Analisa

Carlo Ancelotti: "Saya pernah menendang sebuah kardus dan kena kepala Ibrahimovic. Ia sama sekali tidak bereaksi"

Carlo Ancelotti

Apakah ia sempat nyaris menjadi manajer Manchester United? Apakah ia sudah mulai belajar Bahasa Jerman? Bagaimana ia menghadapi ego luar biasa besar seorang Zlatan? Mengapa ia bisa berada di film Star Trek terbaru? Sang Legenda menjawab semuanya.

We are part of The Trust Project What is it?

Prospek untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Pep Guardiola akan membuat nyali banyak manajer merasa sedikit ciut. Namun sebagian besar manajer tidak memiliki CV seperti yang dimiliki oleh Carlo Ancelotti.

Duduk di ruangan rapat milik kantor cabang London penerbit buku barunya, manajer baru Bayern Munich ini memang pantas menyandang status “teddy bear” yang diberikan mantan rekannya di AC Milan, Paolo Maldini.

Orang Italia ini terbukti sangat sopan, mempesona, dan memiliki karakter yang sangat sangat menarik saat ia menceritakan karir yang sulit disaingi siapapun saat menjadi pemain dan juga manajer, yang mencatat setidaknya ada 31 gelar utama yang ia raih selama empat dekade terakhir.

Carlo Ancelotti

Alis mata paling terkenal di dunia sepakbola

CV manajer yang ia miliki terlihat seperti daftar klub-klub terbaik Dunia –Juventus, Milan, Chelsea, Paris Saint-Germain, Real Madrid, dan sekarang Bayern- dan, bersama Bob Paisley, ia menjadi satu-satunya manajer yang sukses memenangi gelar Liga Champions tiga kali... sejauh ini.

Sebelum melanjutkan era Guardiola di Bavaria mulai musim panas ini, Ancelotti menjawab pertanyaan anda, dan berbicara tentang Cristiano Ronaldo, Chelsea, Zlatan Ibrahimovic, Leicester City, membuat keju Parmesan, dan debut akting mengejutkannya di film Star Trek terbaru.

Anda sebelumnya menyebutkan bawah Anda “sangat miskin” saat masih kecil. Pelajaran apa yang Anda dapatkan dari masa-masa ini? - Andy Woodman, via Twitter.

Saya ingat masa-masa itu dalam hidup saya, dan benar sekali bahwa kami tidak punya uang cukup banyak, tapi saya tumbuh dalam keluarga yang hebat –keluarga pekerja. Itu adalah masa-masa yang tenang dan damai. Ayah saya tidak pernah berteriak dan membentak saya. Saya tinggal bersama semua keluarga –Ayah, Ibu, Kakak, dan juga Kakek-Nenek. Masa tersebut membentuk karakter saya. Keluarga saya bekerja di perkebunan –mereka adalah petani. Kami membuat keju Parmesan. Saya masih tahu bagaimana cara membuatnya hingga sekarang. Setiap pagi kami akan mengambil susu dari Sapi-Sapi untuk membuat Keju.

Apa hal terbaik di masa Anda di Milan sebagai pemain, dan bagaimana rasanya bermain bersama begitu banyak legenda di Permainan ini? –Don Keeper, via Facebook.

Saya benar-benar memilih waktu yang tepat untuk pergi ke Milan, kan? Itu adalah tim yang sangat, sangat fantastis. Dan kami bermain untuk manajer yang tahu persis apa yang ia inginkan. Arrigo Sacchi melakukan sesuatu yang baru di sepakbola dengan bagaimana kami bisa terorganisasi dengan baik, dan ia mengajari kami untuk mengekspresikan diri di lapangan, yang sangat membantu untuk tetap bertahan di puncak. Saya memiliki hubungan yang hebat dengan Paolo Maldini dan Franco Baresi, tapi Sacchi adalah kunci segalanya.

Carlo Ancelotti

Ancelotti bermain di salah satu tim terbaik dunia di bawah arahan Sacchi di Milan

DATA & FAKTA

  • Tanggal Lahie: 10 Juni 1959
  • Tempat Lahir: Reggiolo, Italia
  • Posisi: Pemain Tengah
  • Karier Klub: 1976-79 Parma 55 pertandingan (14 gol); 1979-87 Roma 171 (12); 1987-92 Milan 112 (10)
  • Karier Timnas: 1981-91 Italia 26 (1)
  • Prestasi: Juara Serie A 1983, 1988, 1992; Coppa Italia 1980, 1981, 1984, 1986; Piala Champions 1989, 1990; Piala Interkontinental 1989, 1990

Tim mana yang lebih baik: Milan di tahun 80an atau Barcelona di tahun 2015? –Terry Menton, via Twitter.

