Casemiro Sang Pahlawan: 4 Pelajaran Penting dari Barcelona 1-2 Real Madrid

El Clasico akhir pekan kemarin dianalisis menggunakan Stats Zone...

Lee Roden berada di Camp Nou untuk menganalisis pertandingan ini menggunakan aplikasi pemenang penghargaan kami...

1. Luis Enrique benar-benar bereksperimen

Keunggulan 10 poin Barcelona atas Real Madrid sebelum kick-off membuat Luis Enrique pasti tergoda untuk melakukan sesuatu yang normalnya tidak ia lakukan di laga seperti ini, dan lelaki Asturia ini menggunakan kesempatannya dengan mengubah posisi para pemainnya.

Perubahan sang manajer dimulai di lini belakang. Selama sekitar satu jam, Jordi Alba diinstruksikan untuk lebih berhati-hati secara pergerakan, dengan pemain Catalan ini jarang berlari ke depan dan membiarkan Neymar dan Andres Iniesta untuk bergantian melakukan serangan dari sayap. Di depan, Lionel Messi tidak memulai laga dari posisi biasanya di sisi kanan, tetapi lebih masuk ke dalam sebagai gelandang, terkadang juga lebih turun ke belakang bersama Sergio Busquets, dan dalam lain kesempatan maju ke depan. Luis Suarez berlari di sisi, dengan memvariasikan pergerakannya antara menghadapi bek tengah lawan dan bermain melebar ke kanan, di mana Messi normalnya berada. 

Selama 20 menit pertama, Barça terlihat membuat Madrid kesulitan: superioritas jumlah mereka di tengah lapangan terlihat jelas, dengan Messi membantu memberikan tambahan opsi umpan ke siapapun yang membutuhkannya, dan tim tandang kesulitan untuk mencuri bola untuk melakukan serangan balik. Namun seiring berjalannya waktu, tim asuhan Zidane terlihat lebih tenang dan nyaman, dan sisi kiri Barça jelas jadi kelemahan, dengan Gareth Bale sering mendapatkan ruang di zona Jordi Alba.   

Tuan rumah pun akhirnya kehilangan kontrol pertandingan, dan meski ada fase permainan di mana posisi sentral Messi membantu Barça mendominasi tengah lapangan, posisinya yang terlalu jauh dari area lawan mengurangi ancamannya, yang mana bukanlah hal positif. Memainkan sang No. 10 di sisi kanan sepertinya masih menjadi opsi terbaik untuk sang juara bertahan.

2. Casemiro membuktikan kepantasannya

...dan Zidane membuktikan ia akan membayar kerja kerasnya.

Banyak yang mengomentari keputusan Rafa Benitez untuk tak memainkan Casemiro di Clasico sebelumnya, dan ketika Zinedine Zidane memutuskan untuk memberikan kesempatan di Camp Nou, sang pemain tahu ia bisa membuktikan sesuatu. Sang gelandang jangkar tampil menonjol dalam beberapa kesempatan, dan menunjukkan perbedaan besar pada soliditas struktural Madrid dengan melakukan beberapa intervensi penting untuk mencuri bola dari Neymar, Lionel Messi, dan Iniesta untuk melindungi timnya dari serangan balik cepat. Tidak perlu seorang jenius untuk menunjukkan ada hubungan antara gelandang bertahan alami dengan memiliki soliditas defensif yang lebih baik, tetapi berbeda saat melakukannya secara langsung, dan pemain berusia 24 tahun ini berhasil bersinar.

Zidane memuji peran Casemiro dalam kemenangan ini adalah "vital", dan penampilan menjanjikan sang pemain pvot akan memperkuat argumen sang manajer ketika harus menghadapi tekanan Florentino Perez untuk hanya memainkan para pemain bintang. Pelatih asal Perancis ini jelas sangat terbuka dengan memberikan ganjaran atas kerja keras pemainna: ia kemudian membuktikannya lebih jauh dengan memainkan Jese dan Lucas Vazquez sementara Isco dan James Rodriguez duduk di bench. Gol Zizou yang memenangkan La Novena di Hampden lebih dari satu dekade lalu membuatnya sebagai Galactico paripurna, namun ironisnya, sang Galactico sepertinya malah menjadi pelatih yang akhirnya mampu menghancurkan meritokrasi di Madrid, dengan tidak memilih timnya pada Sabtu lalu berdasarkan label harga para pemainnya, tetapi sesuai dengan kemampuan mereka. Dan mungkin ini akan berdampak jangka panjang.