Berbahagialah Karena Si Rubah Telah Kembali!

Entah sudah berapa kali sebuah klub dari wilayah tengah Britania Raya ini menghadirkan kebahagiaan kepada para pendukungnya – juga seluruh pencinta kulit bundar. Lewat cara yang terkadang di luar logika, pasukan biru-biru menjelma selaiknya manusia-manusia dengan kekuatan yang tak bisa di nalar. Ya, itulah Leicester City, klub yang dari tahun ke tahun memperlihatkan sepak terjang tak biasa dalam dunia sepakbola modern.

Kota Leicester pun patut berterima kasih kepada klub. Berkat mereka, kota yang sejatinya sudah lebih dulu terkenal dengan berbagai macam karya seni, termasuk seni sastra dan teater yang besar melalui mahakarya seorang William Shakespeare kini lebih mendunia lewat jalan berbeda, yakni sepakbola.

Kendati demikian, rasa bahagia itu perlahan memudar tatkala mereka sempat kehilangan kendali pasca menjuarai Premier League musim lalu. Tercecer hingga ke posisi 17 di bawah komando The Italian Tinkerman, Claudio Ranieri membuat Leicester panik, padahal posisi tersebut sudah biasa mereka huni ketika masih berada di musim-musim yang gelap.

Ranieri kemudian menjadi korban, ia diberhentikan oleh klub yang dibawanya meraih gelar yang entah kapan bisa diperoleh kembali. Sontak satu kota berduka, emosi membuncah dari para pendukung. Protes pun dilancarkan langsung kepada sang pemilik yang memiliki nama belakang yang sulit untuk disebutkan itu.

Legenda Inggris, Gary Lineker sampai mengecam keputusan mengejutkan tersebut. “Bagi saya ini jadi keputusan yang benar-benar salah, inilah fenomena dalam sepak bola modern. Padahal apa yang terjadi musim lalu benar-benar luar biasa. Terlihat benar kurangnya rasa syukur dari pemilik klub.”

Bagi saya ini jadi keputusan yang benar-benar salah, inilah fenomena dalam sepak bola modern. Padahal apa yang terjadi musim lalu benar-benar luar biasa. Terlihat benar kurangnya rasa syukur dari pemilik klub

- Gary Lineker, legenda Leicester

Vichai, pemilik Leicester pun berkilah, ia mengaku bahwa yang dilakukannya semata-mata demi masa depan Leicester. "Kami sudah melakukan yang terbaik, masalahnya tak cuma satu, mungkin ada sejuta hal yang bisa kita lakukan agar klub bertahan. Hormati keputusan saya."

Kepergian pelatih penoreh tinta emas itu sepertinya memang sudah direncanakan sejak mencuatnya hubungan buruk antara Ranieri dan para pemain. Bahkan, Riyad Mahrez diisukan menjadi biang keladi di balik pemecatan sang tactician, meski akhirnya diklarifikasi.

Tidak harmonisnya hubungan antara pemain dan pelatih juga diketahui dari pendapat yang dilontarkan Wes Morgan, kapten tim. Dalam wawancaranya bersama Sportsmole, ia mengaku bahwa suasana tim menjadi lebih baik sejak perginya pelatih yang ditunjuk pada awal musim 2015/16 tersebut.

"Kami masih punya beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Ini bukan cuma soal pekerjaan yang dilakukan kemudian selesai, tapi kami berada di trek yang benar. Ada sebuah energi positif di dalam tim semenjak kepergian Ranieri."

Ini bukan cuma soal pekerjaan yang dilakukan kemudian selesai, tapi kami berada di trek yang benar. Ada sebuah energi positif di dalam tim semenjak kepergian Ranieri

- Wes Morgan, kapten Leicester

Tak lama setelah lengsernya mantan pelatih Valencia dan Chelsea itu, asisten pelatih bernama Craig Shakespeare muncul menggantikan Ranieri. Sebagai informasi, dia bukanlah orang baru di King Power Stadium.

Sejak era Nigel Person, Shakespeare sudah setia mendampingi The Foxes mengarungi berbagai musim. Nama Shakespeare pun sebelumnya tidak akrab di telinga, pasalnya ia lebih sering menjadi caretaker atau asisten pelatih sejak memulai karir di tahun 2006 silam.

Namun, di bawah kendalinya, Leicester justru menemukan penampilan terbaik. Bak mengalami anomali jilid kedua, Leicester kembali sanggup menunjukkan kemapanannya bersaing dengan klub-klub lain setelah sebelumnya terseok-seok.

Dua laga di ajang Premier League menjadi kunci Jamie Vardy cs, Liverpool dihajar 3-1, pun demikian Hull City. Hasil yang mengejutkan tentu saja, pasalnya pada pertemuan pertama, baik The Reds dan The Tigers saat itu sukses mengalahkan Leicester dengan skor 0-4 dan 1-2. Leicester juga tidak mampu mencetak sebiji gol pun sebelum pertandingan kontra Liverpool.

Beberapa hari setelahnya, giliran Sevilla yang mereka buat gigit jari di pentas Eropa. Kekalahan 1-2 pada leg pertama di Ramon Sanchez Pizjuan tak berarti apa-apa bagi Shakepeare dan anak-anak asuhnya. Mereka melakukan comeback lewat Morgan dan Marc Albrighton, Leicester meluluhlantakkan peringkat tiga La Liga dan berhak melaju ke perempat final Liga Champions.

Ini menjadi sejarah bagi klub berlogo rubah itu. Sebuah sejarah besar lainnya yang mereka torehkan selain raihan juara Premier League 2015/16. Hal tersebut kemudian membuat seluruh kota mendadak sumringah, tentu saja Vichai pun ikut bahagia dengan hasil yang diperoleh sejauh ini. Keputusannya mendepak Ranieri ternyata tidak salah.

Perjalanan epik yang diukir Leicester kemudian mengundang rasa cemas dari sejumlah klub besar. Dua klub yang punya sejarah panjang di Liga Champions, Real Madrid dan Juventus, diketahui tidak berharap bisa berjumpa dengan satu-satunya wakil Inggris ini. Zinedine Zidane menyatakan kalau tak satupun pelatih yang ingin berhadapan dengan Leicester, “Saya tidak berpikir satupun pelatih yang berharap bertemu Leicester,"

Begitu juga dengan Gianluigi Buffon, “Aku ingin menghindari Leicester. Mereka punya antusiasme dan gairah, tapi juga senjata untuk melukai tim yang ingin mengambil inisiatif,”

Kembalinya Si Rubah mungkin mulai menghidupkan (kembali) kebencian dari para pesaing. Musim ini di liga domestik, peluang mereka untuk bisa menerobos papan atas memang sudah tertutup. Tapi, bukan tidak mungkin jika musim selanjutnya Leicester bisa melakukan pertunjukkan ajaib untuk kali kedua.

Di sisi lain keberhasilan Leicester dalam menemukan performa terbaik kali ini menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi semua pihak. Sederhana saja, siapa yang tidak senang melihat Jamie Vardy cs meruntuhkan dominasi klub-klub papan atas  seperti musim lalu?