(Tertawa) Ini adalah pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab karena sepakbola sudah berubah begitu banyak semenjak tahun 80an. Jujur saja, saya rasa Barcelona bermain dengan intensitas yang lebih besar sekarang. Tapi sulit untuk dibandingkan karena peraturan pertandingan sudah berubah, terutama dengan peraturan offside. Lebih mudah untuk menciptakan gol saat ini karena sangat sulit untuk menjaga garis pertahanan yang tinggi. Sekarang, Anda terperangkap offside hanya jika Anda pemain yang menyentuh bola atau berada di dekatnya, sedangkan saat saya bermain untuk Milan, semuanya harus ada di belakang garis.

Apa yang Anda pelajari saat bekerja sebagai asisten Arrigo Sacchi di Italia pada Piala Dunia 1994? Bagaimana Anda menghibur Roberto Baggio setelah ia gagal penalti di Final? –Johnson Neil, via Twitter.

Bersama dengannya selama tiga tahun adalah pengalaman yang sangat bagus. Saya belajar metodologi pelatihan, dan juga tentang berbagai strategi dan bagaimana memfokuskan diri pada detil-detil kecil. Saya tidak berbicara dengan Baggio setelah Final, karena apa yang bisa Anda katakan padanya? Dua penendang penalti terbaik kami adalah dirinya dan Baresi, dan keduanya gagal. Ini semua seperti lotere; situasi yang dihadapi lebih berhubungan dengan mental, bukan secara teknis.

Mengapa para fans Juventus tidak menyukai Anda saat menjadi manajer di sana? Apakah ini terasa seperti balas dendam saat Anda mengalahkan mereka di Final Liga Champions tahun 2003 bersama Milan? –Nick Gove, Battersea.

Masalah dengan saya dan fans Juventus adalah saya sebelumnya pernah bermain untuk Milan dan Roma, dan mereka tidak menyukainya. Pada tahun 80an, ada rivalitas yang sangat besar antara Juventus an Milan –keduanya selalu bersaing untuk meraih gelar juara- dan sebelumnya di tahun 1983 saya menjadi bagian dari Roma yang mengalahkan Juventus dalam persaingan meraih gelar Scudetto. Dan tim Juventus yang hebat juga, dengan Platini, Boniek, Gentile, Scirea, dan Zola. Saya tidak akan menyebutnya balas dendam, tapi memang rasanya aneh bermain di Final Liga Champions menghadapi tim yang belum lama memecat saya. Tapi itu adalah pertama kalinya saya memenangi Liga Champions sebagai manajer, jadi emosi yang muncul bukanlah dendam –hanya kebahagiaan.

Penyesalannya adalah saya seharusnya bisa memenangi lebih banyak gelar bersama Milan karena saya memiliki skuat yang fantastis. Kami tampil baik di Liga Champions, bermain di tiga final dan memenangi dua gelar, tapi ya, kami seharusnya memenangi lebih banyak gelar Liga.

Anda memenangi gelar Liga Champions lebih banyak dibandingkan gelar Serie A: tiga berbanding satu. Apakah menjadi sebuah penyesalan sendiri karena Anda tidak memenangi lebih banyak gelar? –James Burgett, Pisa.

Iya, sedikit, karena di Milan saya memiliki peluang untuk memenangi lebih banyak gelar, tapi di banyak sekali waktu kami hanya berakhir di posisi kedua. Saya juga harus puas dengan posisi kedua bersama Parma di tahun 1997. Penyesalannya adalah saya seharusnya bisa memenangi lebih banyak gelar bersama Milan karena saya memiliki skuat yang fantastis. Kami tampil baik di Liga Champions, bermain di tiga final dan memenangi dua gelar, tapi ya, kami seharusnya memenangi lebih banyak gelar Liga.

Bagaimana Anda menjelaskan kekalahan di Final Liga Champions tahun 2005 dari Liverpool setelah unggul 3-0 di Half Time? Bisakah Anda melakukan hal yang berbeda untuk menghentikan kebangkitan luar biasa mereka di Istanbul? –Lance Baumatan, London.

Saya cukup sering melihat kembali ke kejadian ini, tapi saya rasa tidak ada hal yang bisa saya lakukan dengan berbeda. Semuanya tentang enam menit dalam pertandingan. Kami bermain selama 114 menit, Liverpool bermain selama enam menit. Itulah kebenarannya. Sebuah pertandingan yang sangat aneh. Anda tahu, saya membawa tim Milan ini ke tiga Final Liga Champions dan tahun 2005 sebenarnya adalah penampilan terbaik kami –tapi itulah satu-satunya pertandingan yang kami kalah! +

[FFT: Apakah para pemain anda sudah merayakan kemenangan di half time? Apakah mereka merasa sudah menang?] Tidak. Tidak. Ini semua omong kosong. Omong kosong! Kami sangat senang karena bermain fantastis di babak pertama, tapi kami tahu persis masih ada satu babak lagi untuk dimainkan. Bahkan saat skor 3-3 kami seharusnya bisa menang di menit terakhir saat [Andriy] Shevchenko memiliki peluang  di depan gawang, namun [Jerzy] Dudek menghentikannya.

Steven Gerrard, Rafael Benitez

Kenangan yang ingin dilupakan oleh Ancelotti, final Liga Champions 2005