Betapa Besarnya Serie A di Era 90an

Apa yang membuat Serie A begitu digandrungi pada era 90an lalu?

Italia adalah negeri besar Eropa yang menjadi tempat dimulainya perkembangan peradaban dunia di abad pertengahan; Renaisans. Pergerakan yang ditujukan untuk mendrobak cara berpikir seni, politik, dan kesusastraan itu berawal di Kota Firenze, dari abad 14 hingga penghujung abad 16. Renaisans merupakan momen bersejarah ketika dunia yang ‘gelap’ menjadi terang karena pembebasan kultur dan pengetahuan, momen yang mendorong dunia bergerak ke arah modernitas seperti yang kita kenal sekarang.

Singkat kata, Renaisans adalah sebuah momen pembaharuan zaman, dan Italia adalah sentralnya. Tapi bukan cuma menjadi ‘rumah’ bagi perubahan zaman, Italia juga pernah menjadi kiblat sepakbola dunia di era 90-an hingga 2000. Daya magis Serie A yang kerap juga disebut Lega Calcio (Liga Sepakbola dalam bahasa Italia) begitu besar di dunia saat itu, dan kita rasakan juga di Indonesia.

Anda (termasuk penulis) yang lahir di tahun 80-an akhir atau 90-an pasti sudah tidak asing lagi dengan nama Bung Rayana atau Bung Andi Darussalam. Mereka merupakan dua komentator asal Indonesia yang sering menghiasi layar televisi pada 90-an, ketika membawakan acara ulasan pertandingan atau siaran langsung pertandingan-pertandingan Serie A.

Atmosfer sepak bola memang Serie A begitu besar di masa itu, dan pecinta Serie A pun banyak tersebar di Indonesia. Utamanya, mereka menjadi penggemar klub-klub yang dikenal sebagai kekuatan utama di liga ini, yang disebut dengan istilah Il Sette Magnifico atau ‘Tujuh yang Luar Biasa’, yang pernah kami bahas di artikel berjudul “Il Sette Magnifico: Ketika Tujuh Tim Serie A Menguasai Italia dan Eropa”. Tujuh klub yang termasuk di dalamnya adalah: AC Milan, Juventus, Inter Milan, AS Roma, Lazio, Fiorentina, dan Parma.

Kompetisi sepakbola Italia pada masa itu memang sedang jaya-jayanya. Finansial klub yang kuat, pelatih-pelatih top, dominasi klub-klub Italia di Eropa, dan keberadaan banyak pemain bintang asing serta lokal mewarnai gemerlap Serie A pada masa itu.

Semua faktor itu turut andil membesarkan sepak bola Italia di masa itu. Seperti yang telah dituliskan di atas – Serie A layaknya kiblat sepak bola bagi seluruh dunia. Tak mengherankan jika kemudian, virus candu Serie A ini juga menjangkiti Indonesia, negeri yang secara geografis begitu jauh dari Italia.

Pengaruh Kuat Media

“Siapapun yang mengontrol media, mengontrol pikiran.”

Kutipan singkat di atas diucapkan oleh vokalis band The Doors, Jim Morrison. Kesampingkan pikiran akan siapa yang mengontrol media, karena tentu pemilik media memiliki kepentingannya masing-masing, dan fokus dengan kata “mengontrol pikiran”. Media memang memiliki kekuatan itu; kekuatan yang besar untuk menggiring opini publik, layaknya menyebarkan doktrin.

Lalu, apa hubungannya dengan ketenaran sepak bola Serie A di tahun 90-an? Ada, bahkan sangat jelas. Bahwa kita akan mengingat Bung Rayana dan Bung Andi Darussalam ketika mengenang Serie A era 90an memberi bukti bahwa sepak bola Italia memang sangat bergantung pada siaran media televisi yang menyebarkan virus ‘demam Calcio’ ini hingga ke Indonesia.