Cerita Perjalanan Son Heung-min Dari Korea Menuju Jerman

Pemain Korea Selatan, Son Heung-min, telah menghabiskan sepertiga hidupnya di Jerman. Bintang Bayer Leverkusen berbincang dengan Uli Hesse dan membahas apa rasanya menjadi seperti warga lokal, mempelajari kata-kata umpatan dalam bahasa Jerman dan mengapa Bundesliga lebih baik daripada Liga Primer Inggris.

Selain memuncaki daftar 50 pemain terbaik Asia versi FourFourTwo, anda juga dinobatkan sebagai pemain terbaik tahun ini oleh Asosiasi Sepakbola Korea. Seberapa penting penghargaan individu seperti untuk seseorang yang memainkan olahraga tim seperti sepakbola?
 
Ini sesuatu yang sangat istimewa, karena biasanya hal itu tidak sering terjadi dalam karir pemain. Saya sangat senang mengetahui bahwa saya telah memenangkan penghargaan spesial ini, karena ada begitu banyak pemain Asia yang hebat. Tentu saja memenangkan trofi dengan tim anda adalah apa yang kami coba lakukan, tapi setiap pemain bahagia dengan penghargaan seperti ini.
 
Hanya beberapa bulan yang lalu ketika anda nyaris memenangkan trofi (Piala Asia) dengan tim nasional. Di mana anda melihat posisi Korea Selatan di dunia internasional?
 
Itu sulit untuk dikatakan. Piala Dunia tahun lalu sangat mengecewakan. Sebagai pemain, anda hidup untuk turnamen besar seperti itu dan tentu saja itu adalah pengalaman besar bagi kami semua. Tapi finish sebagai tim di dasar grup bukanlah hal yang kami harapkan. Hal ini terjadi, kami manusia. Saya masih berpikir kami memiliki masa depan yang bagus di hadapan kami, dengan banyak pemain muda datang dan pelatih baru sejak September lalu, pria asal Jerman, Uli Stielike. Kami belajar banyak darinya. Kami hanya harus menunggu dan melihat apakah kami bisa melangkah ke tingkat berikutnya.

Eropa adalah tempat tujuan anda bermain melawan pemain terbaik dan tim terbaik"

Apakah itu kekecewaan besar lainnya saat Korea kalah di final Piala Asia atau anda merasa bahagia bahwa tim bisa menebus performa buruk di Piala Dunia?
 
Sejujurnya, keduanya lumayan tepat. Kami semua bersemangat untuk Piala Asia karena (performa buruk di) Piala Dunia dan kami sangat ingin memenangkan gelar ini, karena itulah selalu menjadi tujuan anda sebagai seorang atlet. Jika anda tidak ingin menjadi yang teratas, mengapa harus ambil bagian? Jadi dalam persiapan menuju turnamen, saya berharap kami bisa menang. Tapi saya tidak berpikir kami adalah favorit untuk mencapainya. Kami memiliki beberapa masalah di dua pertandingan pertama, tapi kemudian kami tampil dengan sangat baik.
 
Anda datang ke Eropa ketika anda baru berusia 16 tahun dan tentu saja itu ternyata menjadi langkah karir yang sangat baik. Tetapi ketika anda bertemu dengan tim nasional hari ini, apakah anda kadang-kadang berpikir anda sudah melewatkan sesuatu? Seperti tumbuh di rumah dan memiliki teman-teman di luar sepakbola?
 
Memang benar bahwa saya masih sangat muda, tapi saya ingin membuat mimpi saya menjadi kenyataan. Ya, saya bisa bermain di rumah dan K-League (Liga Korea) adalah liga yang bagus. Tapi untuk pemain sepakbola, Eropa adalah tempat tujuan anda bermain melawan pemain terbaik dan tim terbaik. Tidak pernah ada momen saya meragukan atau menyesali keputusan saya. Juga, saya tidak berpikir saya akan memiliki teman-teman di luar sepakbola jika saya tetap tinggal di Korea. Di rumah, saya tidak pernah punya waktu untuk bertemu seseorang di luar sepakbola, karena saya berlatih sepanjang waktu. Dan itu tidak berubah di sini, di Jerman. Ketika saya masih di tim muda Hamburg, saya bergaul dengan rekan-rekan saya dan sellau seperti itu. Anda bisa mengatakan satu-satunya orang yang saya kenal adalah pemain atau orang yang bekerja di sepakbola. Tapi, saya tidak keberatan. Ada banyak orang yang menarik di sepakbola.

