Brendan Rodgers Sebagai Manajer Terbaik Tahun ini?

Andrew Murray dari FFT bertanya: apabila the Reds mengakhiri musim di urutan ke empat, apakah akan menjadi pencapaian terbaik dari Rodgers?

Murung dan berdiri sendiri tanpa bergerak sedikitpun. Lampu Old Trafford tetap tak bisa membuatnya mengeluarkan senyuman.

Melipat tangan manajer Liverpool berdiri di pinggir lapangan, menggunakan pakaian kelam seperti Dustin Hoffman dalam adegan terakhir film The Graduate.

Teriakan suporter Manchester United "Kamu akan dipecat esok hari" ataupun "Brendan Rodgers football genius" tak bisa mempengaruhi perasaannya, setelah kalah 3-0 di Theater of Dreams.

Tersingkir dari Champions League karena tim kecil Basel, membuat Liverpool seakan kembali menjalani musim medioker. Rumor mengenai suasana tim yang tidak kondusif menyeruak ke permukaan, sampai-sampai dirinya harus mengatakan dalam sebuah sesi wawancara "selalu ada isu kapanpun itu." Termasuk masa depannya di Liverpool.

Musim panas lalu dirinya menghabiskan 117 juta poundsterling, untuk menggantikan Suarez yang pindah ke Barcelona. Akan tetapi kuantitas tak bertemu dengan kualitas. Dirinya mengelak disamakan dengan Tottenham Hotspur ketika kehilangan Gareth Bale. "Di Liverpool selalu ada strategi dibalik aksi yang kami lakukan."

Pada bulan Desember, Liverpool seperti mengalami apa yang dialami oleh klub London Utara tersebut. The Reds tertinggal 10 poin dari Manchester United. Perjuangan di Champions League sama dengan Jeremy Clarkson ketika disuguhi vol-au-vents dalam keadaan dingin.

Tiga bulan kemudian, mereka berhasil mengejar rivalnya yang berlokasi di M62 dengan hanya dua poin. Sebelum bertandang ke markas Swansea, tidak satu kalipun kekalahan mereka derita dalam 90 menit. Dua kali kalah di turnamen bergengsi dari Chelsea dan Besiktas, di mana kedua pertandingan tersebut harus melalui babak perpanjangan serta drama adu penalti.

Lalu, bagaimana perubahan dari calon manajer yang memiliki kemungkinan dipecat tertinggi menjadi kandidat kuat pengganti Pellegrini? Dan jika Liverpool menempati posisi empat bisakah menjadi pencapaian terbaik mereka musim ini ketimbang musim lalu?

The early-season pressure on Brendan was huge.

The early-season pressure on Brendan was huge.

Kesulitan Awal

Pada musim 2013/14 Luis Suarez berhasil tampil brilian untuk menutupi lubang di sektor belakang The Reds. Kini setelah pergi, Martin Skrtel mendapat bantuan dari pemain seharga 20 juta poundsterling, Dejan Lovren yang sampai saat ini masih kesulitan mengembalikan performa terbaiknya kala masih bersama Southampton, Alberto Moreno juga demikian, tak mampu bermain dengan skemanya.

Tak ada pemain Uruguay dan Daniel Sturridge usai kemenangan 3-0 atas Tottenham di bulan Agustus, empat pemain belakang semakin mudah tereksploitasi. Hanya menang dua kali dari sembilan laga, itupun dari tim sekelas West Brom dan QPR, termasuk satu kali clean sheet dalam pertandingan imbang tanpa gol melawan Hull. Dan mereka sendiri mencapai titik nadir ketika kalah 3-1 dari Crystal Palace pada akhir November.

"Sistem tak berjalan dengan baik," kata sang pelatih terkait isu pemecatan "Tidak ada identitas, semua bisa melihat itu, terutama setelah Palace. Bagaimanapun dukungan dari manajemen tak berpengaruh dan tim ini tidak bisa berjalan terus."

Sebulan kemudian datang United, namun kejatuhan salah satu raksasa sepak bola Inggris itu belumlah usai. Di pertandingan ini, Rodgers membuat taktik baru. David De Gea menjadi pemain terbaik di pertandingan tersebut, sementara Rodgers kembali menggunakan tiga pemain belakang. Dua playmaker mendukung Raheem Sterling sebagai ujung tombak.

3-4-3 menjadi pilihan utama untuk mengembalikan solidnya lini belakang. Bertambah satu pemain di belakang, serta mengakomodir tipe menyerang seperti Moreno dan juga dua playmaker di belakang Sterling.

Liverpool appear to have once again found the winning formula.

Liverpool appear to have once again found the winning formula.

Mamadou Sakho dan Emre Can berdiri mendampingi Martin Skrtel, revolusi ini membuat mereka tidak kemasukan dalam tujuh laga di 12 pertandingan usai kalah dari United. Tiga pemain menjaga luas kotak penalti sementara dua sisi luar seperti Markovic dan Moreno mengisi luas lapangan.

Lebih lanjut kejelian Rodgers ini didukung oleh penampilan gemilang Coutinho. Bersama playmaker lain seperti Lallana, permainannya menambah dimensi serangan Liverpool.

