Benarkah Real Madrid Lebih Baik Bersama Zinedine Zidane?

Kemenangan klinis atas Deportivo La Caruna, Sporting Gijon, dan Espanyol disertai penampilan mengecewakan saat melawan Real Betis dan Granada, tulis Lee Roden – seperti di bawah asuhan Rafael Benitez...

Zinedine Zidane bisa berjalan di atas air dan menyembuhkan kusta selama semalam -- setidaknya itulah beberapa tulisan dari koran Spanyol yang akan Anda percayai. Kemenangan meyakinkan atas tim-tim seperti Sporting dan Espanyol di Santiago Bernabeu sudah cukup untuk memberitakan "Efek Zidane" di Real Madrid, kesimpulan yang juga melupakan bahwa manajer mereka sebelumnya juga mempunyai kecenderungan memukul tim kecil saat bermain di kandang.

Pada kenyataannya, tidak ada bukti dari efek Zidane: Dalam periode yang sama, setelah lima pertandingan, rekor Zidane hampir identik dengan pendahulunya. Tapi bagaimana dengan penampilan Madrid? Apakah Madrid benar-benar menunjukkan bahwa pergantian pelatih merupakan sesuatu yang menguntungkan, atau masalah yang sama pada waktu sebelumnya masih tetap muncul?

Masalah yang mulai terasa

Seringkali pemain yang mengandalkan teknik seperti Toni Kroos, James Rodriguez, dan Karim Benzema terlihat kompak, sering bertukar umpan dengan cepat dan akurat yang mana tidak nampak pada era Benitez

Salah satu faktor utama memberikan pekerjaan kepada Zidane di Madrid adalah bahwa dirinya bisa menempatkan gaya bermain yang lebih proaktif, dan membuat Madrid meninggalkan gaya counter-attack yang telah mendominasi mereka dalam beberapa tahun terakhir. Bagaimanapun, membuat perubahan gaya permainan secara dramatis di tengah-tengah musim adalah sesuatu yang berisiko, dan tidak mengejutkan,  kesulitan itu masih terlihat. 

Madrid mengalami peningkatan dalam penguasaan bola. Dalam lima pertandingan di bawah Zidane, tingkat penguasaan bola Madrid rata-rata mencapai 60%, sedangkan di bawah Benitez rata-rata hanya 56%, tapi mereka belum menerjemahkan hal tersebut dengan melakukan umpan-umpan yang lebih baik. Pemain masih sering membawa bola terlalu lama, sering melakukan build-up yang dibuat-buat, dan sering melakukan kesalahan umpan saat mendekati gawang lawan.

Dari semua itu Zidane ingin membuat permainan Madrid menjadi lebih rumit, tapi peluang terbaik timnya masih berasal dari umpan silang dan secepat mungkin memanfaatkan kesalahan lawan dalam melakukan penguasaan bola.

Namun, di sini ada tanda-tanda kecil bahwa Los Merengues bisa sukses bermain dengan lebih rumit di bawah manajer baru mereka. Pada momen-momen yang singkat, seringkali pemain  yang mengandalkan teknik seperti Toni Kroos, James Rodriguez, dan Karim Benzema bisa bekerja sama, sering bertukar penguasaan bola dengan cepat dan melalukan umpan akurat di mana hal tersebut tidak nampak pada era Benitez. Sebuah contoh yang jelas adalah gol terakhir Madrid saat melawan Betis 24 Januari lalu. Tantangan bagi Zidane adalah membuat hal tersebut lebih sering terjadi, tapi tanpa pra-musim yang nyaman itu adalah tugas yang sulit.

(Masih) Hilang: Cristiano Ronaldo

Di Granada, Cristiano menampilkan salah satu penampilan paling buruknya selama bermain untuk Real Madrid

Kritik reguler kepada Bintez adalah bahwa dia tidak tahu bagaimana caranya mengeluarkan penampilan terbaik Cristiano Ronaldo, dan ketika Zidane datang dia langsung bersikeras bahwa metode kepelatihannya akan meningkatkan performa pemain veteran tersebut. Pelatih anyar ini berusaha menggali beberapa rasa optimis yang diperlukan: Ronaldo melakukan tembakan sasaran lebih buruk daripada musim lalu, dan kurang dari 25% golnya terjadi ketika Madrid sedang dalam kondisi imbang atau sedang tertinggal. Sederhananya, kontribusinya tidak sesuai dengan apa yang Madrid harapkan.

Pekerjaan Zidane adalah menghidupkan kembali Ronaldo yang lama, dan tanda bahwa dia belum bisa mencapai hal tersebut terlihat saat melawan Espanyol pada 31 Januari lalu. Pada pertandingan tersebut Ronaldo mencetak hattrick, salah satunya melalui upaya individu yang brilian, tapi mengingat dia mampu mencetak lima gol dari tim yang sama saat berada di bawah asuhan Benitez, masih terlalu dini untuk mengambil kesimpulan.

Mampukah dia meneruskannya dan menghasilkan kinerja istemewa lagi pada penampilan berikutnya?