Anda pergi ke Hamburg bersama dengan dua remaja Korea lainnya, yang gagal melangkah. Apakah anda tahu di mana mereka hari ini?
 
Mereka bermain di Jepang. Salah satunya di divisi pertama, yang lain di divisi kedua. Saya benar-benar tidak tahu mengapa saya berhasil di sini dan mereka tidak. Saya kira saya hanya berkeinginan besar sehingga akhirnya berhasil melangkah Sejujurnya, saya tidak benar-benar tahu bagaimana saya berhasil beradaptasi di Jerman di usia 16 tahun. Tentu saja saya agak takut.
 
Bahasa Jerman anda sangat bagus. Ketika anda berada di Hamburg, apakah klub merencanakan pelajaran bahasa untuk anda dan dua pemain lain?
 
Ya, mereka memiliki seorang guru untuk kami dan saya sangat rajin selama tahun pertama. Itu sulit, karena Jerman benar-benar berbeda dari Korea. Saya kira hari ini saya tidak akan memiliki kesabaran dan tekad untuk belajar begitu intens, tapi pada usia 16 tahun, saya seperti itu. Dan saya belajar sangat cepat. Saya tidak tahu mengapa, itu hanya begitu mudah untuk saya.

Ketika saya tidak latihan atau bermain, anda dapat menemukan saya di rumah, menonton film Korea"

Apa kata Jerman pertama yang anda pelajari?
 
Itu adalah kata sumpah serapah. Sebelum saya meninggalkan Korea, saya diberitahu bahwa pemain yang pindah ke luar negeri harus terlebih dahulu mempelajari kata-kata umpatan. Alasannya adalah bahwa anda tidak dapat membiarkan orang-orang menanggil nama anda, sementara anda hanya melihat mereka, tersenyum sopan, karena anda tidak tahu apa yang mereka katakan. Ternyata itu menjadi nasihat yang sangat berguna.
 
Anda sudah berada di Jerman selama tujuh tahun sekarang, hampir sepertiga dari hidup anda. Apakah anda merasa setengah Jerman, setengah Korea?
 
Oh tidak, tidak! Saya berbicara dalam bahasa Jerman cukup bagus dan saya mulai menyukai makanan Jerman. Ini adalah negara besar dan tempat yang baik untuk hidup, tapi saya orang Korea selamanya. Ketika saya tidak latihan atau bermain, anda dapat menemukan saya di rumah, menonton film Korea.

Apakah itu yang anda lakukan di waktu luang anda - menonton film?
 
Iya. Saya tidak memiliki hobi tertentu.
 
Bagaimana dengan golf?
 
Semua orang memberitahu saya betapa luar biasanya golf dan bahwa saya harus mempelajarinya, tapi saya pikir itu bukan permainan untuk saya. Ini akan membuat saya gila. Anda harus sering berdiri, tanpa melakukan apapun. Saya tertarik golf karena itu besar di Korea dan kadang-kadang saya melihatnya di televisi. Tapi bermain? Anda memukul bola sejauh yang anda bisa dan kemudian anda mencarinya. Itu membosankan. Saya lebih suka tinggal di rumah, bersantai dan mendengarkan musik. Itulah juga mengapa saya tidak bisa bercerita banyak tentang kota ini, Leverkusen. Saya hanya berkendara dari rumah saya ke tempat latihan dan kembali pulang.
 
Mengapa anda meninggalkan Hamburg demi Leverkusen?
 
Alasannya adalah bahwa saya ingin bermain di Eropa. Di Hamburg, kami gagal lolos ke Liga Europa, apalagi Liga Champions. Tapi Bayer memiliki kualitas untuk mencapai hal ini. Dan seperti yang anda lihat, saya membuat keputusan yang tepat. Klub telah mencapai Liga Champions dua musim berturut-turut dan saya sangat merasa seperti di rumah di sini.

Anda tidak bisa menjadi pemain yang bagus tanpa berlatih hal-hal kecil, dasar-dasar penting, lagi dan lagi"

Apakah orang-orang di rumah, di Korea, kurang tahu soal Leverksusen?
 
Oh ya. Cha Bum-kun bermain di sini, sehingga orang-orang di Korea akrab dengan klub ini. Dan saya pikir mereka tahu di mana kota ini. Tepat di sebelah Cologne dan dekat Düsseldorf (tertawa).
 
Seberapa penting ayahmu, mantan pemain Son Woong-jun, untuk karir anda?
 
