Bonek: Lahir dari Media, Kini (Terus) Melawan Penguasa

Tanpa struktur organisasi yang jelas, tapi selalu berjalan bersama di bawah satu payung yang sama. Kisah menarik tentang Bonek diceritakan oleh Nanda Febriana...

Bonek merupakan singkatan dari Bondo Nekat. Bondo adalah bahasa Jawa yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti aset, sumber daya, modal, barang yang digunakan sebagai dasar atau bekal untuk bekerja. Nekat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sendiri artinya berkeras hati, dengan keras atau kuat kemauan, terlalu berani (dengan tidak berpikir panjang lagi), tidak mau menyerah, mengotot. Dua perpaduan kata yang bisa menggambarkan secara utuh bagaimana wajah suporter sepak bola yang mengemban nama ini.

Sesuai dengan namanya, kenekatan jadi bagian yang tak bisa dipisahkan dari pergerakan Bonek, basis suporter Persebaya Surabaya. Dari nekat berangkat ke daerah lain demi mendukung Persebaya tanpa pusing memikirkan berapa lembaran uang di saku atau dompet mereka, mau makan apa di sana, tidur di mana, sampai nekat menunjukkan perlawanan pada penguasa atas ketidakadilan yang dialami Persebaya yang membuat Bonek merelakan kebahagiaan utama mereka sebagai suporter sepak bola, mendukung dari tribun.

Bonek kini menjadi sebuah simbol terbesar dalam perlawanan terhadap arogansi penguasa tertinggi sepak bola Indonesia, PSSI

Ya, Stadion Tambaksari tak lagi dipenuhi barisan suporter berbaju hijau yang begitu gemuruh sepanjang 90 menit menyuarakan dukungan untuk Green Force, julukan Persebaya. Tapi, sesuai dengan namanya yang sama sekali tak menggunakan embel-embel nama klub yang didukungnya, Bonek sebenarnya adalah identifikasi dari semangat dan keberanian. Entah kebetulan atau memang nama ini begitu visioner, Bonek kini menjadi sebuah simbol terbesar dalam perlawanan terhadap arogansi penguasa tertinggi sepak bola Indonesia, PSSI. Bonek, tanpa Persebaya yang tengah mati suri, tetap eksis, bernafas demi keadilan yang mereka perjuangkan.

Lahirnya istilah Bonek

Agak rumit ketika harus merunut sejarah lahirnya istilah Bondo Nekat. Namun dalam sebuah tulisan, Aqwam Fiazmi Hanifan menceritakan bahwa istilah Bonek lahir melalui campur tangan media pada pertengahan 1980an. Adalah Jawa Pos yang saat itu dijadikan corong pergerakan suporter Persebaya Surabaya, yang mencetuskan istilah ini.

Suporter klub berjuluk Bajul Ijo ini sedari awal memang merupakan kelompok suporter yang tidak memiliki struktur organisasi resmi. Aktivitas mereka dalam mendukung Persebaya tidak berada di bawah kuasa satu komando yang diberikan ke sosok-sosok tertentu. Dalam tulisan Oryza A. Wirawan, dijelaskan suporter Persebaya mengelompokkan diri sesuai dengan daerah kampung atau kota mereka masing-masing. Tak hanya suporter kelompok kampung seperti Arek Manukan, Arek Rungkut, Arek Sawahan, dan nama-nama kampung atau area lainnya di wilayah Surabaya, tapi para suporter Persebaya yang berasal dari luar kota pun menamakan diri mereka sesuai dengan kota asal mereka. Maka jangan heran jika ada sebutan Arek Jember, Arek Mojokerto, Arek Gresik, Arek Sidoarjo, dan sebagainya. Arek itu sendiri berarti bocah, orang, pemuda. Namun sejak sebutan Bonek muncul, kelompok suporter Persebaya ini mengganti sebutan Arek di depan daerah asal mereka dengan Bonek.

Petinggi Jawa Pos saat itu, Dahlan Iskan, dan walikota Surabaya, dr. Poernomo Kardisi, bekerja sama untuk membangkitkan gairah sepak bola di Surabaya di tengah menurunnya prestasi Persebaya

Jawa Pos sendiri berperan penting dalam membangun identitas suporter Persebaya tiga dekade silam. Petinggi Jawa Pos saat itu, Dahlan Iskan, dan walikota Surabaya, dr. Poernomo Kardisi, bekerja sama untuk membangkitkan gairah sepak bola di Surabaya di tengah menurunnya prestasi Persebaya yang hanya menduduki peringkat sembilan dari sepuluh kontestan pada 1985 di kompetisi Perserikatan.

Sebenarnya, tak ada yang betul-betul bisa memastikan kapan sebutan Bonek ini muncul. Bung Aqwam dalam tulisannya menyebutkan bahwa ada kemungkinan istilah itu lahir dari lidah seorang penyiar radio bernama Amin Istigfarin. Tetapi, ia juga memastikan bahwa Jawa Pos pertama kali menuliskan istilah itu di halamannya pada 8 November 1988. Lalu mana yang lebih dulu? Menurut salah satu sosok Bonek kawakan, yang biasa ngetwit lewat akun anonim @bonekcasuals, menyebutkan bahwa koran Jawa Pos lah yang pertama kali memunculkan istilah Bonek, lewat artikel yang ditulis oleh seorang wartawan bernama Abdul Muis.

Munculnya istilah tersebut di koran Jawa Pos sendiri dipicu oleh insiden 'penumpang gelap' dalam kunjungan Bonek ke Semarang untuk mendukung timnya menjalani laga Kualifikasi Wilayah Timur menghadapi PSIS Semarang di Stadion Citarum. Jawa Pos mencatat bahwa jumlah suporter yang terdaftar resmi dalam rombongan “Tret-tet-tet”, istilah aktivitas suporter yang bertandang ke kandang lawan yang diorganisir oleh Jawa Pos, sebenarnya hanya 1000 orang, tetapi dalam kenyataannya jumlah itu malah membengkak hingga 1500 orang. Para penumpang tambahan itulah yang kemudian disebut dengan Bonek.

Yang patut dicatat, sekalipun Jawa Pos sangat terlibat dalam pergerakan suporter Persebaya saat itu, Bonek tetap menjadi kelompok suporter tanpa struktur spesifik sampai sekarang. Campur tangan media tak menghapuskan kultur Bonek yang sepertinya memang sengaja menghindarkan diri dari struktur kekuasaan yang beresiko menguapkan kesetaraan pada sesama Bonek dan berujung pada perpecahan.

Foto utama: planetbola.com