Tidak. Di Granada, Cristiano menampilkan salah satu penampilan paling buruknya selama bermain untuk Real Madrid. Dengan hanya satu tembakan berbahaya selama 90 menit, pergerakannya yang tidak konstruktif membuatnya tidak terhubung dalam permainan, membuat rekan-rekannya kesulitan untuk memberikan umpan-umpan berbahaya kepadanya secara efektif, ketidakhadirannya dalam 18 kombinasi umpan terbaik yang terjadi dalam pertandingan tersebut menceritakan semuanya.

Lesu, sering diam dan akhirnya tidak efektif, Cristiano Ronaldo yang tampil di Granada terlihat seperti orang yang tampil di bawah Benitez. Zidane belum menciptakan sebuah keajaiban.

Isu dalam cara bertahan

Permainan menyerang Madrid bukan satu-satunya hal yang harus dibenahi Zidane – ia juga harus bisa mengatasi inkonsistensi Madrid dalam bertahan, dan itu membutuhkan perjuangan tersendiri. Bos baru Madrid tersebut telah memperlihatkan hal mengesankan dalam hal pressing yang agresif dan merebut bola kembali secepat mungkin, tapi dalam prakteknya, kesalahan saat mencoba melakukannya terlihat dalam setiap pertandingan.

Madrid mencoba untuk melakukan pressing tinggi, tapi secara umum mereka melakukannya secara individu bukan secara kolektif: satu pemain akan menekan lawan untuk memenangkan kembali bola, tapi pemain tersebut sering tidak dibantu oleh rekannya yang berada di dekatnya. Hasilnya adalah jumlah pelanggaran yang berlebihan dan tekel yang sering gagal, dan masalah terakhir sering memberikan kesempatan kepada lawan untuk mengambil keuntungan.

Menghadapi tim kecil yang tidak mempunyai kualitas penyelesaian akhir yang bagus untuk memberikan hukuman pada kesalahan mereka, Los Blancos bisa lolos, tapi melawan tim yang seimbang dengan mereka, hal ini akan menjadi masalah besar. Di bawah Benitez, Madrid kalah empat gol dari Barcelona. Jika mereka terus bertahan dengan cara bertahan mereka sekarang ini, Barcelona bisa melakukan hal serupa pada Madrid di bawah Zidane.

Pertanyaan soal lini tengah

Dengan begitu banyaknya pemain No. 10 di line-up, ia perlu memberikan latihan yang bagus untuk mencegah ketidakpedulian mereka saat bertahan dan kurangnya fluiditas saat menyerang

Semua isu yang muncul di bawah Zidane berujung pada satu pertanyaan besar yang juga didapatkan pendahulunya: bagaimana Zidane memperbaiki lini tengah Madrid? Skuat tidak seimbang Real Madrid membuat pertanyaan tersebut menjadi teka-teki yang sulit untuk dipecahkan. Dengan begitu banyaknya pemain No. 10 di line-up, ia perlu memberikan latihan yang bagus untuk mencegah ketidakpedulian mereka saat bertahan dan kurangnya fluiditas saat menyerang, yang keduanya dapat berakibat fatal di level tertinggi.

Meyakinkan pemain seperti James untuk menekan naluri individunya dan bekerja keras untuk tim bukan perkara mudah. Daripada membujuk pemain asal Kolombia tersebut, Benitez hanya bisa mengasingkan pemain tersebut. Masalah serupa terjadi dengan Isco dan Toni Kroos. Harapannya, Zidane dapat berbuat lebih lebih baik.

Ini membuktikan bahwa ada tantangan lebih besar daripada yang sudah diduga. James bisa tampil menggembirakan kemudian menghilang secara tiba-tiba, sementara Isco yang pernah menghasilkan assist terbaik tidak menghasil sesuatu yang pantas lagi. Keduanya masih memiliki kebiasaan menolak untuk bekerja keras ketika pertandingan cukup berat, dan dengan prajurit seperti itu, Zidane akan kesulitan memenangkan perang.

Namun, dia masih mempunyai harapan, dalam bentuk permain seorang gelandang.

Kontras dengan inkonsistensi rekan-rekannya, Modric tetap mampu tampil brilian di bawah manajer barunya, menunjukkan tingkat fokus yang rekan-rekannya dapat pelajari. Adalah kesalahannya yang memungkinkan Granada melakukan serangan balik untuk kemudian menyamakan kedudukan pada akhir pekan lalu, namun usahanya untuk tetap mematuhi intsruksi juga lah gol kemenangan bisa tercipta dari kaki kanannya.

Zidane kemudian menjelaskan bahwa dia secara khusus menyuruh pemain bernomor punggung 19 tersebut untuk sering bergerak ke area penalti lawan yang bisa menghasilkan gol, contoh dari penerapan taktik secara disiplin. Jika Zidane dapat membujuk pemain-pemain seperti James dan Isco melakukan hal sama, maka seluruh tim tiba-tiba akan menjadi stabil; baik dalam penguasaan bola atau dalam merebutnya kembali.

Dan itulah efek Zidane yang layak untuk dibicarakan.   

BACA JUGA

Lebih banyak fitur setiap harinya di FFT.com

STATS ZONE Gratis di iOS • Gratis di Android