Tanpa dia, saya tidak akan duduk di sini sekarang, menerima penghargaan dan berbicara dengan anda. Dia adalah orang yang mendorong saya dan yang terus mengatakan padaku apa yang perlu saya lakukan untuk lebih baik, bahkan selama tahun pertama saya sebagai seorang profesional. Ketika saya masih kecil, ia berlatih dengan saya, setiap hari. Dua sesi per hari. Biasanya kami akan fokus pada teknik saya, menguasai bola dengan kedua kaki dan sebagainya. Itu tidak selalu mudah bagi saya, karena dia tidak pernah mengizinkan saya untuk melewatkan salah satu sesi tersebut. Tapi dia tahu banyak tentang sepak bola, sehingga itu menjadi latihan yang bagus. Dan melihat ke belakang sekarang saya harus mengatakan bahwa saya berutang itu padanya. Anda tidak bisa menjadi pemain yang bagus tanpa berlatih hal-hal kecil, dasar-dasar penting, lagi dan lagi.

Ada saat ketika karir anda menggantung, bukan begitu? Setelah tahun pertama di U-17, Hamburg tidak menawarkan perpanjangan kontrak. Ada apa dengan itu?
 
Sejujurnya, saya tidak tahu. Kontrak saya adalah satu tahun dengan tim U-17, tim B muda, sebutannya di Jerman. Pada akhir musim, saya tidak ditawari kontrak baru. Saya sangat ingin tinggal di Eropa, karena saya pikir bahwa jika saya kembali ke rumah, saya tidak akan pernah mendapatkan kesempatan kedua. Jadi saya pergi ke beberapa uji coba. Saya menjalani satu kali dengan klub Jerman Bochum, yang kemudian promosi ke Bundesliga. Saya juga pergi ke Inggris dan memiliki uji coba di Blackburn Rovers dan Portsmouth. Lalu saya bermain di Piala Dunia U-17 dan tampil cukup bagus. Tiba-tiba Hamburg menawarkan kontrak baru setelah semua itu saya lalui. Saya bisa pergi ke Inggris pada saat itu, tapi saya tidak mau. Saya tidak berbicara bahasa Inggris - masih tidak, sebenarnya - dan saya agak cemas untuk mulai dari awal lagi. Jadi, saya kembali ke Hamburg.
 
Apakah Inggris pilihan untuk masa depan? Banyak pemain Asia yang berusaha pindah ke Liga Primer Inggris, karena begitu besar dan populer di Asia.
 
Itu benar, ya. Liga Primer Inggris begitu besar dan sebagian besar warga Korea mendukung tim Inggris. Tapi saya pikir Bundesliga adalah liga terbaik di dunia saat ini. Orang mengatakan bahwa Liga Primer sangat kompetitif dan bahwa setiap tim bisa mengalahkan setiap tim lainnya. Tapi ketika anda melihat klasemen, tim di posisi empat atau lima teratas selalu sama saja. Sekarang lihat klub seperti Borussia Dortmund di sini di Jerman. Mereka berada di final Liga Champions pada tahun 2013. Kemudian mereka finis di belakang Bayern pada 2014. Tapi kembali pada bulan Februari mereka tiba-tiba di tempat terakhir di Bundesliga! Bagi saya, Bundesliga adalah liga yang paling menarik dan semakin banyak orang di Asia tertarik, karena kami sekarang memiliki banyak pemain Asia di Bundesliga.
 
Siapa, menurut pendapat anda yang merupakan pemain terbaik Asia sepanjang masa?
 
Saya orang Korea, jadi biarkan saya bicara tentang pemain Korea saja. Dia bermain sudah sangat lama dulu, jadi mungkin ada beberapa orang yang membaca ini yang tidak mengingatnya, tapi Cha Bum-kun adalah legenda dan idola. Dia sangat terkenal di Korea tapi juga di sini, di Jerman, karena dia bermain untuk Leverkusen dan Frankfurt. Untuk generasi saya, Park Ji-sung adalah pahlawan lain, sebuah inspirasi.
 
Anda juga berada di jalan yang bagus untuk menjadi legenda.
 
Saya tidak tahu, mari kita lihat. Saya masih muda. Saya masih punya waktu untuk mencapai sesuatu.

Simak yang lain di #FFTAsia50

FourFourTwo 50 Pesepakbola Asia Terbaik bekerjasama dengan Samsung SportsFlow - memberikan Anda liputan olahraga terlengkap dalam satu aplikasi. Unduh dan temukan lebih banyak lagi di www.sportsflow.me