Analisa

Cara Terbaik Bagi Chelsea Untuk Menaklukkan Barcelona? Dengan Meniru Real Madrid

Real Madrid memang kalah dalam El Clasico pertama mereka musim ini, namun mereka memberikan gambaran bagaimana cara terbaik bagi Chelsea untuk mengalahkan Barcelona, tulis Zakky BM...

We are part of The Trust Project What is it?

Jika tak menghitung laga Piala Super Spanyol (kalah dari Real Madrid) di awal musim lalu, Barcelona sepanjang musim ini hanya kalah sekali di ketiga ajang (La Liga, Copa del Rey dan Liga Champions Eropa) yang mereka ikuti. Kekalahan tersebut terjadi pada laga leg pertama perempat final Copa di kandang Espanyol dengan skor tipis 1-0. Menyenangkan? Tentu saja tidak, apalagi Espanyol adalah rival sekota Barca. Bahkan beberapa pekan setelahnya, Barca hampir saja kalah lagi dari Kawanan Burung Parkit – julukan Espanyol – ini di ajang La Liga.

Selain Espanyol, memang ada tim lain yang cukup merepotkan Barca sepanjang musim ini. Sebut saja Getafe, Valencia, Celta Vigo dan juga Atletico Madrid. Meski hanya berakhir imbang melawan tim-tim tersebut, bisa dibilang Barca asuhan Ernesto Valverde ini sangat konsisten untuk mendapatkan poin, bahkan ketika bermain buruk atau membosankan sekalipun. Kuncinya adalah tak membiarkan pertahanan mereka tak terekspos meski bermain menyerang. Buktinya adalah mereka hanya kebobolan 11 gol di ajang La Liga (hanya kalah dari Atletico yang kebobolan 9 gol) dan ini adalah salah satu PR yang mampu Valverde benahi dalam waktu separuh musim ini.

Bahkan Vermaelen pun bisa tampil bagus musim ini

Kembali lagi pada konteks judul artikel ini yang mempertanyakan bagaimana cara mengalahkan Barca asuhan Valverede, tentu jawabannya beragam. Pendekatan pertama untuk melumpuhkan Barca adalah mengganggu Sergio Busquets, bagaimana pun caranya. Saat Real Madrid begitu agresif di babak pertama El Clasico lalu, anak asuh Zinedine Zidane itu begitu gencar memberikan pressing tinggi satu lawan satu kepada setiap pemain Barca dan memaksa pemain belakang Barca (termasuk kiper Marc Andre ter Stegen) banyak melepaskan bola-bola jauh. Akses bola menuju Busquets jelas harus dibatasi, namun jika Busquets sudah terlanjur menguasai bola, maka menutup akses operannya menuju Lionel Messi adalah langkah kedua untuk melumpuhkan Barca saat itu.

Tentu saja, pressing tinggi 1v1 ini mesti konsisten sepanjang laga, dan itu bukan pekerjaan mudah. Calon lawan Barca di Liga Champions Eropa yaitu Chelsea, mempunyai pemain tengah bertenaga kuda dalam diri N’Golo Kante untuk berduel melawan Busquets. Jika Kante bisa menghentikan Busquets sepanjang laga (setidaknya) di Stamford Bridge nanti, maka kemungkinan besar alur serangan Barca menjadi lebih monoton. Jika kondisi tersebut terjadi, maka Chelsea akan mudah menyerang balik pertahanan Barca. 

Menghalangi Busquets akan jadi kunci penting dalam menghadapi Barcelona

Dalam menggangu kinerja Busquets, ada juga cara lainnya selain harus membayangi dan berduel 1v1 dengannya sepanjang laga. Cara tersebut adalah menarik Busquets keluar dari posisinya sebagai gelandang bertahan Barca. Saat Espanyol menang dengan sebiji gol di Cornella lewat kaki Oscar Melendo di ajang Copa, Busquets terpancing jauh ke sisi lapangan dan sialnya pemain tengah lainnya tak sadar dengan kondisi ini.

Secara kasat mata, memang sisi sayap digunakan Espanyol untuk berprogresi ke depan dengan mengeksploitasi bek kiri Barca (Lucas Digne). Namun sesungguhnya yang terjadi adalah mereka cukup sukses menarik Busquet jauh dari posisinya dan membuat Melendo leluasa berlari tanpa ada hadangan sedikitpun. Singkatnya, eksploitasi sisi sayap ini akan lebih ampuh jika lini tengah Barca (terutama) Busquets dipancing keluar dari area bermainnya yang berposisi sebagai benteng terakhir Barca sebelum langsung berhadapan dengan bek serta kiper.

Jika Espanyol saja yang di atas kertas memiliki skuat dibawah kualitas Barca bisa melakukan hal seperti ini, maka Chelsea yang memiliki skuat yang hampir seimbang pun seharusnya mampu mengatasi Barca. Apalagi juru taktik mereka, Antonio Conte, cukup berpengalaman untuk menghentikan permainan sepakbola agresif dengan berbasis penguasaan bola (seperti Barca), seperti saat membawa Italia mengalahkan Spanyol 2-0 di ajang Piala Eropa 2016 lalu.