Butuh waktu lama bagi Rodgers untuk melihat bahwa ia memiliki seorang dirigen dalam diri Coutinho, walau begitu, kredit tetap harus disematkan baginya yang sudah menemukan solusi bagi Liverpool.

Mengandalkan Pemain Muda

Dirinya tidak berhenti setelah menemukan solusi lewat taktik, namun juga kemampuan Rodgers dalam mengembangkan para pemain muda patut mendapat apresiasi. Ia tak segan-segan untuk mengganti pemain yang sudah usang seperti kasus Simon Mignolet kendati beberapa dari mereka masih diterima kembali.

Diuntungkan dengan cederanya Brad Jones, Mignolet kembali tampil lebih apik. Sama halnya dengan Sakho yang terakhir kali bermain bulan September mampu tampil lebih baik dari sebelumnya dalam hal bertahan.

Jordan Henderson kini telah menjelma jadi pemimpin lapangan menggantikan Steven Gerrard. Kemampuan taktik menjadi salah satu alasan ia terus dipajang oleh pelatih. Sebuah hal yang tak bisa terjadi dalam beberapa musim belakangan.

Jordan Henderson has blossomed under Rodgers' tutelage.

Jordan Henderson has blossomed under Rodgers' tutelage.

Sterling juga, dia telah berkembang dari pemain muda menjanjikan menjadi salah satu pemain bintang masa depan. Apabila dibutuhkan, dirinya yang sebelumnya bermain sebagai sayap murni bisa bermain dalam empat posisi yang berbeda.

Jelas, pemain bernomor punggung 31 tersebut, tidak terlalu cepat perkembangannya, tetapi, beberapa manajer yang pintar dan jeli, dapat melihat apa yang ada dalam diri Sterling dan membuatnya berkembang, seperti yang dilakukan oleh Rodgers.

Karena itulah, Merseyside saat ini sedang memiliki harapan yang tinggi kala melihat apa yang akan dilakukan oleh Rodgers terhadap Jordon Ibe. Ibe di panggil kembali ke klub dari masa peminjamannya di klub Championship, Derby County. Pemain berusia 19 tahun itu sukses menjadi andalan mantan pelatih Swansea tersebut, kemampuan mengolah bolanya sukses membuat banyak orang terkagum-kagum. Dengan fakta ini, komitmennya dalam menjadikan pemain muda sebagai nyawa klubnya, telah terbukti sedikit demi sedikit.

Daya Magis Rodgers…

Dari semuanya mungkin ini hal yang paling sulit terlihat secara kasat mata. FFT ingin memperlihatkan itu semua bila memungkinkan namun sayangnya tidak.

Ketika kemampuan taktis banyak dipertanyakan dan semakin mendapat tanda tanya, maka daya magis Rodgers akan semakin terlihat. Seperti apa sudah dilakukan setelah menang 2-0 di St Marys Stadium, tak ada satupun penyerang murni yang ada di starting XI. Seperti ditulis Barney Ronay kepada The Guardian "Salah satu trik sulap dari Rodgers".

Dia tahu bagaimana berbicara di depan publik. Jarang sekali semua konferensi pers dilalui tanpa menyanjung para pemainnya. Musim ini khususnya setelah Januari, kita mendengar bagaimana lapangan di Anfield bukan pada kondisi prima, jika menelan bulat-bulat maka kita tak bisa mengetahui bahwa itu semua terjadi untuk memperlambat gaya main timnya.

"Pemain kami puas bisa bermain di Anfield, kualitasnya baik-baik saja," kata pelatih Blackburn Rovers, Gary Bowyer usai bermain imbang 0-0 dalam perempat final piala FA. "Kalau Rodgers mempermasalahkan hal tersebut, coba tunggu sampai dia melihat Ewood Park."

Rodgers - popular at Swansea.
Rodgers - popular at Swansea.

Empat Besar dan Seterusnya

Liverpool pulang dengan hasil positif dari Liberty Stadium, dan pujian kembali datang menghampiri dirinya.

Musim 2013/14 Rodgers berhasil mendapat gelar LMA: Manager of The Year, selesai di nomor dua klasemen di mana banyak sumbangsih dari penampilan gemilang Suarez. Kredit besar pelatih adalah mampu mengeluarkan kemampuan terbaik dari trio Suarez, Strurridge, dan Sterling.

12 bulan kemudian ia harus berjuang lebih keras. Tanpa pemain bintang dan penyerang tajam (namun cedera), mampu menemukan formula kembali untuk menyelamatkan musim nya yang rusak di awal-awal musim.

Singkatnya Rodgers mendapatkan kesempatan seperti pelatih-pelatih lain pada awal musim. Belanja, mengatur formasi dan juga atmosfer ruang ganti, tanpa 54 gol dari SAS musim lalu. Memang yang terakhir menjadi tanggung jawab khsusus darinya, tiga bulan lalu jangankan bilang empat besar, kini mereka menjadi salah satu kandidat kuat menempati posisi tersebut.

Brendan Rodgers football genius? Mungkin benar adanya.