Claudio Ranieri: Lelaki Tua yang Terus Menjadi Korban Modernitas Sepakbola

Ketika palu pemecatan dijatuhkan Leicester City kepada Claudio Ranieri baru-baru ini, media ternama Italia, Gazzetta dello Sport, langsung memuat judul “Inglesi Ingrati” di cover depan koran terlaku Negeri Pizza. Makna dari bahasa itu dalam bahasa Inggris adalah “Ungrateful English” atau dalam bahasa Indonesia, Inggris yang tidak tahu terima kasih.

Tentu, ada tendensi Italia dan Inggris dalam pemilihan judul itu. Namun dua kata itu sudah merepresentasikan dengan jelas bagaimana sepakbola di era modern saat ini. Trofi yang jadi tuntutan mutlak, tak lagi dapat memberi jaminan seorang manajer atau pelatih bertahan lama di satu klub. Ranieri mengukir sejarah terhebat sepakbola dunia dengan membawa Leicester juara Premier League 2015/16, lalu dipecat di musim berikutnya.

Ranieri (65 tahun) yang rendah hati, humoris, dan disukai media di Inggris pun harus menerima fakta pahit bahwa ia harus dipecat (lagi). Sudah lebih dari sekali pria kelahiran Roma ini merasakan pahitnya dipecat oleh manajemen klub sejak memulai karier kepelatihan pada 1986.

Bagaimana Ranieri menghadapi pemecatan dari bos Leicester yang berasal dari Thailand? Senyum dan tetap rendah hati. Ranieri tahu mimpinya telah berakhir bersama Leicester dan mungkin, dia sudah sadar bahwa beginilah sepakbola saat ini. Ancaman pemecatan bisa terjadi kepada siapa pun.

“Kemarin, mimpi saya mati. Pasca euforia musim lalu dan menjadi juara Premier League, segala mimpi saya tetap tinggal di Leicester City, klub yang saya cintai, selalu. Rasa terima kasih saya tulus untuk semuanya di klub, pemain, staff, semua yang ada di sana dan menjadi bagian hal yang telah kita raih bersama, terutamanya suporter,” tutur Ranieri.

"Kemarin, mimpi saya mati."

Sulit untuk tidak membela Ranieri dalam hal ini dan kebanyakan kolega hingga mantan pemain yang pernah diasuhnya, sepakat mengecam pemecatan ini. Namun, sejatinya, mereka juga paham betapa kejamnya realita di sepakbola modern, di mana tren minor beruntun bisa membuat apa yang sudah diberi manajer untuk klub di musim sebelumnya terlupakan begitu saja.

Sulit untuk tidak membela Ranieri dalam hal ini dan kebanyakan kolega hingga mantan pemain yang pernah diasuhnya, sepakat mengecam pemecatan ini. Namun, sejatinya, mereka juga paham betapa kejamnya realita di sepakbola modern

Jose Mourinho, Jurgen Klopp, Gianluigi Buffon, Antonio Conte, merupakan beberapa nama besar yang mendukung Ranieri. Seorang Mourinho yang dahulu pernah mengejek Ranieri kala keduanya bertemu di Italia, sampai mengenakan baju bertuliskan logo CR (Claudio Ranieri) sebagai tanda respek. Sementara Buffon gagal paham bagaimana sepakbola saat ini.

“Sulit memahami keputusan ini. Faktanya, saya tak yakin keputusan ini dapat dipahami siapa pun di dunia sepakbola. Apa yang ia raih musim lalu bukan sekedar cerita besar di Premier League, tapi juga sepakbola secara menyeluruh. Tentu saja sepakbola adalah industri yang dilihat dari hasil-hasil akhir, tapi dengan segala yang ia raih, seharusnya dia diberi kesempatan untuk mengubah performa di liga,” terang Buffon yang pernah dilatih Ranieri pada periode 2007-2009.

Ironi, hidup ini memang penuh ironi yang tidak terduga. Ranieri ibaratnya seorang sutradara yang menumpahkan seluruh gagasannya dalam bentuk sebuah karya film, namun pada akhirnya Piala Oscar justru jatuh kepada sutradara lainnya, yang lebih baik darinya di genre film yang sama.

Jasa-jasa Ranieri dalam membangun identitas sebuah tim atau membentuk skuat bisa dikategorikan baik. Tapi, mengapa ia lebih sering mengalami nestapa pemecatan? Nasibnya tak pernah berjalan baik di satu klub.

The Tinkerman

Nama yang selalu disematkan kepada Ranieri oleh banyak media sebagai kata ganti dalam sebuah berita atau artikel. Bisa jadi Ranieri kesal jika tahu julukan itu digunakan banyak media di dunia sebagai pengganti namanya. Sebab, The Tinkerman itu bukan seperti julukan-julukan normal seperti The Special One, The Normal One, dan lainnya.

Julukan itu diberikan oleh media Inggris kala ia melatih Chelsea pada periode 2000-2004, merujuk kepada sistem rotasinya yang berlebihan, bahkan cenderung radikal mengubah taktik besar-besaran dari satu laga ke laga berikutnya. Hal itu terus dilakukan Ranieri di Chelsea, Juventus, Roma, dan Valencia.