Bagas Adi Nugroho: Bek Berbakat yang Telah Melanglang Buana Sejak Muda

Namanya mulai dikenal sejak berita ia diajak trial di Jepang menyebar. Tapi sekarang, semua orang sudah mengenalnya dan mengakuinya sebagai salah satu bek muda terbaik di Indonesia. Yudha Prastianto mengajak kita mengenal Bagas Adi Nugroho lebih dekat lagi...

Cerita 60 detik

Bagas, begitu ia biasa dipanggil. Dia adalah satu dari melimpahnya talenta tanah air yang mencuat belakangan ini. Namanya terdengar sejak ia menjalani trial di salah satu klub top J-League, FC Tokyo. Kendati sempat menuai pujian dari pihak klub di awal keikutsertaannya, namun Bagas pada akhirnya belum memperoleh rezeki untuk bermain di negara berjuluk Matahari Terbit itu.

Dirinya dan sang rekan, Hanif Sjahbandi, pun kembali ke tanah air. Bagas kemudian bermain untuk PSS Sleman di ajang Indonesia Soccer Championship (ISC) B tahun lalu. Bersama Laskar Elang Jawa, kapten timnas U-19 dan U-22 tersebut sukses melenggang hingga babak final dan menjadi runner-up.

Pencapaian luar biasanya itu akhirnya mengantarkan Bagas ke Malang untuk memenuhi ajakan latihan bersama Arema FC. Hasilnya, pemuda asli Sleman ini sukses membuat tim kepelatihan Singo Edan kepincut dan kemudian meminangnya musim ini.

Keputusan jawara Indonesia Super League (ISL) 2009/10 itu memang tidak salah. Bagas tampil baik dan menjadi tumpuan lini belakang di bawah komando Aji Santoso. Kerja kerasnya sejauh ini juga membuahkan hasil, di antaranya juara Trofeo Bhayangkara 2017 dan Piala Presiden 2017.

Bagas tampil bagus di Piala Presiden 2017 lalu

Mengapa Anda harus mengenalnya

Pemain 20 tahun tersebut memang besar di lingkungan sepakbola. Ayahnya adalah mantan pemain sepakbola, meski hanya sebatas turnamen kampung. Namun hal itu justru membuat Bagas terpacu untuk menjadi pemain profesional.

Tak heran jika masa kecilnya sudah diisi dengan sepakbola. Ketika masih kelas 2 SD saja, Bagas sudah ikut sekolah sepakbola (SSB) dan hanya berselang dua tahun ia tergabung dalam Pembimbingan Atlet Berbakat (PAB) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang berlatih di Bantul.

Andil keluarga yang memang memiliki latar belakang sepakbola adalah rahasia mengapa Bagas mampu melaju jauh hingga kini. Diceritakan Bagas jika sang ayah sering mengantarkan dirinya latihan. “Hampir setiap hari saya latihan dan bapak saya yang selalu mengantar, menunggu saat saya latihan. Kadang ibu juga ikut saat bertanding.” ujar Bagas saat diwawancarai FourFourTwo Indonesia.

Andil keluarga yang memang memiliki latar belakang sepakbola adalah rahasia mengapa Bagas mampu melaju jauh hingga kini. Diceritakan Bagas jika sang ayah sering mengantarkan dirinya latihan

Prestasi mulai diperoleh Bagas kecil saat dirinya menginjak tingkat 5 Sekolah Dasar. Bagas pindah ke kota dan bergabung dengan SSB Gama. Dari sana, ia dipercaya mewakili DIY di ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) yang digelar di Jakarta sampai akhirnya ia turut mewakili Indonesia pada gelaran Piala AFC Festival U-13 2009 di Malaysia.

Perantauan kapten tim nasional ini pun dimulai. Ia diangkut oleh salah satu akademi sepakbola di Musi Banyuasin, Sekayu Youth Soccer Academy (SYSA). Bagas juga mendapat berbagai medali baik regional dan nasional di sini. Hanya enam bulan di SYSA, Bagas harus membela tim nasional U-14 pada tahun 2010 yang berlaga di AFC Festival U-14.

Setelah pulang dari Malaysia, perantauannya berlanjut ke Indonesia Football Academy (IFA) di Jakarta. Ia kemudian bertemu dengan sejumlah teman pesepakbola, seperti Yogi Rahadian, Maldini Pali dan Hargianto. Berbagai gelar pun ia dapat bersama IFA, di antaranya LPI, MUPC, Menpora Cup. Kemampuan Bagas yang terbukti sangat baik membuatnya dipanggil oleh timnas U-16 asuhan Mundari Karya yang berlaga di Piala AFF U-16 dan U-16 arahan Indra Sjafri ketika berpartisipasi di Piala Asia AFC di Thailand.

Karir Bagas bukan tanpa halangan. Sejumlah cedera di tahun 2014 dan sesuatu yang benar-benar menjengkelkan (baca: dibekukannya sepakbola Indonesia) pada 2015 sempat menghambat karir sepakbolanya. Pada tahun 2014 misalnya, Bagas harus mengubur impian untuk bermain di ajang Piala AFF dan Piala Asia AFC 2014 karena harus menjalani operasi mata ikan dan juga mengalami cedera otot pangkal paha. Setahun setelahnya ia kembali dipanggil oleh timnas U-19 yang saat itu dilatih oleh Fakhry Husaini. Ia mengaku bahwa mulai mendapatkan posisi terbaik selaku bek tengah ketika berada di bawah kepelatihan pelatih yang lahir di Aceh tersebut.

Bagas beraksi dalam laga ujicoba di Iwaki FC

”Dari coach Fachri saya menemukan posisi terbaik saya sebagai bek tengah dan ditunjuk sebagai kapten. Sebelumnya saya selalu bermain di bek kiri,” katanya.

Melihat Bagas punya potensi, salah satu agen sepakbola besar nasional, Muly Munial datang dengan mengajaknya bergabung dengan Munial Sports Group (MSG). Ia pun dibawa ke berbagai negara seperti Jepang dan Italia guna mengkuti sejumlah trial. Usahanya ke Italia gagal dikarenakan masalah visa.