Bundesliga adalah Liga yang Ramah Untuk Pemain-Pemain Asia dan Inilah Alasannya!

Bagaimana awal ekspansi pemain-pemain Asia ke Bundesliga dan mengapa Jerman adalah negara sepakbola yang ramah untuk pemain-pemain Asia? Taufik Nur Shiddiq menceritakannya...

Yasuhiko Okudera, pemain Asia pertama di Jerman – juga yang pertama di Eropa – tidak memulai debutnya dengan baik. Pada pertandingan pertamanya untuk FC Köln, dalam usaha pertamanya untuk menyentuh bola, di menit pertamanya pada pertandingan debutnya, Okudera menjatuhkan lawan di dalam kotak penalti timnya. Tapi hal buruk dalam karier Okudera di Jerman berhenti di situ. Selama sembilan musim berkarier di Jerman (1977-1986, bersama Köln, Hertha Berlin, dan Werder Bremen) Okudera meraih satu gelar juara Bundesliga dan DFB-Pokal (keduanya di musim pertamanya di Jerman) serta menjadi runner-up Bundesliga sebanyak tiga kali (1982/83, 1984/85, 1985/86), DFB-Pokal satu kali (1979/80), dan European Cup satu kali (sekarang Liga Champions, 1978/79). Seperti karier Okudera, kisah pemain-pemain Asia di Jerman tidak mulus pada awalnya, namun perlahan membaik seiring berjalannya waktu.

Yasuhiko Okudera, pemain Asia pertama di Jerman, tidak memulai debutnya dengan baik. Pada pertandingan pertamanya untuk FC Köln, dalam usaha pertamanya untuk menyentuh bola, Okudera menjatuhkan lawan di dalam kotak penalti timnya

Okudera didatangkan oleh Hennes Weisweiler, pelatih kepala Köln, yang secara kebetulan melihatnya saat tim nasional Jepang bertanding di Jerman. Tidak ada usaha khusus untuk memantau bakat pemain Asia saat itu, sementara kebanyakan pemain Asia yang bermain di Bundesliga saat ini berada di bawah agen yang sama, Thomas Kroth.

Sekarang Kroth ternama dan banyak pemainnya sukses. Awalnya tidak selalu mulus. Klub-klub Jerman pada awalnya enggan menggunakan jasa pemain-pemain Asia. Pengetahuan yang minim tentang sepakbola Asia membuat klub-klub Jerman ragu mengambil langkah. Jika kepada pemain-pemain Jerman yang dapat mereka pantau dari dekat saja klub-klub Jerman selalu bertanya “apa pemain ini cukup baik untuk klub?” sewajarnya mereka menanyakan hal yang sama kepada pemain-pemain yang tidak mereka kenal, dari negeri yang sangat jauh.

“Saya selalu memiliki soft spot untuk Jepang dan terutama Tokyo,” ujar Kroth. “Mungkin itu karena saya bermain bersama Okudera ketika saya di Köln – juga bersama Pierre Littbarski, yang kemudian melatih di Jepang... Karena saya menyukai negaranya, saya pergi ke Jepang mungkin satu atau dua kali setahun dan mulai melihat pemain-pemain. Saya kemudian mencarikan klub untuk mereka di Eropa. Awalnya ini sulit, karena klub-klub Eropa tidak berminat kepada pemain-pemain Asia. Banyak klub berkata: ‘bagaimana pemain Jepang bisa membantu kami?’ Saat itu, tim nasional Jepang berada di posisi yang rendah dalam ranking FIFA dan klub-klub Jerman tidak memiliki pengetahuan terhadap pasar Asia.”

Yasuhiko Okudera

Okudera menjadi pemain Asia pertama yang berkarier di Bundesliga

Pemain-pemain Jepang pun, terlepas dari kesuksesan Okudera, ragu berkarier di Jerman karena pengetahuan mereka tentang sepakbola Jerman begitu minim. “Para pemain Jepang juga lebih memilih pindah ke Premier League-nya Inggris daripada Bundesliga,” ujar Kroth. “Sampai titik tertentu, hal ini masih terjadi, namun kasus serupa lebih sering ditemui saat saya memulai [karier sebagai agen pemain Asia di Jerman]. Bagian besar dari pekerjaan saya saat itu adalah membuat pemain-pemain Jepang tertarik terhadap Bundesliga. Mereka ragu karena mereka tidak tahu apa-apa tentang liga ini.”

Bagian besar dari pekerjaan saya saat itu adalah membuat pemain-pemain Jepang tertarik terhadap Bundesliga. Mereka ragu karena mereka tidak tahu apa-apa tentang liga ini

- Thomas Kroth

Kegigihan Kroth untuk terus mendatangkan pemain-pemain Asia ke Jerman akhirnya membuat klub-klub mau membuka diri. Pemain-pemain Asia pun, pada akhirnya, mulai membuka diri terhadap klub-klub Jerman setelah media lokal di negara mereka masing-masing mulai banyak meliput sepakbola Jerman. Media-media Asia mulai banyak meliput sepakbola Jerman karena pemain-pemain Asia menuai sukses di sana.

“Semuanya berubah dengan pemain-pemain yang disebut Generasi Emas Jepang,” ujar Kroth. “Pemain-pemain seperti Junichi Inamoto, Naohiro Takahara, atau Shinji Ono, yang semuanya berada di bawah naungan saya. Transfer pertama saya adalah Takahara ke Hamburg pada 2003. Tapi kesepakatan kunci saya adalah Makoto Hasebe ke Wolfsburg pada 2008, karena ia langsung menjuarai liga.”

Makoto Hasebe

Makoto Hasebe menjadi gerbang yang membuka perhatian Asia terhadap Bundesliga

Gelombang baru pemain Asia pun mengarah ke Jerman. Seperti pendahulunya, mereka menuai sukses di Jerman. Tidak semuanya berhasil menjuarai liga seperti Hasebe atau kemudian Shinji Kagawa bersama Dortmund, tapi sangat sedikit pemain Asia yang tidak menjadi pemain kunci di Bundesliga.

“Kesuksesan klub-klub Jerman di Liga Champions dan performa tim nasional telah membuat banyak orang di Asia terkesan,” ujar Cha Bum-kun, pemain Asia kedua yang berkarier di Jerman (SV Darmstadt, Eintracht Frankfurt, dan Bayer Leverkusen pada 1978-1989). “Hingga baru-baru ini, Premier League adalah liga yang paling menarik untuk pemain-pemain Korea. Namun Bundesliga perlahan menguat. Gaya bermainnya cocok dengan pemain-pemain Asia. Banyak pemain Asia datang ke Bundesliga karena mereka sadar bahwa para pemain Jepang dan Korea memiliki tempat di tim-tim besar.”

Cha Bum-kun

Cha Bum-kun meraih sukses yang luar biasa saat berkarier di Jerman pada era 1980an

Selanjutnya: karakter pemain-pemain Jepang dan Asia Timur lainnya sebagai penyebab mulusnya adaptasi di Bundesliga