman di Piala Konfederasi 2017

Apa yang dilakukan Loew sangat berbeda dengan timnas lain. Ketika negara-negara seperti Portugal dan Cile diperkuat para pemain bintang mereka, Jerman justru mengandalkan nama-nama muda nan minim pengalaman dalam diri Timo Werner, Joshua Kimmich, Leon Goretzka, Niklas Sule, serta Emre Can. Rataan usia skuat mereka pada turnamen itu sendiri kurang dari 24 tahun.

Pages